Breaking News

OPINI Covid-19: Antara Histeria Massal, Biomedis dan Darurat Kebijakan 19 Apr 2020 02:33

Article image
Pandemi global Covid-19 menyadarkan dunia bahwa perang sesungguhnya bukan jutaan musuh di depan mata, melainkan satu virus tak kelihatan yang sedang mengancam keselamatan jiwa setiap anak manusia setiap saat.

Oleh: Frans A. Vicky Djalong*

 

Sebetulnya kita tidak (perlu) takut dengan SARS-CoV-2 atau Corona Virus Disease 2019 (Covid 19). Yang justru kita takuti yakni histeria massal, dari publik tak cerdas dan informasi ‘pakar’ yang tidak sistematis dan menakutkan. Seakan-akan patogen ini dengan sendirinya bisa membunuh kehidupan kita.

Meski belum tersedia obat pamungkas, penanganan medis terbukti bisa menyembuhkan pasien terinfeksi dengan kombinasi kloroquin, hidrokloloquin dan juga belakangan obat anti-virus remdesivir. Sementara bagi yang sehat, sistem imun tubuh adalah pertahanan terbaik dengan triliunan sel yang selalu terbarui.

Tentang hal ini, kita perlu mencermati peringatan keras para pakar epidemologi, bahwa tanggapan kita berupa tindakan medis yang ceroboh dan respon kebijakan yang abai, justru menjadi akar masalah, bisa lebih mematikan dari infeksi dan penularan virus itu sendiri.

Publik yang cerdas, biomedis yang cekatan dan tata kelola kebijakan multi-sektoral cegah pandemi menjadi tiga kunci sukses penanganan pandemi. Ketidak-sinkronan antara tiga prinsip inilah yang berpotensi menjadi dampak masalah di balik pandemi berkepanjangan tersebut.

Terbatasnya Pengetahuan Biomedis

Sampai hari ini, bisa diduga histeria massal (baca: gangguan mental serius) itu, sangat mungkin disebabkan oleh ketidaktahuan atau keterbatasan informasi pengetahuan mengenai virus (virologi), sistem imun tubuh (imunologi) dan cara penularannya (epidemologi).

Tiga pengetahuan dasar tentang sehat dan sakit, sekian lama dijauhkan dari ruang publik dan pendidikan dasar sampai menengah atas, tidak kita pelajari lagi dengan bertambahnya usia atau karena dikarantina menjadi urusan medis dan monopoli tentakel bisnis penyakit dan obat-obatan.

Momen pandemi ini menjadi momentum penting untuk belajar kembali apa itu sehat, sakit dan relasi saling membentuk antara keduanya. Dalam ilmu kesehatan atau kedokteran umum, disebut biomedis, sakit dan penyakit adalah salah satu bagian dari kesehatan. Terpenting adalah kesehatan, yang bekerja secara alamiah melalui tubuh kita. Vaksin dan obat hanya suplemen; material tambahan dari luar tubuh untuk memperkuat sistem kekebalan alamiah dan kekebalan adaptif melawan virus, parasit, bakteria dan jamur yang menimbulkan berbagai penyakit kronis.

Kendati demikian, harus diakui bahwa sekian lama telah berlangsung pertarungan di antara tradisi biomedis dengan tekanan pada pola hidup sehat dan tradisi yang memusatkan perhatian pada penyakit dan obat.

Perhatian pada aspek medis menjadi dominan dan aspek pola hidup sehat kurang diperhatikan. Hal ini bisa dimaklumi karena biomedis berada dalam tarik-menarik antara produksi pengetahuan, industri-bisnis kesehatan dan kebutuhan kebijakan. Ini berlaku untuk semua cabang ilmu; dari filsafat, ekonomi, sosiologi, ilmu politik hingga psikologi dan psikoterapi.

Covid-19, Penyakit dan Kekebalan Tubuh

Di dalam biomedis, terdapat suatu postulat yang tak terbantahkan: bahwa semua penyakit, termasuk pnemonia yang ditimbulkan oleh infeksi Covid-19, berkaitan langsung dengan kondisi dan kapasitas sistem kekebalan tubuh . Virus ini sedang menguji sistem deteksi sel terhadap patogen, dan sialnya, virus ini belum terdeteksi, belum terekam dalam memori sel sehingga belum bisa teratasi dengan cepat oleh antibodi kita.

Apalagi jika tubuh kita sedang menderita penyakit kronis yang berhubungan dengan organ-organ tubuh vital seperti hati, ginjal, jantung dan pembuluh darah/arteri.

Covid 19 rentan menimbulkan infeksi cepat dan mematikan bagi penderita hipertensi (tekanan darah tinggi), hepatitis (liver), tuberkolosis (paru-paru), diabetes (gula darah), pnemonia (paru-paru basah), dan kolesterol. Semua penyakit kronis tersebut berhubungan dengan sistem imun tubuh yang bekerja melalui darah dan sel-sel tubuh kita. Sama halnya dengan menjelaskan mengapa kita menderita penyakit kronis, Covid-19 memperlihatkan kembali hubungan saling pengaruh antara kerja 13 sistem anatomi tubuh manusia, khususnya pernapasan, pencernaran, peredaran darah, endoktrin, limpatik dan sistem ekskresi.

Beruntung jika tubuh kita dalam kondisi sehat tanpa ada penyakit kronis. Kendati sulit bagi sistem imun, upaya antibodi bisa lebih terpusat mendeteksi dan berusaha menghadang replikasi virus pada paru-paru atas dan bawah. Cara kerjanya sama seperti virus influenza, hanya lebih ganas dan antibodi kita belum bisa membedakan dengan cepat ini lawan atau kawan.

Dalam kondisi tersebut, mutu darah kita menjadi penentu. Sel darah merah yang bekerja dengan baik mengalirkan oksigen dan karbondioksida, berkorelasi dengan kerja sel darah putih (leukosit) untuk mengatasi infeksi virus secara perlahan-lahan. Sayangnya, sampai saat ini, para pakar biomedis belum sepakat, apakah jenis golongan darah berpengaruh terhadap tinggi atau rendah kemampuan imun sel terhadap infeksi Covid-19. Diduga, golongan darah A, B, dan AB lebih rentan terhadap infeksi karena memiliki antigen yang mudah mengikat virus ke dalam sel, dibanding golongan darah O tanpa antigen.

Pentingnya mengetahui kondisi penyakit kronis dan kapasitas golongan darah, akan sangat menentukan seberapa jauh kita mudah atau sulit terpapar infeksi virus baru ini. Tentu tindakan medis berupa pencegahan dan penanganan terhadap pasien dengan gejala ringan dan gejala berat, menjadikan hal ini sebagai dasar pertimbangan dibuatnya tindakan pengobatan dan perawatan pasien Covid-19. Diagnosis yang tepat bisa menyelamatkan hidup, tetapi diagnosis ceroboh dan tindakan yang keliru bisa mempercepat gagal pernafasan dan matinya organ-organ tubuh vital penunjang perlawanan terhadap infeksi akut ini.

Demikian pula ketika kita menyaksikan suasana haru dan profesional yang dialami oleh para Dokter dan petugas kesehatan, mengurus sekian banyak pasien dengan komplikasi penyakit berbeda-beda dan menurunnya kapasitas imun tubuh pasien lanjut usia (lansia). Apalagi para Dokter dan petugas medis bekerja di tengah keterbatasan obat seperti kloroquin dan avigan, tidak memadainya jumlah ventilator, dan alat kesehatan lain yang sangat dibutuhkan. Belum lagi mereka mengalami kelelahan fisik dan mental, tidak dilengkapi APD yang memadai, bahkan juga sedang menderita penyakit kronis, yang membuat mereka rentan terpapar infeksi dalam ruangan yang dikuasai virus dari pasien kritis.

Sejauh ini tindakan medis yang gagal atau keliru menuju kematian pasien, menjadi misteri publik, sementara rekaman tindakan medis yang berhasil menyelamatkan pasien dikabarkan melalui berbagai media. Ini tantangan baru bagi dunia kedokteran selama dan pasca-pandemi, mengembangkan pola penanganan yang baku, terukur dan efektif di masa depan, sambil menanti obat-obat anti-Covid dan vaksin yang diproduksi kemudia. Transparansi publik tindakan medis menjadi sangat penting, setidaknya bagi keluarga dan kerabat pasien yang tak terselamatkan.

Vaksin dan Epidemi Covid-19

Vaksin anti-Covid yang sedang dibuat dan dinantikan, bukan hal terpenting. Karena tujuan kita disuntik vaksin bukan untuk membunuh virus atau bakteri, tetapi justru untuk memicu produksi antibodi oleh sistem imun tubuh kita sendiri. Vaksin berisi anti virus/RNA yang dilemahkan-terkontrol, yang dimasukan ke dalam darah agar sel-sel tubuh kita mulai bisa mendeteksi, merekam dan menyerang virus ini di masa depan, bagi semua golongan usia belum terinfeksi, khususnya balita. Ini berlaku untuk semua jenis vaksinasi seperti BCG, Polio, Influenza dan Hepatitis A/B.

Pembicaraan publik dunia mengenai vaksin dan ‘antiviral’, sebetulnya bukan hanya soal teknis-medis tetapi berdampak pada pilihan kebijakan penanganan dan pencegahan dengan segala konsekuensi ekonomi, sosial-politik dan keamanan sebagaimana melanda berbagai negara saat ini. Kisruh politik di setiap negara terdampak, menimbulkan beragam pilihan pendekatan; kapan dan berapa lama pendekatan itu diterapkan.

Kisruh itu pun tak terpisahkan dari perdebatan di kalangan pakar virus, pakar imun dan pakar epidemi, sembari sambil lalu menengok instruksi Badan Kesehatan Dunia (WHO) yang kian diperlemah dari dalam maupun dari pertarungan China dan AS.

Kurang lebih, untuk mengatasi penularan, kita harus mengandalkan isolasi (lockdown) atau menerapkan herd immunity. Atau kombinasi keduanya tergantung pada hasil massive-rapid tesr pada populasi di wilayah tertentu. Demikian debat itu menegaskan bahwa berakhirnya epidemi di Wuhan, misalnya, bisa disebabkan lockdown atau justru karena herd immunity yang sudah berlangsung sebelum lockdown dimulai.

Pendekatan isolasi, pembatasan berskala besar hingga lockdown, datang dari tradisi berpikir vaksin dan ‘antiviral’. Bahwa virus ini mematikan, belum ada obat dan vaksin. Orang sakit harus dipisahkan dari yang sehat, yang sakit segera ditangani medis sementara yang belum terpapar bersembunyi di rumah dan lingkungan yang sehat. Ibarat perang: musuh berkeliaran, tubuh-tubuh tanpa pertahanan (nir-vaksin) diselamatkan ke luar kota dan rumah sakit menjadi arena perang antara virus dan obat-obatan. Pendekatan ini menyelamatkan kehidupan saat ini, namun tidak memberi kekebalan tubuh ketika epidemi gelombang kedua tiba lebih cepat dari produksi vaksin.

Di lain pihak, pendekatan herd immunity percaya pada sistem imun tubuh manusia. Manusia sehat tanpa penyakit kronis, dewasa dan remaja, harus menjadi pasukan penghadang penularan ketika jumlah yang terinfeksi masih sangat terbatas dibandingkan populasi sehat di wilayah tersebut. Tujuannya, selain menghentikan penularan sebatas pada mereka yang terinfeksi, juga untuk memastikan sistem imun tubuh langsung mengenali virus ini, merekam dan memproduksi antibodi anti-covid secara alamiah. Ini percobaan beresiko karena tak pasti berapa banyak orang sehat dan penderita penyakit kronis dalam masyarakat. Namun hal ini bisa menghasilkan kekebalan masyarakat menghadang epidemi covid gelombang berikutnya sebelum vaksin diberlakukan.

Pangan dan Pola Hidup

Di atas semuanya, dua tradisi dalam biomedis termasuk dua pendekatan epidemi di atas, kembali kepada pentingnya makanan dan pola hidup. Sistem imun tubuh kita harus bertenaga, segar dan cerdas mengatasi infeksi covid pada paru-paru. Rantai pemeriksaan berlangsung, bagaimana kerja liver/hati, pangkreas, usus halus, lambung dan akhirnya kembali kepada yang paling pokok: apa yang kita makan, minum dan hirup.

Untuk kita yang sehat (belum terpapar), memperkuat sistem imun tubuh dengan makanan bergizi tinggi untuk membantu kerja usus halus memproduksi protein, karbohidrat dan lemak sebelum disempurnakan dan diatur melalui hati, dan dikirim melalui 4-6 liter darah dalam tubuh manusia dewasa. Selain itu, penting untuk istirahat yang cukup agar keseluruhan proses metabolisme berjalan lancar memproduksi antibodi dalam sel-sel tubuh.

Dengan demikian, kebijaka tinggal di rumah atau dirumahkan (stay at home) bukan berarti sembunyi dari sergapan penularan, melainkan kesempatan memperkuat sistem kekebalan tubuh dengan asupan nustrisi dan vitamin melalui makanan dan minuman sehat. Termasuk mengurangi nikotin dan minumal alkohol yang merusak kerja hati dan paru-paru. Hal ini penting, karena boleh jadi kita sudah terpapar namun karena antibodi alamiah dan antibodi adaptif dalam tubuh kita sudah mendeteksi dan sedang melawan infeksi virus ini.

Konsekuensi: Darurat Kebijakan

Semoga dengan merujuk pengetahuan dasar tentang virus, sistem kekebalan tubuh dan epidemi Covid-19, kita dapat memahami kebijakan anggaran senilai Rp. 405,1 triliun yang ditetapkan oleh Presiden Jokowi.

Dengan porsi anggaran tersebut, dapat dengan mudah mencermati turunan kebijakan pencegahan pandemi di sektor kesehatan senilai Rp. 75 triliun, selebihnya untuk sektor fiskal dan sektor moneter. Apakah benar, seperti kata Presiden Jokowi, pemerintah tak boleh bekerja dengan pola business as usual, atau justru sebaliknya, birokrasi pusat sampai daerah semakin menormalkan cara kerja yang keliru, business as extraordinarily usual?

Dari sana bisa terungkap, efektif atau tidaknya program-program pencegahan dan penanganan pandemi serta mengatasi dampak sosial-ekonomi. Seberapa jauh kebijakan medis (rumah sakit, obat, SDM petugas medis, alkes, laboratorium, dan riset medis) dihubungkan dengan sektor pendidikan (pengajaran pola hidup sehat, penelitian resiko sosial-ekonomi pandemi), dan terpenting sektor pertanian, perkebunan, perikanan yang membuat kita hidup sebagai warga negara bertubuh sehat dan cerdas. Juga tak kalah penting, seberapa jauh pandemi ini menjadi bahan belajar cepat di kalangan politisi dan birokrat untuk keluar dari ‘virus’ berpikir sektoral menuju sistem berpikir kebijakan lintas sektoral, mengikuti pola kerja jenius sistem imunitas tubuh kita.

Jika tidak dipelajari dan diawasi, tambahan anggaran Rp. 405, 1 triliun justru menjadi ‘insentif kejahatan baru oligarki’ industri kesehatan, oligarki perekonomian khususnya eksportir-importir pangan hingga alkes, yang sudah lama menggerogoti Indonesia tercinta, dari pusat sampai daerah. Ini jauh lebih penting dan mulia daripada ‘mempersetankan’ orang-orang kecil yang memilih menjadi kriminal demi kelangsungan hidup keluarganya akibat kebijakan isolasi dan PSPB pemerintah.

Indonesia bisa memanfaatkan momentum persatuan politik 2019 dalam pemerintahan sebagai kekuatan nasional penanganan dan pencegahan Covid-19 pada 2020. Bandingkan dengan pengalaman Negara Amerika Serikat terkini, politisasi dua kubu parpol dan dua jenjang pemerintah terhadap pandemi, justru berdampak pada krisis legitimasi pemerintah dan lambannya penanganan darurat medis. Akibatnya fatal, yang terpapar sebanyak 708.297 sementara angka kematian mencapai 36.959 jiwa.

Kendati demikian, kembali ke Tanah Air Indonesia, dengan jumlah 5.516 terpapar Covid-19 dan 496 jiwa meninggal dunia seturut data per 17 April 2020, memberi sinyal kuat untuk akselerasi tanggap darurat. Demikian juga, pemerintah pusat dan daerah sebaiknya selalu terbuka terhadap saran dan kritikan dari berbagai kelompok masyarakat yang saat ini memikul beban ekonomi dan masalah sosial akibat kebijakan pencegahan di tengah pandemi Covid-19. Jika kebijakan (anggaran) tidak bertendensi menciptakan ‘insetif kejahatan baru oligarki’, niscaya pandemi ini dapat teratasi, tanpa disertai gejolak dan polemik baru yang justru sangat rentan dengan urusan mafia dan praktek korupsi.

Pandemi global Covid-19 menyadarkan dunia bahwa perang sesungguhnya bukan jutaan musuh di depan mata, melainkan satu virus tak kelihatan yang sedang mengancam keselamatan jiwa setiap anak manusia setiap saat.

 

*Penulis adalah Sosiolog dan Dosen Fisipol di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yokyakarta.

Tags:
Opini Covid-19

Komentar