Breaking News
  • Kapolda resmikan Bhayangkara Papua Football Academy
  • Kemen-PUPR tingkatkan kapasitas pekerja konstruksi dengan sertifikasi
  • Presiden Jokowi bersarung "blusukan" ke Mal Mataram
  • Pusat Konservasi Elang Kamojang lestarikan populasi elang jawaPusat
  • Wamen ESDM kaji FSRU penuhi pasokan gas

SASTRA Dan Hujan Lagi dan Hujan Lagi (Cerpen Elvan de Porres) 06 Nov 2016 19:29

Article image
“Ketika hujan datang, ada banyak hal yang bisa kau lakukan dalam kesendirian. " (Foto: Ist)
Hujan adalah siklus. Dia akan menguap, mengendap ke udara, membentuk awan kelabu, dan tumpah ruah lagi ke dunia.

Oleh Elvan De Porres*

TAMU tak diundang yang paling bikin berisik adalah hujan pagi hari. Dengan tiba-tiba dan tidak tahu malunya, ia datang ke rumahku. Mengintip lalu mengetuk daun jendela. Membasahi padanan kaca nilon dan membentuk titik-titik air. Saat-saat seperti itu, aromanya barangkali selalu mengandung kesedihan. Langit biru yang berubah jadi kelabu, bunyi bising petir seperti kidung nelangsa, juga titik air yang menetes layaknya air mata.

Dilihatnya seorang bocah laki-laki sedang tertidur pulas di atas ranjang. Memeluk mimpi-mimpi, mendekap rindu-rindu. Seperti kenangan yang lewat tiba-tiba, hujan pagi hari selalu hadirkan kejut yang tak pernah terpikirkan oleh bocah kelas tiga SD itu. Tentang mimpi atau pengalaman yang saling berpagutan. Tentang ingatan dan keterpaksaan mengingat yang hanya membuat aroma pagi jadi liris dan merebak kecemasan.

Makanya, aku benci hujan. Makanya, aku ingin tidur sepulas-pulasnya saat kau datang. Makanya, aku ingin kau segera pergi, meresap ke dalam tanah, dan tetap tinggal di sana. Semoga tak ada siklus hujan lagi. Datang, pergi, datang lagi, pergi lagi. Toh, semuanya hanya membikin perih.

Hujan pagi hari memang selalu sodorkan getir. Ibu yang pergi untuk selama-lamanya, dan ayahku yang tiba-tiba jadi gila sendiri. Sebilah pisau dapur jadi perkakas paling ngeri di depan mataku. Bagaimana kulihat dengan jelas ayah mencabik-cabik tubuh ibu. Bau darah dan bau alkohol berbaur menjadi satu. Ibu tewas seketika dengan sepuluh lobang menganga bekas tikaman.

Kejadian itu takkan pernah terlupakan. Tapi, aku benci sekali untuk mengingat-ingat lagi. Aku ingin melupakan segala-galanya. Ayah yang suka mabuk-mabukkan, ibu yang sering menangis sendiri di kamar, dan hujan bisu yang tak bisa berbuat apa-apa saat peristiwa naas itu terjadi. Kalau hujan adalah rahmat Tuhan, semestinya ia mencegah tragedi pembunuhan itu. Atau barangkali jadi saksi di pengadilan akhirat kelak.

Selama masih hidup, ibu sering melakukan banyak hal bersamaku saat hujan turun. Beliau akan mengajakku ke kamar, membacakan dongeng, atau sekadar bermain tebak-tebakkan. Dan tatkala hujan semakin deras, ibu akan semakin mendekapku erat-erat ke dalam pelukannya. Mencium rambut, kening, dan pipiku.

“Ketika hujan datang, ada banyak hal yang bisa kau lakukan dalam kesendirian. Kau bisa membaca buku bagus, mendengarkan musik, berkhayal tentang masa depan, atau memikirkan hal apa pun yang kau anggap penting”, bisik ibu.

Tiba-tiba air matanya menitik perlahan. “Kau bisa saja tertawa atau menangis sepuasnya. Begitulah cara kita menikmati hidup,” sambungnya. Ibu kemudian bercerita tentang ayah yang mabuk-mabukkan, suka bermain judi, pulang rumah meminta uang, lalu memukul ibu sampai lebam mukanya. Ibu juga berkata bahwa ia sangat mencintai ayah meskipun sudah berulangkali disakiti. Bahwa cintanya kepada ayah sama besarnya seperti cintanya kepadaku.

Hujan adalah perantara doa dan kesedihan ibu. Sebab baginya, air hujan dan air mata lahir dari rahim yang sama. Ibu bumi yang memberikan energi kesuburan. Daya kehidupan. Makanya, menangis kala hujan turun adalah momen tepat bagi pengeluaran segala unek-unek yang menghimpit hati. Biarkan air mata yang menetes mengalir pergi bersama aliran air hujan yang membasahi tanah. Biarkan perkara masalah hidup meresap, larut, dan terkubur dalam tanah. Biarkan ia tetap tinggal di sana dan jangan kembali lagi.

Tapi, hujan adalah siklus. Dia akan menguap, mengendap ke udara, membentuk awan kelabu, dan tumpah ruah lagi ke dunia.  Dan ayah yang sering membuat ulah adalah juga siklus. Setiap kali pulang ke rumah, ia akan selalu menghajar ibu. Hal itu dilakukannya berulang-ulang kali. Yang bisa dilakukan ibu hanyalah menundukkan kepala dan menitikkan air mata.

Pagi itu, hujan turun deras sekali. Kudengar pertengkaran hebat di ruang tamu. Suara ayah berat dan marah-marah tak keruan. Kata-kata makin terumpat dari mulutnya. Segala perkakas di ruang tamu dihamburkannya berserakan tak tentu. Barang-barang di depan mata diobrak-abriknya. Ayah mengamuk dengan tidak jelasnya. Tujuannya hanya satu; mendapatkan uang ataupun perhiasan dari ibu. Namun kali ini, ibu sudah tak punya apa-apa lagi. Tak ada lagi satupun barang berharga yang bisa diberikan ke ayah. Ibu hanya tertunduk lesu dan menggeleng-gelengkan kepala. Semakin ibu seperti itu, ayah semakin memukulinya.

Tetes-tetes air hujan di luar sana sepertinya semakin cepat menghujami bumi. Riak-riaknya berteriak hebat. Tanah terciprat menimbulkan siluet hitam di udara walau hanya sekejap. Barangkali aroma kematian sudah terendus pagi ini. Aku pun memberanikan diri mengintip ke ruang tamu tempat pertarungan tanpa perlawanan itu terjadi. Tapi, pagi ini tidak seperti biasanya. Hujan yang tak biasa juga suasana hati yang tak biasa. Jika hujan adalah perkara air tetes-menetes ke tanah dan menetap di dalamnya, maka darah pagi hari adalah kepergian selama-lamanya yang tak bisa kuambil pulang.

Di depan mataku, ayah yang sudah kesurupan itu mengambil pisau dapur dan penuh kesetanan menghujamkannya ke tubuh ibu. Sudah kubayangkan, ibu tak memberontak. Barangkali dia hanya bisa merintih dalam diam. Dan konsekuensinya jelas,dia harus pergi untuk selama-lamanya.

Dia bukan hujan. Bukan siklus. Dia tak bisa kembali lagi. Selama ini, semua keluh kesah, duka lara, dan gunda gulananya hanya diceritakan kepada hujan. Kematian pagi ini adalah keterpenuhan semuanya itu. Puncak segala kegelisahan dan isi hati. Sebab, hanya hujan yang paling setia mendengarkan ibu.

Makanya, aku diberi nama hujan. Katanya, aku lahir pada pagi hari ketika hujan turun. Meski hujan pagi hari selalu saja kubenci. Sebab, mimpi buruk semacam itu selalu datang. Aku kaget dan terbangun dari tidur dengan keringat dingin kecil bercucuran. “Bangun Nak. Kamu harus pergi ke sekolah pagi ini”, suara ibu membangunkanku. Ternyata ibu baik-baik saja. Ternyata ayah belum pulang. Dan hujan lagi dan hujan lagi. Dan mimpi buruk lagi dan mimpi buruk lagi.

Maumere, 2016

*Elvan De Porres, mahasiswa STFK Ledalero Maumere. Bekerja di fan page facebook Garis Pinggir (Foto Pu Kata). Anggota Komunitas Wifi Malam Kupang dan sekarang bergiat di Komunitas KAHE (Sastra Nian Tana) Maumere.

Komentar