Breaking News
  • BI Sudah Habiskan Rp 11 T untuk Kuatkan Rupiah
  • Gempa 7,8 SR Guncang Fiji
  • Kemensos: Bansos Saja Tak Cukup Tangani Kemiskinan
  • Resmi! Pendaftaran CPNS 2018 Dibuka 19 September
  • Wadahi Mahasiswa yang Suka Piknik, Kemenpar Resmikan GenPI UBM

TAJUK Cinta Bangsa Bagian dari Iman 12 Jul 2018 06:46

Article image
Cinta bangsa bagian dari perjalanan spiritual warga Negara Indonesia. (Foto: Kompas)
Kecintaan pada bangsa dan Negara bukan hanya perkara aspek lahiriah (materi), tetapi sebagai bagian dari perjalanan spiritual.

NASIONALISME sebagai rasa cinta kepada bangsa dan Negara memiliki posisi vital dalam kehidupan berbangsa dan Negara. Namun, apakah sifat utama dari nasionalisme Indonesia yang membedakannya dari bangsa lainnya?

Adalah proklamator dan penggali Pancasila Soekarno yang menyebut sifat utama nasionalisme tersebut. Nasionalisme Indonesia bagi Soekarno adalah “…nasionalisme yang membuat kita menjadi perkakasnya Tuhan” dan membuat kita hidup dalam roh.” Penjelasan Soekarno yang ditulisnya pada 1928 tersebut menentukan identitas nasionalisme Indonesia.

Jelas bagi Soekarno bahwa nasionalisme Indonesia bukan nasionalisme sekular, yakni nasionalisme yang tidak memiliki akar religiositas. Nasionalisme Indonesia memiliki fondasinya, yakni fondasi spiritual yang tercantum dalam sila pertama: Ketuhanan yang Maha Esa. Penghayatan agama memiliki kaitannya dengan kualitas nasionalisme. Soekarno menyebut fondasi Ketuhanan tersebut sebagai Ketuhanan yang berkebudayaan.

Maka nasionalisme Indonesia tidak dapat direduksi atau disusutkan pada ranah material. Artinya, kecintaan pada bangsa dan Negara bukan hanya perkara aspek lahiriah (materi), tetapi sebagai bagian dari perjalanan spiritual. Nasionalisme tidak hanya diwujudkan melalui ketaatan membayar pajak, atau kewajiban material dari Negara. Nasionalisme menjadi lengkap bila rasa cinta kepada Negara menyentuh sisi spiritual.

Di sini, nasionalisme spiritual mengajak setiap warga Negara untuk memasuki relung-relung refleksi kehidupan berbangsa dan bernegara. Karenanya, warga Negara mengalami keluasan berpikir dan berperilaku. Seorang warga tidak akan berpikir sempit, tetapi memilah setiap kejadian/peristiwa bangsa secara mendalam dan bijaksana. Ia tidak cepat terpengaruh politisasi sosial yang muncul karena perselisihan politik, maraknya hoax, dan lain-lain.

Fondasi spiritual nasionalisme itu dapat dicapai melalui pelaksanaan “ketuhanan yang berkebudayaan.” Artinya, penghayatan nilai-nilai agama kita berbudaya Indonesia yang menghargai nilai-nilai universal seperti kemanusiaan, perdamaian, keadilan, dan kebijaksanaan. Hanya dengan demikian, kita dapat mengatakan: cinta kepada bangsa adalah bagian dari iman.

Kata Soekarno: “Nasionalisme kita adalah nasionalisme ke-timuran dan sekali-kali bukanlah nasionalisme  ke-baratan yang menurut perkataan C.R Das adalah suatu nasionalisme yang mengejar keperluannya sendiri.”

Salam Redaksi IndonesiaSatu.co

Komentar