Breaking News

REGIONAL Daerah Tapal Batas Ngada-Matim Diselesaikan Secara Damai 16 Jun 2019 09:06

Article image
Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat ketika menyelesaikan batas tanah antara Ngada dan Manggarai Timur. (Foto: Biro Humas Setda NTT)
Ini adalah hasil dari cara kerja cinta kasih kedua belah pihak yang sudah lelah untuk saling berhadapan dalam perbedaan.

NGADA, IndonesiaSatu.co-- Permasalahan batas wilayah antara Kabupaten Ngada dan Manggarai Timur, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) telah diselesaikan secara aman dan damai.

Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat turun langsung ke lokasi untuk menyelesaikan tapal batas yang sempat tidak ada titik temu penyelesaian selama hampir 46 tahun.

Mengutip rilis Biro Humas Setda NTT, penyelesaian tapal batas ditandai dengan seremoni pemasangan pilar batas antara Kabupaten Ngada dan kabupaten Manggarai Timur di Bensur, Desa Sambinasi Barat, Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada, Jumat (14/6/19).

Dijelaskan bahwa kegiatan ini merupakan lanjutan dari hasil kesepakatan penyelesaian tapal batas antara Kabupaten Ngada dan Kabupaten Manggarai Timur pada pertengahan Mei lalu yang berlangsung di ruang rapat Gubernur NTT.

Acara penyelesaia diawali dengan tarian penyambutan dan pengalungan kain adat kepada Gubernur Viktor yang datang bersama Bupati dan Wakil Bupati Manggarai Timur, Agas Andreas dan Stefanus Jaghur serta Bupati Ngada, Paulus Soliwoa, beserta rombongan pemerintah daerah.

Acara dilanjutkan dengan prosesi saling menukar ayam (pintu manuk) antar kedua daerah. Selanjutnya, diadakan ritual adat "ria ura ngana dan moza laba" yakni penyembelihan seekor babi dan seekor sapi sebagai simbol rekonsiliasi.

Pemasangan pilar secara simbolis dan penanaman anakan beringin di titik koordinat lima Bensur dilaksanakan setelah acara ritual adat Gubernur bersama Bupati Ngada dan Bupati Matim selesai.

Gubernur Viktor dalam kesempatan tersebut, menegaskan bahwa tidak ada pembangunan yang dapat dilaksanakan dalam permusuhan dan perpecahan.

Gubernur juga mengajak warga dari kedua kabupaten di daerah perbatasan untuk bersyukur karena masalah tapal batas yang telah terkatung-katung selama 46 tahun dapat diselesaikan secara damai dan penuh kekeluargaan.

“Perdamaian ini bukan kerja siapa-siapa. Ini adalah hasil dari cara kerja cinta kasih kedua belah pihak yang sudah lelah untuk saling berhadapan dalam perbedaan. Pada hari ini kedua belah pihak telah sepakat. Oleh karena itu, kita semua patut bersyukur, karena cinta kasih dari semua warga yang ada di sini telah melahirkan sebuah kejadian yang beradab ini,” kata Viktor.

Viktor berharap agar Pemerintah Kabupaten Ngada dan Kabupaten Matim beserta semua unsur, terus mendukung program-program Pemerintah sehingga bisa digapai percepatan pembangunan infrastruktur demi peningkatan produktifitas dan pertumbuhan ekonomi di kedua daerah tersebut.

“Tolong, jangan lagi dengar isu apapun selain tentang informasi kemajuan. Jangan lagi dengar berita bohong (hoaks) agar pembangunan pertanian, peternakan dan pariwisata dapat bertumbuh, serta daerah ini bisa jadi hebat, maju menjadi daerah yang luar biasa,” harap Viktor.

Lebih lanjut, Putra Semau itu menegaskan kepada warga masyarakat di sekitar perbatasan, untuk tidak lagi melihat masa lalu dan terjebak di dalamnya. Ia mengajak keterlibatan semua, untuk bersama-sama maju menuju masa depan yang cerah.

“Saya yakin, kedua Bupati yang hebat ini, dapat membangun tempat ini menjadi tempat yang lebih hebat lagi,” puji Viktor.

Pada kesempatan yang sama, Bupati Ngada, Paulus Soliwoa berharap agar 37 pilar yang nanti dipasang, tidak dijadikan pemisah dan pembeda antara Ngada dan Matim. Ia berharap, pilar yang ada justru dijadikan sebagai pilar pemersatu antara Ngada dan Matim.

Hadir pada acara tersebut unsur Forkopimda kedua Kabupaten, pimpinan dan utusan perangkat daerah baik dari Pemerintah Provinsi NTT maupun dari Pemkab Ngada dan Pemkab Matim, TNI-Polri, Para Tetua Adat dan Tokoh Masyarakat kedua Kabupaten, serta warga masyarakat di daerah perbatasan.

--- Guche Montero

Komentar