Breaking News
  • Defisit Lebih Rendah Dari Proyeksi APBN-P 2017
  • Menkeu: investasi tumbuh karena kepercayaan pelaku usaha
  • Penerimaan Bea Cukai hingga November Rp130,1 triliun
  • Presiden Jokowi setuju pendiri HMI jadi Pahlawan Nasional

REFLEKSI Damai Meski Berbeda (Agama) 24 Dec 2016 15:21

Article image
Bersatu, bergandeng tangan, meski berbeda dan beraneka. (Foto: Ist)
Kita selamanya akan berbeda. Tak perlu kita berkelahi apalagi berperang karena berbeda.

Oleh Valens Daki-Soo

 

Para kerabat sebangsa, mari mengurus hal-hal yang (lebih) penting demi kemanusiaan, juga kebangsaan atau keindonesiaan kita.

Kalau kita terus-menerus "baku senggol" dalam hal-hal simbolis-artifisial, bukan substantif-esensial, waktu dan energi kita sebagai bangsa tergerus bukan untuk kebaikan dan kemaslahatan bersama.

Kita memang berbeda-beda mulai dari doktrin atau dogma teologis hingga cara menyembah "Sang Ada Tertinggi" (The Supreme Being) yang disebut dengan berbagai Nama Ilahi dalam aneka agama. Kita juga kaya dan variatif dalam pernak-pernik tradisi atau budaya yang menyertai serta mewarnai perjalanan dan penghayatan setiap agama.

Itulah agama-agama kita, MANUSIA, yang adalah "makhluk budaya" (ens culturale) dan "makhluk penyuka simbol" (homo symbolicum).

Kita selamanya akan berbeda. Tak perlu kita berkelahi apalagi berperang karena berbeda.

Saya tahu, sebagian kerabat yang Muslim gerah dan rada "khawatir", jangan-jangan mengucapkan 'selamat Natal' identik dengan mengakui keilahian Yesus, sang Nabi Isa. Saya agak paham, itu bertentangan dengan aqidah Islam, khususnya yang berkaitan dengan tauhid.

Memang ada pula yang menganggap ucapan selamat itu cuma adab sopan-santun, saling jaga hubungan baik, bahkan mungkin cuma basa-basi. Tidak masalah. Yang penting, jangan terpaksa dan memang tak perlu terpaksa. Kita seyogianya hidup dan beragama dengan gembira dan bahagia, bukan dengan resah-gelisah, marah, takut dan gundah-gulana.

Kita selamanya berbeda dan itulah hakikat kehidupan. Bukankah semesta ini terbentuk dalam keanekaan yang dahsyat dan luar biasa? Toh segalanya berjalan dalam harmoni, indah dan damai, elok dan seksi pula. Seksi? Tataplah rembulan dan bintang-bintang temaram, begitu romantis dan magnetis.

Kita selamanya berbeda dan itulah kodrat kita. Perihal perbedaan agama, memang itulah kenyataan. Bagaimana mungkin kita paksakan keyakinan spiritual-religius kita kepada sesama?

Misalnya, ini yang paling sensitif, kerabat yang Islam akan selalu sulit memahami, menolak dan mungkin juga jadi 'membenci' konsep atau doktrin Trinitas dan keilahian Yesus dalam keyakinan dan teologi Kristen. Ini sungguh bertentangan dengan tauhid dalam ajaran Islam.

Meski saya berusaha menjelaskan bahwa konsep/dogma "Bapa dan Putra" itu bukan dalam pengertian biologis-fisiologis dan anthropomorfis melainkan hanya bisa dimengerti dalam terang pemahaman biblikal-teologis, tetap saya tidak bisa menjelaskan "mysterium magnum" (misteri akbar) dalam keyakinanku ini secara tuntas.

Tetap saja kerabatku yang Islam mungkin menganggap ini "karangan manusia", "bualan Paulus", omong-kosong yang tidak logis.

Ya, begitulah agama. Tak semuanya bisa langsung dipahami dengan menggunakan logika rasional. Allah pun tetap merupakan "Mysterium Aeternum", misteri abadi yang tak pernah bisa total dipahami.

Jadi, saya akan memaklumi saja kalau doktrin seperti ini di-bully, diserang dan dicerca. Tidak masalah, karena memang tidak setiap perbedaan bisa mudah diterima, lalu butuh kedewasaan dan kematangan jiwa untuk tetap bisa saling menerima, saling menghormati dan saling mencintai, meski kita berbeda.

Nah, itu sebabnya saya pikir kita tidak perlu berkelahi karena pohon Natal dan semacamnya yang cuma dekorasi alias atribut bin pernak-pernik yang cuma hiasan belaka. Rumah saya sudah bertahun-tahun tak sempat dihiasi pohon Natal karena saya lebih sibuk di luar saat jelang Natal hingga tibanya.

Selamat merayakan perbedaan ini dengan damai, gembira dan bahagia.

Perbedaan bukan alasan bagi kita untuk angkat senjata ataupun sekadar perang wacana.

 

Penulis adalah penikmat psikologi, pemerhati politik dan militer, entrepreneur. Pendiri dan Pemimpin Redaksi IndonesiaSatu.co

Komentar