Breaking News
  • BI Sudah Habiskan Rp 11 T untuk Kuatkan Rupiah
  • Gempa 7,8 SR Guncang Fiji
  • Kemensos: Bansos Saja Tak Cukup Tangani Kemiskinan
  • Resmi! Pendaftaran CPNS 2018 Dibuka 19 September
  • Wadahi Mahasiswa yang Suka Piknik, Kemenpar Resmikan GenPI UBM

POLITIK Cyrillus I Kerong: Tanpa Nilai, Politik Jadi Barbar 19 Oct 2018 16:41

Article image
Herman YL Wutun, tokoh awam Katolik yang juga Ketua Umum Induk KUD sedang berbicara dalam diskusi panel di Jakarta (18/10/2018). (Foto: Simon Leya)
Pdt. Berton Silaban mengkritik gereja yang mengalami "minority complex" dan hanya memberikan dukungan kepada calon yang menyumbang paling banyak kepada gereja.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co -- Para politisi kristiani harus membawa nilai-nilai kristiani dalam berpolitik. Bila berpolitik tanpa nilai maka politik akan menjadi barbar.

Demikian dikatakan Cyrillus I Kerong, tokoh aktivis Katolik yang juga Caleg DPR RI dari Partai Golkar dapil Jakarta Barat dan Jakarta Utara dalam diskusi panel bertajuk “Peran Politisi Kristiani dalam Penguatan Politik Kebangsaan” di Jakarta, (18/10/2018).

Selain Cyrillus I Kerong, diskusi panel yang diselenggarakan Bersih.id ini menghadirkan beberapa panelis lain, di antaranya Mikael Mali, profesional bidang perpajakan yang juga Caleg DPRD DKI Jakarta dari Partai Golkar;  Herman YL Wutun, tokoh awam Katolik yang juga Ketua Umum Induk KUD; Achen Gumelar, seorang Katekis Katolik sekaligus sebagai motivator rohani; dan Pdt. Berton Silaban, teolog dan penyuluh agama Kristen Protestan di lingkungan non-PNS Provinsi DKI Jakarta. Diskusi dipandu Dionisius Pare.

“Politisi Kristiani harus punya nilai agar tidak menjadi barbar,” kata Cyrillus.

Dari pengalamannya menekuni politik, Cyrillus  sampai pada kesimpulan, politisi harus punya mental kuat dan basis kekuatan finansial yang memadai.

“Kalau tidak kuat, jangan masuk politik. Politik harus punya uang, kalau pas-pasan jangan,” tegas Cyrillus.

Herman YL Wutun menyinggung tentang politik berwajah SARA (suku, agama, ras, dan antar golongan). Menurutnya, politik SARA ada di mana-mana, karena itu orang tidak perlu kaget.

“Politik SARA tumbuh dalam setiap situasi dan lingkungan. Jangan menganggap Sara ini sesuatu yang sangat mengganggu,” kata Herman.

Cara terbaik agar kaum minoritas bisa diterima di kalangan mayoritas, kata Herman, adalah kesanggupan beradaptasi.

“Tugas kita orang Kristiani adalah menempatkan diri dengan baik di tengah mayoritas dan kemajemukan,” jelas Herman.

Herman mengimbau para politisi Kristiani agar menjadi garam dan terang di tengah dunia.

Senada dengan  Herman, Achsen Gumelar berpendapat, kata kunci seorang Kristiani adalah “kasih”. Dengan kasih, seorang politisi tidak akan takut.

“Di dalam kasih tidak ada ketakutan,” kata Achsen.

Bagi seorang Kristen, jelas Achsen, jabatan adalah peluang. Semakin tinggi jabatan semakin banyak juga tanggung jawab yang dipikul.

“Minority complex”

Sementra itu, Berton Silaban mengkritik gereja yang  mengalami minority complex dan hanya memberikan dukungan kepada calon yang menyumbang paling banyak kepada gereja. Dalam konteks ini, gereja harus bertobat.

“Gereja sering berlindung di balik kekuasaan. Gereja mengalami minority complex, membuat politisi Kristen rusak. Yang dipilih hanya calon yang menyumbang paling banyak,” tegas pendeta dari Huria Kristen Indonesia.

Pendeta Berton berpesan agar para politisi Kristiani, dalam berpolitik, memegang tiga fungsi, yakni menjadi imam, nabi, dan raja. Sebagai imam, seorang politisi menjadi standar moral. Sebagai nabi, politisi harus menyuarakan kebenaran. Dan sebagai raja, seorang politisi harus mengusahakan kesejatheraan bagi seluruh rakyat.

Sebagai konsultan pajak, Mikhael Mali  mengatakan, hal mendasar yang harus dilakukan agar persoalan korupsi tidak terjadi adalah pembenahan anggaran belanja pemerintah.

Viktus Murin dalam kapasitasnya sebagai Pemimpin Perusahaan Bersih.id, dalam prolognya mengatakan, suka tidak suka, senang tidak senang, situasi dan kondisi kehidupan kebangsaan kita saat ini sedang bergerak agak mundur, untuk tidak mengatakan sedang mengalami krisis yang akut dalam hal toleransi dan solidaritas.

“Tampaknya masing-masing kelompok cenderung mengejar kepentingannya sendiri-sendiri  yang dilatari oleh aroma politisisasi SARA, yang menghadirkan suasana perpolitikan yang beraroma ekslusif, bahkan cenderung sektarian,” papar Viktus.

Untuk itu, kata Viktus, kita wajib berkhtiar memperbaiki kembali kualitas hidup kita sebagai sebuah bangsa yang majemuk, plural, dan sarat kepelbagian.

Menurut Viktus, kualitas hidup kita sebagai bangsa mengalami kemerosotan. Yang mengemuka justeru sentimen-sentimen sempit berbasis alasan-alasan mayoritas-minoritas dalam arti jumlah.

“Tatanan politik nilai terus melemah, dan cenderung teredusir bahkan sumir oleh gejolak dan nafsu politik instan beraroma politisasi SARA. Kualitas politik nilai pun perlahan tapi pasti seolah berganti menjadi sekadar politik angka-angka,” pungkas Viktus.

--- Simon Leya

Komentar