Breaking News

KESEHATAN Cegah Stunting di NTT, Para Pemangku Kepentingan Galang Komitmen Bersama 19 Sep 2019 19:17

Article image
Usai gelar diskusi, Wagub NTT dan para pemangku kepentingan berpose bersama. (Foto: MedikaStar.com)
"Jika kita masih pakai mental lama, maka sampai kapan pun stunting ini tidak teratasi,” ungkap Nae Soi.

KUPANG, IndonesiaSatu.co-- Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), belakangan terus mencatat peningkatan angka drastis terkait stunting. Guna mencegah dan menanggulangi permasalahan ini, dibutuhkan kerja bersama lintas sektor, baik pemerintah, swasta, para tokoh Agama, para tokoh adat, serta berbagai pemangku kepentingan (stakeholders) lainnya.

Hal tersebut merupakan salah satu poin penting yang diangkat dalam Forum Diskusi Penggalangan Komitmen Pemangku Kepentingan dalam Pencegahan dan Penanganan Stunting di Provinsi NTT yang digelar di Hotel New Sasando, Senin (16/9/19).

Hadir dalam acara ini Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi; Ketua TP PKK NTT, Julie Sutrisno; Kepala Bappelitbangda NTT, Lecky Frederich Koli; Kepala Dinas Kesehatan NTT, drg. Dominikus M. Mere, M.Kes; Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa, Sinun Petrus Manuk; para tokoh agama, pengusaha, pimpinan LSM, pimpinan universitas, dan undangan lainnya.

Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi dalam kesempatan itu mengatakan bahwa jika sudah ada data mengenai balita stunting di sebuah wilayah, maka semua pihak terkait harus ‘keroyokan’ untuk menanggulangi stunting di wilayah tersebut dari semua sisi.

“Khusus untuk permasalahan stunting, ada uang, langsung eksekusi ke masyarakat. Jangan habiskan waktu lagi dengan rapat atau seminar. Mari kita kerja sama dengan seluruh stakeholder dari tokoh agama, LSM, tokoh masyarakat dan elemen lain. Jika kita terus kerja sama, pasti stunting ini bisa teratasi. Namun, jika kita masih pakai mental lama, maka sampai kapan pun stunting ini tidak teratasi,” ungkap Nae Soi seperti dilansir MedikaStar.com.

Sementara pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Kesehatan NTT, drg. Dominikus dengan penuh optimisme mengatakan bahwa permasalahan stunting di NTT dapat teratasi apabila seluruh pihak bekerja sama mengatasinya.

“Kalau saat ini ada peran serta stakeholders, tokoh agama, para pengusaha, termasuk dukungan yang besar dari PKK, maka kita memang harus optimis bahwa stunting ini pasti menurun, karena kita lakukan secara bersama-sama,” katanya optimis.

Ia mengatakan hal itu, pasalnya untuk permasalahan stunting, sektor kesehatan hanya memiliki pengaruh sebesar 30 persen. Sementara 70 persen lainnya merupakan pengaruh dari sektor lainnya.

Menurutnya, Dinas Kesehatan sudah bertanggung jawab pada hal-hal yang menjadi tanggung jawab pihaknya, antara lain melakukan intervensi spesifik pada semua lini.

“Misalnya kami harus pastikan seluruh ibu hamil mendapatkan suplemen zat besi. Kami juga memastikan bahwa seluruh ibu hamil memperoleh makanan tambahan. Kemudian promosi dan konseling untuk pemberian ASI ekslusif juga selalu diberikan. Lalu kita juga bergerak untuk imunisasi, penanganan kecacingan, dan sebagainya,” paparnya.

Untuk itu, lanjutnya, sektor kesehatan hanya memberikan pengaruh sebesar 30 persen. Di luar itu ada pengaruh sanitasi, perumahan, soal produksi dan ketersediaan pangan di rumah tangga, dan sebagainya. Oleh karena itu, untuk menanggulangi stunting kita semua harus berkolaborasi.

Desa Model Cegah Stunting

Sementara, Ketua Tim Penggerak PKK NTT, Ny. Julie Sutrisno Laiskodat pada kesempatan itu menjelaskan mengenai langkah konkrit yang diambil oleh PKK untuk menanggulangi stunting di NTT.

Langkah yang dilakukan ialah dengan melaksanakan program desa model di setiap kabupaten, di mana di desa model ini dipilih 1 sekolah yang mana nantinya selama 6 tahun seluruh siswa SD di sekolah itu akan diberikan sarapan pagi.

Selain itu, untuk remaja putri yang duduk di bangku SMP dan SMA di desa model atau sekolah yang berada dekat desa tersebut akan diberikan tablet FE atau suplemen zat besi per minggu secara rutin selama 3 tahun.

“Ini akan dijadikan sebagai peraturan di sekolah, sehingga para guru dapat mengawasi para siswa-siswi kita dalam mengkonsumsi tablet FE ini,” katanya.

Usai menggelar diskusi, semua pihak yang hadir dalam kesempatan tersebut langsung menandatangani Komitmen bersama dalam Pencegahan dan Penanganan Stunting di Provinsi NTT. 

--- Guche Montero

Komentar