Breaking News
  • Banjir landa 21 kelurahan di Tebing Tinggi
  • Imigrasi Ngurah Rai beri "exit pass" seminggu bagi wisman
  • Jokowi: Kawasan GBK Harus Jadi Ruang Publik Bagi Masyarakat
  • PVMBG: gas SO2 Gunung Agung menurun
  • Sebanyak 50 ton ikan Danau Maninjau mati

OPINI Dari Melbourne Untuk Marianus Sae 12 Jan 2018 10:14

Article image
Marianus Sae, Calon Gubernur NTT. (Foto: VoxNtt.com)
Kalau kelak Bapak MS menjadi Orang Nomor 1 NTT, Bapak tidak akan hanya menekan dana opersional tetapi juga mencari strategi untuk meningkatkan pendapatan daerah.

Oleh Silvinus Lado Ruron

 

MELBOURNE terlalu besar untuk Marianus Sae (selanjutnya disingkat menjadi MS). Siapa yang tahu dan kenal tentang MS di kota yang nota bene, ‘the most liveable city in the world’? Yang tahu tentang MS berkisar puluhan orang, yakni orang-orang dari Nusa Tenggara Timur (NTT) yang berdomisili di sini, entah sebagai mahasiswa-mahasiswi atau sebagai penduduk tetap Australia. Rentang profesi mereka dari ibu rumah tangga sampai dosen. Mereka berasal dari beberapa daerah yang berbeda di NTT, bertemu di Melbourne. Setiap mereka berpandangan yang berbeda tentang MS. 

Sikap dan tindakan seorang MS menjadi konsumsi media lokal, nasional dan internasional, seperti halnya kebanyakan figur publik. Orang nomor satu Kabupaten Ngada ini, namanya mencuat di kalangan orang NTT di Melbourne ketika adanya perintah beliau untuk menutup run way bandar udara Turelelo, Soa. Berita penutupan tersebut tidak hanya diperoleh lewat media Indonesia tetapi juga melalui media masa Australia. Lewat seorang MS, NTT dikenal ‘for the wrong reason’. Frase yang mungkin bisa keluar dari mulut lawan-lawan politiknya. Tetapi bagi pendukung MS, sebaliknya.
Para pendudukung MS, khususnya penduduk Kabupaten Ngada yang tinggal di daerah pedesaan memandang MS sebagai seorang tokoh pembangunan. Menurut perhitungan, ada kurang lebih 80% masyarakat Ngada tinggal di daerah pedesaan. (Bdk.Paparan MS di YouTube, ‘Pemaparan Visi Misi Marianus Sae di Partai PKB, NTT’). Jadi banyak pendukung MS. Beliau menyingsingkan lengan bajunya untuk membangun dan membuka daerah terisolasi. 

Meski demikian, ada kebijakan MS mendapat tantangan dari pihak lain. Pihak ini dapat dibilang sebagai kekuatan lain untuk ‘check and balance’. Contohnya, penutupan Pasar Inpres Bajawa. (Lihat YouTube, ‘Pedagang Duduki Pasar Inpres Bajawa’). 
MS berjuang gigih demi bonum commune (kebaikan umum). Tujuannya supaya masyarakat bisa hidup sejahtera. Kalau tidak sesejahtera warga Melbourne, setidak-tidaknya masyarakat Ngada bisa punya akses ke pasar, kota, rumah sakit, sekolah dan air bersih. Program beasiswa buat yang mampu secara akademis tetapi tidak secara ekonomis patut diacungkan jempol. Beliau mendorong anak-anak yang mampu untuk belajar kedokteran dan beliau bersedia menjadi bapak mereka untuk meraih profesi ini, kalau orang tua mereka tidak mampu secara finansial. Apalagi dokter merupakan sebuah profesi yang masih langka untuk konteks NTT. 

Selain itu, program penanaman pohon dan pembukaan jalan sungguh dinikmati masyarakat Ngada. Pendisiplinan para aparat negara, yang menghabiskan waktu kerja yang tidak sesuai dengan ketentuan, berdampak pada kinerja mereka sebagai satu korps di kabupaten ini.

Perampingan dana operasional yang cenderung terus membengkak diterapkan MS. Ambil contoh, dari Rp 98 miliar per tahun ditekan sampai 30 miliar (Lihat YouTube, ‘Pemaparan Visi Misi Marianus Sae di Partai PKB, NTT’). Dana sisa ini digunakan untuk kebutuhan lain di Ngada. Semuanya demi melayani masyarakat. 

Beda orang, beda tempat, beda pengalaman. Warga NTT yang menetap secara permanen di Melbourne mempunyai pengalaman yang berbeda bertalian dengan pelayanan umum di kota ini. Jumlah pajak yang harus dibayar, sering dikeluhkan mereka. Pajak besar! Meskipun demikian sewaktu sakit, mereka berterima kasih. Mengapa? Karena biaya konsultasi dokter tidak dibayar dengan uang sendiri, melainkan dari dana pajak yang dikelolah secara benar oleh pemerintah setempat.

Pelayanan seperti ini berlaku di seluruh Australia. Contohnya, operasi sesar untuk ibu hamil yang sulit melahirkan. Di Indonesia, untuk jenis operasi demikian, sekurang-kurangnya lima belas juta rupiah, belum termasuk biaya penginapan dan obat-obat yang lain. Kontrasnya, di Melbourne, ibu yang melahirkan bersama keluarganya hanya membayar dengan mengatakan, ‘terima kasih dokter’, ‘terima kasih bidan’ dan seterusnya, sewaktu keluar dari rumah sakit. Gratis!

Kapan praktik ini bisa terjadi di Indonesia, khususnya di NTT? Sudah ada program yang sedang dijalankan di Indonesia. Ada KIS (Kartu Indonesia Pintar) dan BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial). Menariknya bahwa sering para pasien yang memerlukan obat di tempat perawatan seperti PUSKESMAS atau rumah sakit, diberitahu obat yang dibutuhkan habis. Mereka bisa ke tempat praktek dokter untuk obat yang diperlukan.

Apa yang terjadi? Mungkin dana tidak cukup untuk mendatangkan obat-obat itu atau disengajakan untuk tidak mengadakan obat-obat tersebut di tempat pelayanan kesehatan. Barangkali supaya praktik para dokter tetap berjalan. Mungkin obat-obat itu ada, tetapi dikatakan tidak ada karena keluarga pasien tidak mengenal apoteker/petugasnya. Kemungkinan-kemungkinan ini harus dicek kepastiannya oleh pihak-pihak yang berwewenang. Orang omor satu Propinsi NTT, kabupaten-kabupaten serta wali kota se-NTT harus menjamin kepastian penerapan pelayanan demi kesejahteraan masyarakat. 

Kembali ke MS, apa yang akan menjadi jawaban MS perihal pelayanan kesehatan masyarakat di NTT, sekiranya MS menjadi Orang Nomor 1 NTT? Jawaban MS untuk sementara bisa diambil dari paparannya yang dikutip sebelumnya. Dalam paparan tersebut MS mengatakan bahwa di Ngada ada Jaminan Kesehatan Masyarakat Ngada (JKMN). Pemda Ngada menjamin semua biaya pelayanan kesehatan mulai dari Puskesmas sampai rumah sakit bagi yang sakit. Kedengarannya seperti apa yang terjadi di Australia. Apakah yang mungkin untuk Ngada, mungkin untuk NTT, Bapak MS? Bagaimana Bapak MS tahu JKMN berhasil? Jangan-jangan seperti BPJS untuk dua alasan berikut. Pertama, kontrol yang tidak kuat dan kedua, karena terdapat pribadi-pribadi yang enggan melihat orang lain memiliki hidup yang layak dan bermartabat.

Paparan MS setidak-tidaknya selaras dengan kesaksian kebanyakan masyarakat yang hidup di desa-desa Ngada. Itu terlihat di media masa, juga dari cerita-cerita mulut ke mulut tentang beliau. Mereka puas, tidak harus lagi menunggu menganga lama akan tetesan manisnya pembangunan Ngada.Tetapi dalam paparan itu MS tidak secara eksplisit berbicara tentang strateginya untuk meningkatkan pendapatan pemerintah daerah dari kabupatennya, selain lewat penekanan dana operasional. Apakah ada pendapatan pemerintah daerah yang seratus persen berasal dari daerah? Mungkin MS punya strategi tetapi konteks paparan tidak memungkin beliau untuk mengurai hal tersebut.

Tidak semua orang puas dengan pribadi dan pendekatan MS. Misalnya, penangannya perihal hubungannya dengan pembantu rumah tangganya. Tetapi bagi penulis, MS adalah seorang yang berani, rendah hati dan tegas berkaitan dengan hal yang diberitakan. Beliau berdiri di depan warga di sebuah desa untuk menjelaskannya. (Lihat YouTube tentang hal ini). Tidak banyak pemimpin yang berani melakukan apa yang dilakukannya. Keberanian dan kerendahan hati MS sungguh menarik kekaguman penulis. Sungguh ‘no guts no glory’!

Masih tentang hubungan MS dengan pembantu rumah tangganya. Meskipun hal yang diberitakan sudah dijelaskan dan diselesaikan beberapa tahun silam, akhir-akhir ini diangkat lagi oleh orang atau pihak, yang hemat penulis merupakan ‘SARACEN’ ala NTT. 

Bapak MS, dari Melbourne penulis berharap, kiranya bapak kuat. Kiranya bapak tidak menjadi korban ‘SARACEN’ ala NTT karena Bapak MS sudah punya pundi-pundi keberhasilan nyata di Ngada. 

Tetapi Bapak MS pun perlu ingat apa yang bapa katakan dalam wawancara dengan Najwa Shihab di acara Mata Najwa dalam kaitan dengan penutupan run way Turelelo Soa. Bapak katakan bahwa syukur kalau dari seribu tiga ratus pegawai, lima ratusnya mau bekerja. Itu berarti kurang dari empat puluh persen pegawai negeri sipil Ngada yang mau melayani masyarakat. Lebih dari enam puluh persen tidak bekerja sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Jika Ngada dilihat sebagai miniatur NTT, maka boleh dibilang (kalau tidak terlalu ceroboh menyimpulkan) persentasi dari dua kelompok pegawai ini bisa ditransfer ke konteks NTT secara keseluruhan. 

Kelompok yang tidak bekerja sesuai dengan ketentuan masih punya keluarga dan kawan-kawan yang bukan pegawai negeri sipil. Mereka bisa menjadi kekuatan yang counter productive terhadap program bapak nanti. Atau mungkin tidak ingin bapak menjadi Orang Nomor 1 NTT. Bapa harus bekerja keras untuk mengajak atau lebih keras mendobrak dan mengubah mindset dan etos kerja mereka. Apakah bapak mampu, karena budaya sedikit berbeda antara Ngada dan daerah-daerah lain di NTT? 
Kalau kelak Bapak MS menjadi Orang Nomor 1 NTT, Bapak tidak akan hanya menekan dana opersional tetapi juga mencari strategi untuk meningkatkan pendapatan daerah. Katakan saja lewat pajak yang dikelolah secara benar, seperti yang terjadi di Australia. Dengan demikian warga NTT boleh mengatakan, ‘terima kasih’ sebagai bayaran sewaktu meninggalkan Puskesmas, rumah sakit dan konsultasi dengan dokter atau bidan.

 

Penulis adalah putra NTT yang tinggal di Melbourne

Komentar