Breaking News
  • BI: penurunan suku bunga mendorong intermediasi perbankan
  • BI: penurunan suku bunga sudah perhitungkan FFR
  • Perusahaan China bidik sejumlah proyek infrastruktur di Indonesia
  • Petambak Lombok berpenghasilan Rp20 juta per bulan
  • Tiga BUMN kembangkan pelabuhan dukung Tol Laut

SASTRA Cincin Raya 31 Jul 2017 08:14

Article image
Setelah Joe kekasih Raya perhatikan cincin itu kurang elok dilihat di jari-manis tangan kanan Raya, Joe memindahkannya ke jari-manis tangan kiri Raya. (Foto: The New Potato)
Raya memikirkan bahwa cincin yang berada di jari tengah tangan kirinya itu bertahtakan mata dewa yang dengan lancangnya memberitahu semua hal kepada Joe.

Oleh Mayesharieni

 

RAYA membuka ponsel Joe seperti biasa. Raya temukan aplikasi baru. Raya melihat baju yang ia pakai. Raya melihat buku yang ia pegang. Raya melihat bibir Joe yang hendak Raya sentuh. Raya melihat teman-temannya. Dalam aplikasi diponsel Joe.

Sejak hari ulang tahunnya yang dihadiahi sebuah cicin emas bermata satu Raya tidak pernah berhenti mengusapnya. Cincin yang diberikan serta dipasangkan kekasihnya di jari-manis tangan kanannya itu menindih sebuah cincin berinisial A yang tidak pernah Raya lepaskan sejak diberikan ibundanya saat umur lima tahun.

Setelah Joe kekasih Raya perhatikan cincin itu kurang elok dilihat di jari-manis tangan kanan Raya, Joe memindahkannya ke jari-manis tangan kiri Raya.

"Biarkan saja ibumu selalu ada di sebelah kananmu. Aku akan mengisi bagian kirinya agar kamu merasa imbang," ujar Joe saat memindahkan cincin itu.

Sesampainya Raya di rumah, ia merasa ada yang janggal dengan letak cincin itu. Cincin itu tidak bisa diam, naik dan turun setiap kali Raya bergerak. Raya tak ingin cincin itu hilang konyol. Pikir Raya. Raya pindahkan cincin itu ke jari tengah tangan kirinya karena kelonggaran.

Raya dibonceng Joe keesokan sore saat Joe menjemput Raya seperti biasa di stasiun kereta. Joe menanyakan hal yang sama setiap sorenya; bagaimana harinya di kantor? Bagaimana dengan tugas-tugasnya di kantor, bagaimana teman-temannya? Joe selalu melakukannya sambil mengusap lembut sesekali tangan Raya yang melingkari tubuh Joe dari belakang ketika jalan stabil dan motor dapat dikemudikan hanya dengan tangan satu. Jemari Joe berhenti di jari tengah tangan kiri Raya.

"Kok cincinnya pindah lagi Ay?" Tanya Joe.

"Iya Jo, di jari manis longgar. Aku takut hilang," jawab Raya.

"Tadi makan sama cowok siapa Ay?" Joe kembali bertanya. Kali ini diikuti dengan kerutan dahi Raya. Raya berusaha mengejar ingatannya. Yang berhasil Raya ingat, belum sampai makan siang dengan siapa Raya bercerita.

"Darimana tahunya Jo?" Raya balik bertanya.

"Ay... you had told me."

"Oh ya?"

Raya memandangi cincinnya lagi. Genap seminggu melingkar di jari tengahnya. Selama satu minggu ini pula tingkah Joe kekasihnya berubah menjadi orang yang aneh. Joe sering sekali melakukan apapun yang disukai Raya tanpa diminta olehnya. Sering mengemukakan sesuatu sebelum Raya menceritakannya. Acapkali sering menyediakan apapun yang belum Raya utarakan. Raya menjadi ratu seutuhnya. Raya merasa begitu diawasi. Menurutnya kalimat yang tepat pada saat ini adalah Raya merasa diawasi selama satu minggu ini.

Raya berusaha menghilangkan imajinasinya yang terlewat kreatif. Raya memikirkan bahwa cincin yang berada di jari tengah tangan kirinya itu bertahtakan mata dewa yang dengan lancangnya memberitahu semua hal kepada Joe.

Raya memandangi cincin itu dalam. Semakin dalam. Sehingga Raya dapat melihat sesuatu yang kebiruan di dalam dasar mata cincin tersebut. Raya menyentuh permata yang Raya pikir adalah mata dewa. Raya melihat mata dari cincin tersebut bergerak-gerak. Raya sedikit khawatir. Raya lepaskan jeratan lingkaran cincin tersebut dari jari tengah tangan kirinya. Raya hendak mengadukan hal tersebut pada Joe begitu sampai di stasiun nanti.

"Jo... akhir-akhir ini aku rasa diawasi oleh cincin. Kamu beli cincin di dewa siapa? Kok seolah-olah semenjak ada cincin itu aku merasa terus-menerus diamati." Raya mengeluh. Keluhan Raya dijawab tertawa renyah dari Joe.

"Ya, beli di toko emas Raya." Jawab Joe sembari mengusap kepala Raya.

"Tapi cincinnya rusak Jo. Sepertinya harus direkatkan pakai lem permatanya itu. Karena matanya mulai gerak-gerak. Seperti akan keluar dari tahtanya."

"Nanti direkatkan dengan lem terbaik yaitu putih telur, ya sayang."

"Keburu hilang matanya Jo."

"Tidak akan Ya. Sebelum aku berikan sudah lebih dulu aku rekatkan dengan cinta."

Raya terbangun dari tidurnya. Raya mendapati banyak sekali panggilan tak terjawab dari Joe sepanjang malam hingga pagi datang menyapanya. Ada delapan puluh tiga panggilan tak terjawab. Panggilan ke-84 akhirnya Raya terima. Terburu-buru Raya menjawab panggilan tersebut.

"Raya... di mana sayang? Aku gak tidur semalaman cari kamu. Kamu gak pergi ke tempat tidur. Gak ke kamar mandi. Gak ke manapun Ya. Yang aku lihat hanya gelap. Kamu baik-baikkan sayang?" Begitu terdengar suara Joe dari seberang telepon. Raya masih kumpulkan nalarnya. Raya terpaku bingung.

"I'm okay. Aku baru bangun Joe. Kamu kenapa gak tidur?"

"Aku lihat hanya gelap Ya. Aku pikir kamu kenapa-napa. Aku sekarang di depan pintu kamarmu Ya. Aku takut kamu kenapa-napa." Suara Joe semakin melemah. Tanpa pikir panjang Raya membuka pintu kamarnya. Mendapati Joe yang tergeletak di lantai begitu Raya membuka pintu kamarnya. Raya masih menatap bingung. Ayah Raya dan Bundanya yang menyaksikan adegan tersebut pun terheran. Kemudian bergotong-royong mereka merebahkan tubuh Joe ke ranjang Raya.

"Joe nangis semalam. Dia hanya bilang kamu kegelapan. Bunda sudah bilang Raya tidur di dalam kamar memang selalu mematikan lampu. Bilangnya mau tunggu kamu keluar kamar saja," bundanya berkata. Raya mengernyitkan dahi. Ia pandangi kekasihnya tersebut. Ia usapkan lembut helai rambut pendek Joe. Raya usap lagi cincin di jari tengah tangan kirinya. Raya berhenti mengusapkan tepat di bagian mata dewa cincin tersebut terletak. Karena indera perasanya merasakan sesuatu yang lain, Raya segera melihatnya. Mata dari cincin tersebut lenyap.

 

Penulis adalah kontributor IndonesiaSatu.co, Jakarta

Tags:
Sastra

Komentar