Breaking News

INSPIRASI Ahli Politik dan Media Kenamaan Indonesia Berpulang 06 Apr 2021 10:16

Article image
Akademisi Dr Daniel Dhakidae. (Foto: Peacful Anarchy)
"A hugely important and influential public intellectual, and a brave pelopor berpikir kritis pada zaman Orba whose legacy and contribution will live on..."

INDONESIA kehilangan dua tokoh besar asal Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam sehari: ahli politik dan media kenamaan Indonesia Dr Daniel Dhakidae dan sastrawan Umbu Landu Paranggi. Keduanya tutup usia  pada Selasa (6/4/2021).

Umbu Landu Paranggi, sastrawan asal Sumba yang dijuluki Presiden Malioboro meninggal pukul 03.55 WITA. Daniel yang lama menjadi Kepala Litbang Kompas meninggal pukul 07.24 WIB  di Rumah Sakit Metropolitan Medical Center (MMC), Jakarta Selatan.

Kepergian Daniel dibenarkan Wakil Pemimpin Umum Kompas, Budiman Tanuredjo. "Ya, benar," kata Budiman, saat dikonfirmasi Kompas.com, Selasa.

Daniel Dhakidae meninggal dunia setelah mengalami serangan jantung. Pada Selasa dini hari sekira pukul 03.00 WIB, ia dilarikan ke Rumah Sakit MMC.

Pada pukul 07.24 WIB, Daniel mengembuskan napas terakhir. Jenazah rencananya akan disemayamkan di rumah duka di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto Jakarta.

Berikut ini komentar dan ucapan dukacita di akun Twitter dari para tokoh dari berbagai kalangan dan latar belakang atas meninggalnya cendikiawan Daniel Dhakidae.

Ian Wilson, dosen senior  ilmu politik di  Murdoch University: Sad news. Rest in Peace Bang Daniel Dhakidae. A hugely important and influential public intellectual, and a brave pelopor berpikir kritis pada zaman Orba whose legacy and contribution will live on.”

Ulil Abshar-Abdalla: Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Haro ini ada dua orang hebat yg meninggal: Daniel Dhakidae dan Umbu Landu Paranggi.

Alissa Wahid: Sedih sekali atas berpulangnya pak Daniel Dhakidae, teman diskusi #GusDur sejak muda. Wawasan Beliau tentang demokrasi berangkat dari pengalaman sangat panjang menjalani proses demokratisasi negeri ini.

Dr Rizal Ramli: Sahabat DR. Daniel Dhakidae meninggal dunia akibat serangan jantung, pkl 07.23 tadi. Daniel sahabat lama,, teman sama2 ketika RR Redaksi Prisma, Daniel & RR menulis pemgantar buku Frans Seda, "Simponi Tanpa Henti". Daniel seorang intelektual tanpa lelah. May He Rest in peace.

Fadjroel Rachman: Requiescat In Pace Bung Daniel Dhakidae. Persahabatan intelektual kita tak pernah berakhir. Terimakasih semua karya intelektualmu Bung. Juga canda-tawa dan kegigihanmu kala berdebat. #SalamDemokrasi kami berkeras menjaga demokrasi, mendemokratisasikan demokrasi

Budiman Tanuredjo: Selamat jalan intelektual yang saya kagumi. Yang selalu memberi penguatan di saat-saat sulit. RIP Daniel Dhakidae....

Wisnu Prasetya Utomo (Dosen UGM): Banyak generasi peneliti media di Indonesia "dibesarkan" oleh karya Daniel Dhakidae, terutama oleh disertasinya yang sampai skg menurut saya merupakan penelitian paling lengkap tentang ekonomi politik media di Indonesia.

Andreas Harsono (Penulis dan peneliti media): RIP Daniel Dhakidae (lahir Ngada, Flores 1945) cendekiawan publik, lulusan Cornell University, lama bekerja di Kompas dan Prisma, meninggal serangan jantung usia 76 tahun di Jakarta hari ini.

Daniel Dhakidae lahir di Toto-Wolowae, Nagekeo, Flores, 22 Agustus 1945. Setelah menamatkan sekolah menengah di Seminari St. Johannes Berchmans di Todabelu, Mataloko, Daniel belajar flisafat di Seminar Tinggi St. Petrus, Ritapiret dan Seminari Tinggi St. Paulus, Ledalero, Flores selama dua setengah tahun.

Daniel kemudian belajar di Universitas Gadjah Mada, Fakultas Sosial dan Politik , SOSPOL, dengan mengambil spesialisasi ilmu Administrasi Negara dan tamat tahun 1975. Daniel kemudian bekerja sebagai redaktur majalah Prisma, LP3ES, pada tahun 1976; menjadi Ketua Dewan Redaksi sejak tahun 1979-1984, dan menjadi Wakil Direktur LP3ES, 1982-1984.

Tahun 1984 Daniel meneruskan studi S-3 di Cornell University, di Department of Goverment, Ilmu Politik, Ithaca, New York dengan mengambil spesisalisasi di bidang Comparative Politics, Ilmu Perbandingan Politik, sebagai major, dan mengambil Pilitical Thought (Filsafat Politik) dan Southeast Asian Studies sebagai minor.

Daniel meraih gelar Master of Arts (M.A), di bidang Ilmu Politik, tahun 1987, dan mendapat Philosophiae Doctor (Ph.D) dengan judul disertasi "The State, the Rise of Capital, and the Fall of Political Journalism, Political Economy of Indonesian News Industry" tahun 1991.

Disertasi tersebut mendapat penghargaan the Lauriston Sharp Prize tahun 1991 karena telah memberikan sumbangan luar biasa bagi perkembangan ilmu (...has contributed most outstandingly to scholarship). Sekembali dari Cornell University bergabung dengan Kompas tahun 1991 dan menjadi Kepala Litbang Kompas sejak tahun 1994 sampai pensiun.

--- Simon Leya

Komentar