Breaking News

REGIONAL Data Postitif Covid-19 di NTT, Kadis Kesehatan: 20 Pasien Termasuk Kategori Anak 25 May 2020 00:10

Article image
Kadis Kesehatan NTT drg. Dominikus Minggu Mere saat menyampaikan hasil pemeriksaan spesimen swab di Kantor Dinas Kesehatan NTT. (Foto: TIMEX)
"Hingga saat ini, dari data yang ada sekarang 82 positif, terdapat 20 orang masuk kategori anak. Anak itu dalam definisi usia 0-18 tahun," ungkaap Dokter Domi.

KUPANG, IndonesiaSatu.co-- "Hingga saat ini, dari data yang ada sekarang 82 positif, terdapat 20 orang masuk kategori anak. Anak itu dalam definisi usia 0-18 tahun."

Demikian hal itu disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Dr. drg. Dominikus Minggu Mere dalam keterangannya di Kantor Dinas Kesehatan Provinsi NTT, Jumat (22/5/20).

Dokter Domi mengatakan bahwa ke-20 pasien yang masuk kategori anak itu berasal dari beberapa kluster, antara lain kluster Magetan, Sangkalala dan Gowa.

Selain kategori anak, Sekretaris I Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi NTT ini juga menerangkan bahwa secara umum yang positif 1/3 berjenis kelamin perempuan dan 2/3 berjenis kelamin laki-laki.

Perhatian Dinas PPPA

Terkait penanganan terhadap anak-anak positif Covid-19, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinas PPPA) Provinsi NTT, Sylvia Peku Djawang menyampaikan bahwa saat ini pihaknya hanya mengandalkan koordinasi terkait penanganan anak-anak yang terkonfirmasi positif Covid-19.

“Saat ini kita tidak bisa ke mana-mana. Contohnya, beberapa waktu lalu melalui Dinas PPPA Rote, mereka melakukan pemantauan dan mengambil peran terhadap anak perempuan berusia 8 tahun yang positif Covid-19 di Kecamatan Rote Timur," ungkap Sylvia seperti dilansir gardaindonesia.id.

Ia mengaku Kepada orang tua diberitahu mengenai kondisi psikologis anak-anak, dan saat ini untuk intervensi-intervensi penangangan karantina masih berupa penanganan medis karena pihaknya masih belum bisa intervensi setelah diisolasi.

"Kita tahu bahwa APBD kita untuk penanganan secara umum saja. Semoga dalam waktu dekat, dekon kita sudah bisa dieksekusi karena dekon Kementerian itu yang lebih spesifik," katanya.

Sebagai contoh, lanjutnya, kita bisa membiayai konseling untuk anak dengan memperlengkapi APD. Sebab, selama ini APD yang ada di seluruh provinsi hanya untuk petugas medis. Sementara untuk anak dan perempuan, ada satu aspek yang harus kita perlakukan berbeda daripada pasien laki-laki. Itu yang sementara kami buat,” ujarnya.

Ia mengaku, untuk saat ini, perlakuan khusus bagi perempuan dan anak belum bisa memakai APBD karena tidak bisa spesifik, sehingga hanya bergantung pada APBN.

“Kita sedang berkoordinasi detail untuk disahkan sehingga konseling-konseling itu bisa juga kita lakukan lewat telephone” urainya seraya memberikan contoh P2TP2A hanya lewat telephone.

"Memang saat ini banyak keterbatasan sehingga kami tidak bisa bergerak. Dana APBN dari Kementerian yang memang spesifikasi seperti tanggap Covid bagi perempuan dan anak. Memang pada saat ini dekon kita agak terlambat karena mereka harus menyandingkan untuk kebutuhan Covid bagi perempuan dan anak,” pungkas Sylvia.

--- Guche Montero

Komentar