Breaking News

BERITA Cegah Covid-19, PELNI Hentikan Sementara Pelayaran ke NTT dan Papua 14 Apr 2020 11:09

Article image
Konferenai Pers Dinas Perhubungan Provinsi NTT. (Foto: Victorynews.com)
"Khusus daerah Lembata, Flores Timur, dan Maumere, Kapal Pelni untuk sementara menghentikan operasinya," ungkap Isyak.

KUPANG, IndonesiaSatu.co-- Pihak pemerintah Provinsi (Pemprov) Nusa Tenggara Timur (NTT) merespon dampak penyebaran Virus Corona (Covid-19) melalui moda transportasi laut.

Hal itu dilakukan dengan menyurati pihak PT. Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) guna mengurangi dan melakukan pembatasan terhadap 11 kapal Pelni untuk masuk ke wilayah NTT.

Kepala Dinas Perhubungan NTT, Isyak Nuka mengaku telah bersurat ke Direktur Utama PT. Pelni untuk mengurangi dan melakukan pembatasan 11 kapal Pelni untuk masuk ke NTT, Jumat (10/4/2).

Isyak mengatakan bahwa untuk sementara Pelni juga tidak akan memuat calon penumpang yang berusia 60 tahun, jika tidak menyerahkan surat sehat dari fasilitas kesehatan.

"Khusus daerah Lembata, Flores Timur, dan Maumere, Kapal Pelni untuk sementara menghentikan operasinya," ungkapnya seperti dilansir victorynews.com.

Isyak mengatakan pihaknya juga telah menyurati operator kapal Ferry yang intinya melarang membawa penumpang dan hanya boleh membawa logistik.

“Ini adalah kebijakan yang dilakukan Dishub NTT sambil megikuti perkembangan Covid-19 seperti apa untuk selanjutnya dievaluasi kapal Feri kita,” jelas Isyak.

Sementara Kepala PT. Pelni Cabang Ende, Selamat Yanuardi menyatakan bahwa pelayaran kapal milik Pelni tujuan dari dan atau ke Ende diberhentikan sementara waktu.

Pemberhentian dimaksud bertujuan untuk menekan lajunya wabah virus corona SARS-Cov-2 atau Covid-19 masuk ke wilayah Ende.

Yanuardi menginformasikan bahwa pihaknya telah menerima surat dari Direktur Angkutan Penumpang PT. Pelayaran Indonesia, O.M Sodikin tentang penghentian pelayaran kapal milik Pelni terutama KM Awu ke Ende dan wilayah NTT umumnya.

Dalam surat itu dikabarkan, KM Awu akan menjalani portstay atau melabuhkan kapal di Surabaya, Jatim, hingga 26 April 2020 mendatang.

Yanuardi menerangkan, pemberhentian pelayaran Pelni berlaku di seluruh wilayah di NTT dengan mempertimbangkan penutupan pelabuhan dan pembatasan penumpang ber-KTP dengan daerah tujuan NTT.

Selain itu, pemberhentian pelayaran dilakukan demi efisiensi operasional kapal, rasionalisasi jumlah penumpang dan pengiriman barang pada masa karantina wilayah akibat Covid-19.

Dengan informasi itu, maka pihak Pelni Ende akan menutup penjualan tiket.

“Ya, kami sudah dapat surat dan pemberhentian ini memang dilakukan untuk NTT. Jadi untuk sementara kita juga berhenti penjualan tiket,” kata Yanuardi seperti dilansir dari VoxNtt.com, Senin (13/04/20).

Ia menegaskan, pihaknya tetap menginformasikan ke publik jika ada instruksi pusat tentang pelayaran kapal milik Pelni.

“Pemberhentian sementara waktu. Jadi kami menunggu instruksi dari pusat, jika ada informasi baru, akan disampaikan ke publik,” terangnya.

Papua dan Wilayah Lain 

Selain NTT, beberapa wilayah lain yang juga menutup akses moda transportasi laut tersebut antara lain Jayapura, Timika, Agats, Merauke, Nabire, Biak, Serui, Sorong, Manokwari, Kaimana, Fakfak, Wasior, Saumlaki, Namrole, Sanana, Dobo, Batulicin, Bontang, Waingapu, Blinyu, Tanjung Pandan, Awerange, Bitung, Letung, dan Tarempa.

Penutupan itu berdampak pada operasional kapal penumpang milik Pelni, di antaranya beberapa kapal penumpang yang terdampak, yakni KM Dobonsolo, KM Ciremai, KM Nggapulu, KM Dorolonda, KM Dempo, KM Labobar, KM Sinabung, KM Tidar, KM Leuser, KM Tilongkabila, KM Tatamailau, KM Sirimau, KM Bukit Raya, KM Lawit, KM Kelimutu, KM Pangrango, KM Sangiang, KM Egon serta KM Binaiya.

“Hingga kini, kapal kami diperbolehkan bersandar hanya untuk kebutuhan bongkar muat barang untuk sembako dan kargo, tetapi tidak untuk aktivitas naik turun penumpang. Demi keamanan bersama, Pelni mematuhi kebijakan yang berlaku,” ucap Yahya.

Yahya mengatakan bahw penutupan sejumlah daerah tidak hanya berpengaruh pada kapal penumpang, tetapi juga kapal perintis.

"Oleh karena itu, Pelni terus melakukan koordinasi dengan Kementerian Perhubungan untuk mencari alternatif rute dan kegiatan operasional agar bisa berjalan normal," ungkapnya.

Diketahui, pemerintah baru saja menerbitkan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 18 Tahun 2020 tentang Pengendalian Transportasi Dalam Rangka Pencegahan Penyebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

Dalam aturan itu, pemerintah membatasi jumlah penumpang yang bisa diangkut oleh seluruh transportasi, yakni hanya 50 persen dari total kursi yang tersedia. Ini berlaku bagi kapal, pesawat udara, bus, kereta api, hingga mobil pribadi. 

--- Guche Montero

Komentar