Breaking News

TRANSPORTASI CVR Sriwijaya Air Masih Hilang, Pencarian Makin Rumit 16 Jan 2021 12:31

Article image
Regu penyelam dari tim Denjaka AL sedang mencari lokasi jatuhnya pesawat Sriwijaya Air Penerbangan SJ182 yang terjun ke Laut Jawa. (Foto: Deutsche Welle)
Yang membuat pencarian lebih rumit, CVR telah berhenti mengeluarkan signal.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co – Upaya mengungkap misteri jatuhnya Sriwijaya Air Penerbangan SJ182 yang terjun ke Laut Jawa belum semuanya tuntas. Penyelam Indonesia sedang mencari sisa-sisa sebagian besar dari 62 korban Boeing 737-500, yang jatuh ke perairan ibu kota Jakarta hanya empat menit setelah lepas landas pada 9 Januari 2021.

Dikutip dari Reuters, tim penyelam telah menemukan salah satu bagian peniting pesawat yang disebut kotak hitam, perekam data penerbangan atau flight data recorder (FDR), tetapi perekam suara kokpit atau cockpit voice recorder (CVR) yang berpotensi penting mengungkap misteri jatuhnya pesawat tersebut masih hilang.

Yang membuat pencarian lebih rumit, CVR telah berhenti mengeluarkan signal. Laut Jawa relatif dangkal dibandingkan dengan Samudera Hindia di seberang pulau Jawa. Kedalaman air yang lebih dangkal membantu tim pencari menemukan reruntuhan sehari setelah kecelakaan dan bagi penyelam untuk menyisir reruntuhan, tidak seperti tabrakan di perairan yang lebih dalam yang lebih mengandalkan alat bantu.

Nurcahyo Utomo, penyidik ??di Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), mengatakan jet mungkin masih utuh sebelum menghantam air, mengingat puing-puing tampaknya telah tersebar di wilayah bawah air yang relatif sempit.

Tim pencari telah mempersempit lokasi pencarian yang diduga perekam penerbangan (kotak hitam) dan kendaraan yang dikendalikan dari jarak jauh akan membantu menjelajahi dasar laut, kata Kepala Staf Angkatan Laut Yudo Margono.

“Ada begitu banyak puing di bawah sana dan kami hanya mengangkat beberapa bagian. Mudah-mudahan, setelah kami ambil lebih banyak, perekamnya bisa ditemukan, ”kata Yudo kepada wartawan di atas kapal.

Remotely Operated Vehicle (ROV) bersama dengan penyelam manusia, dan kapal angkatan laut yang dilengkapi sonar, digunakan untuk menemukan, menaikkan, dan mengidentifikasi puing-puing dan mayat dari reruntuhan.

Puing-puing itu berada di air sedalam 15 hingga 25 meter, sebagian kecil dari kedalaman lain tempat kotak hitam ditemukan.

Kecelakaan Lion Air pada tahun 2018 terjadi di perairan yang sama di Jakarta tetapi kecelakaan Air Asia pada tahun 2014 jauh di Laut Jawa. Namun, airnya masih sedikit lebih dalam.

Jika dibandingkan dengan kecelakaan laut terbuka lainnya seperti bencana Air France AF447 pada tahun 2009, perbedaan skala tugas pemulihan lebih terlihat.

 

Penemuan kotak hitam

Berikut adalah kecelakaan pesawat di laut, yang menggambarkan kisaran kedalaman di mana kotak hitam ditemukan (data diolah dari Reuters):

 

1. Sriwijaya Air, Penerbangan SJ182

Lokasi jatuh: Laut Jawa, Indonesia, 9 Januari 2021

Dilaporkan puing-puing tersebar di dasar laut yang tidak rata.

Kedalaman: 15-23 meter

 

2. Air Asia, Penerbangan QZ8501

Lokasi jatuh: Laut Jawa, Indonesia, 28 Desember 2014

Puing-puing pesawat ditemukan 12 hari setelah kecelakaan itu. Kotak hitam pulih sepenuhnya tiga hari kemudian.

Kedalaman: 30 meter

 

3. Armavia Airlines, Penerbangan RNV967

Lokasi jatuh: Laut Hitam, Rusia, 3 Mei 2006

Puing-puing pesawat terletak di dasar Laut Hitam. Kedua kotak hitam ditemukan sekitar dua minggu setelah kecelakaan itu.

Kedalaman: 500m

 

4. Adam Air, Penerbangan KI574

Lokasi jatuh: Selat Makassar, Indonesia, 1 Januari 2007

Kedalaman: 1.900 m

Kotak hitam ditemukan dari kedalaman 1.900 di Selat Makassar.  Bagian utama pesawat ditemukan 100 m lebih dalam dari kotak hitam, yakni pada kedalaman 2.000 m

 

5. Air France, Penerbangan AF447

Lokasi jatuh: Samudera Atlantik, 1 Juni 2009

Puing-puing ditemukan di kedalaman ini hampir dua tahun setelah kecelakaan itu. Kotak hitam ditemukan sebulan kemudian.

Kedalaman: 3.900 m

 

6. South Africa Airways, Penerbangan SA295

Lokasi jatuh: Samudera Hindia, 28 November 1987

Butuh lebih dari satu tahun untuk menemukan perekam suara kokpit.

Kedalaman: 4.400 m

--- Simon Leya

Komentar