Breaking News
  • Banjir landa 21 kelurahan di Tebing Tinggi
  • Imigrasi Ngurah Rai beri "exit pass" seminggu bagi wisman
  • Jokowi: Kawasan GBK Harus Jadi Ruang Publik Bagi Masyarakat
  • PVMBG: gas SO2 Gunung Agung menurun
  • Sebanyak 50 ton ikan Danau Maninjau mati

INTERNASIONAL China Lancarkan Kampanye Anti Orang Kristen, Gereja-Gereja Diledakkan 11 Jan 2018 20:57

Article image
Pemerintah China meledakkan Gereja Golden Lampstand di Linfen,Provinsi Shanxi. (Foto: The Guardian)
China menjamin kebebasan beragama hanya di atas kertas, tapi dalam kenyataan otoritas membuat aturan yang sangat ketat soal kehidupan beragama.

LINFEN (CHINA), IndonesiaSatu.co -- Sebuah geraja di China utara diledakkan pekan ini. Ini adalah gereja kedua yang diledakkan kurang dari sebulan, memicu ketakutan adanya kampanye yang lebih luas melawan orang Kristen di tengah persiapan pemerintah memberlakukan undang-undang baru terhadap agama.

The Guardian (11/1/2018) melaporkan, polisi memperketat penjagaan di area Gereja Golden Lampstand di Linfen, Provinsi Shanxi, pada Minggu sebelum para pekerja konstruksi memasang peledak, demikian saksi mata dan pendeta kepala. Setelah ledakan pertama, petugas menghancurkan bagian yang tersisa.

Sebuah gereja Katolik yang terletak di Shaanxi, provinsi tetangga, dilaporkan telah diledakkan bulan lalu, 20 tahun setelah gereja tersebut resmi dibuka.

China menjamin kebebasan beragama hanya di atas kertas, tapi dalam kenyataan otoritas membuat aturan yang sangat ketat soal kehidupan beragama. Gereja harus mendapat izin resmi dan para pendeta/pastor harus mematuhi semua aturan yang dikeluarkan oleh pemerintah.

Sejak 2013 pemerintah sudah mengambil langkah lebih keras terhadap menara salib dan gereja-gereja besar. Aparat berwajib melakukan penyisiran terhadap gereja-gereja di Provinsi Zhejiang yang berlanjut pada tahun 2015. Lebih dari 1.200 menara salib dirubuhkan.

Dalam sebuah laporan kebebasan beragama Amerika Serikat ditemukan bahwa  “pemerintah secara fisik melecehkan, menahan, menangkap, menyiksa, memenjarakan, atau mengganggu, baik  kelompok religus yang terdaftar maupun yang tidak terhadap aktivitas yang berkaitan dengan iman dan praktik keagamaan”.

Seorang pendeta tiba di lokasi setelah gereja Golden Lampstand sudah diledakkan dan menyaksikan para pekerja konstruksi merobohkan beberapa bagian yang masih tersisa. Pendeta meminta agar namanya tidak dipublikasikan karena takut kepada pemerintah.

Di lokasi terlihat ada lebih banyak polisi dibandingkan massa yang menyaksikan dan berdoa dari jarak dekat, kata pendeta.

“Hati saya sedih melihat peledakan dan sekarang saya khawatir lebih banyak gereja lagi yang diledakkan, bahkan gereja saya,” katanya.

“Gereja ini dibangun pada tahun 2008, tidak ada alasan bagi mereka untuk menghancurkannya.”

Gereja The Golden Lampstand dibangun satu dekade yang lalu dengan total biaya 17 juta yuan (1.9 juta pound), demikian menurut pendeta kepala bernama Yang Rongli. Yang Rongli sebelumnya menghabiskan waktu tujuh tahun di penjara dengan tuduhan “mengumpulkan masa yang mengganggu lalu lintas” dan berada di bawah pengawasan kepolisian sejak dibebaskan pada Oktober 2016, demikian China Aid, sebuah  NGO Kristen yang berbasis di AS.

“Saya pikir ini mungkin pola baru melawan kebebasan mendirikan gedung gereja, baik yang sudah dibangun maupn yang baru direncanakan,” kata Bob Fu, pendiri China Aid.

“Ini juga menjadi permulaan untuk menegakkan peraturan baru yang berkaitan dengan agama yang akan berlaku efektif pada Februari nanti.”

Pemerintah merevisi regulasi tentang kelompok keagamaan tahun lalu untuk pertama kalinya sejak 2005.

Gereja lain diledakkan di kota kecil di Shaanxi akhir Desember, demikian menurut AsiaNews, sebuah situs berita Katolik China. Bangunan didirikan pada 1999 dan otoritas lokal tidak memberikan alasan kenapa gereja diledakkan.

 

--- Simon Leya

Komentar