Breaking News
  • Bos First Travel Andika Divonis 20 Tahun, Istrinya 18 Tahun
  • Dolar AS Melambung, Harga Premium dan Solar Tak Naik Tahun Ini
  • Hendropriyono: TNI/Polri Jangan Takut Tegakkan Hukum
  • JK: Eks Koruptor Dilarang Nyaleg Agar Wibawa DPR Baik
  • Jonan Targetkan Akuisisi Saham Freeport Rampung Juni

KOLOM Catatan Kaki Soekarno 01 Jun 2018 11:28

Article image
Proklamator kemerdekaan dan penggali Pancasila, Soekarno. (Foto: Ist)
Reduksi yang tidak benar terhadap Pancasila selalu membawa bangsa ini terjerumus ke dalam lembah ketidakadilan.

Oleh Sintus Runesi

SAYA pernah ditanya, bisakah kita mengubah Pancasila? Saya jawab, ubah urutan penempatan kelimanya, ya. Tapi isi dari setiap rumusannya, tidak bisa. Alasannya, kelima sila itu adalah abstraksi paling tinggi, dan karena paling tinggi, maka mampu memeluk semua perbedaan yang ada. Isi kelima sila itu universal: semua dari semua.

Setiap bentuk gubahan hanya berarti reduksi tidak benar atas Pancasila. Menambahkan kembali ketujuh kata yang telah dihapus hanya berarti sebuah reduksi yang tidak tepat. Atau mengganti dengan ideologi lain seperti HTI misalnya, sekalipun merangkum banyak orang. Menambah ketujuh kata itu atau menggantinya dengan ideologi lain, hanya akan merangkum sebagian (semua dari sebagian), dan karena itu tidak cocok di Indonesia.

Nah, rumusan Pancasila yang kita miliki sekarang, adalah hasil permenungan seorang filsuf. Namanya Soekarno. Rumusannya atas kelima sila itu merupakan abstraksi tertinggi yang pernah dicapai manusia Indonesia dalam arus pemikiran Nusantara. Dari abstrak turun ke praksis atau pelaksanaannya, selalu ada reduksi. Dalam arti itu, reduksi adalah sesuatu yang baik.

Namun, tidak semua cara dan hasil reduksi itu benar dan tepat. Kalau kita balik menelisik sejarah perjalanan Pancasila sebagai ideologi, lebih banyak kita temukan reduksi yang tidak benar dan tidak sehat.

Reduksi yang tidak benar terhadap Pancasila selalu membawa bangsa ini terjerumus ke dalam lembah ketidakadilan. Bahkan, reduksi yang tidak benar itu menghasilkan hoax terbesar sepanjang sejarah Indonesia modern dengan semua akibatnya: peristiwa 65.

Pada akhirnya, semua refleksi kita tentang Pancasila tidak lain adalah catatan kaki dalam pemikiran Soekarno.

*Sintus Runesi, Lulusan Pascasarjana Filsafat UI

Komentar