Breaking News
  • Banjir landa 21 kelurahan di Tebing Tinggi
  • Imigrasi Ngurah Rai beri "exit pass" seminggu bagi wisman
  • Jokowi: Kawasan GBK Harus Jadi Ruang Publik Bagi Masyarakat
  • PVMBG: gas SO2 Gunung Agung menurun
  • Sebanyak 50 ton ikan Danau Maninjau mati

PARIWISATA Decotourism Flores; Gairah Wisata Berbasis Potensi Lokal 11 Jan 2018 11:09

Article image
Kegiatan Decotourism Flores Yang Digelar di Desa Detusoko, Ende (Foto: Nando)
“Salah satu point penting dari konsep pembangunan global yakni partnership for the goals juga sebuah gebrakan di tingkat lokal dalam payung Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Dengan kegiatan ini, RMC Detusoko berkolaborasi dengan Pemuda Asean melalui YSEALI

ENDE, IndonesiaSatu.co-- Remaja Mandiri Community (RMC) sebagai salah satu wadah kreativitas dan pengembangan kaum muda kembali menjadi mitra strategis saat menggelar kegiatan bertajuk “Detusoko Ecotourism (Decotourism) Flores” yang berlangsung di Detusoko, kabupaten Ende sejak 8-12 Januari 2018.

Kegiatan ini digagas oleh 10 pemuda-pemudi Indonesia Alumni Young South East Asian Leaders Initiative (YSEALI) yang berinisiatif untuk membangkitkan minat kaum muda dan pengembangan potensi lokal berbasi agriculture guna meningkatkan kesejahteraan dan pemerataan pembangunan di Indonesia secara khusus mewujudkan agrowisata di Desa Detusoko, kecamatatan Detusoko, kabupaten Ende.

“Sebagai proyek percontohan, kami berinisiatif membantu petani dan pemuda di Desa Detusoko, Ende guna membangkitkan sektor pertanian dan wisata yang menjadi urat nadi sekaligus gerbang kesejahteraan bagi masyarakat. Program ini didukung oleh Departemen Luar Negeri Amerika Serikat dan Kenan Institute Asia dalam kerjasama dengan RMC Detusoko dan Kelompok Tani Bungalomu Detusoko,” ungkap Tim Leader YSEALI, Muhammad Arsalan.

Senada Muhammad, Bertha Lovita Dwi I. P menilai, gagasan Decoturism berangkat dari potensi keindahan pemandangan alam yang ada di Detusoko, akses wisata dari Taman Nasional Kelimutu, potensi pertanian dengan keindahan hamparan panorama sawah bertingkat serta kearifan budaya lokal yang masih terjaga di Desa tersebut.

“Segmen pertanian dan agrowisata menjadi pilot project Decotourism. Juga kearifan budaya lokal yang sangat potensial untuk dikembangkan dan dioptimalkan. Kami menilai segala potensi yang belum dimanfaatkan secara optimal ini disebabkan oleh minimnya strategi promosi dan packaging pariwisata di Desa Detusoko. Maka dari itu, kami tergerak untuk berkontribusi mewujudkan agrowisata untuk Desa Detusoko. Dalam jangka panjang, kami ingin membangun wisata berbasis agrikultur yang ramah lingkungan di Detusoko bekerjasama dengan RMC Detusoko dan Kelompok Tani Bungalomu sehingga para wisatawan yang datang ke Detusoko dapat memaksimalkan pengalamannya dengan berbaur dengan penduduk lokal, berpartisipasi dalam kegiatan pertanian sembari menikmati indahnya pemandangan alam. Targetnya, masyarakat lokal dapat secara mandiri menjalankan industri pariwisata strategis di Flores yang merupakan salah satu dari 10 'Bali' baru yang diinisiasi pemerintah,” imbuh Dwi.

Tim YSEALI, Khoirun Nisa Sri Mumpuni menambahkan bahwa untuk mencapai tahap tersebut, pada tanggal 8-12 Januari 2018, Decotourism yang diwakili oleh Muhammad Arsalan, Khoirun Nisa Sri Mumpuni, Bertha Lovita Dwi I. P dan Eghileka Rajakopo akan mengadakan Decotourism Workshop.

“Decotourism Workshop bertujuan untuk membagikan ilmu dan networking dalam bidang modern marketing dan standar industri melalui social media yakni instagram: @decotourism.id, fanpage Facebook: Detusoko Eco Tourism juga website (www.decotourism.com). Kami juga akan melakukan school visit, eksplorasi pariwisata sekitar Detusoko, pembentukan destinasi paket dan merevitalisasi fasilitas wisata untuk mendukung kegiatan agrowisata. Diharapkan, agar melalui project Decotourism Flores ini dapat menumbuhkan gairah ramah wisata masyarakat untuk mengembangkan potensi pertanian dan agrowisata serta menghadirkan pengalaman wisata bagi para wisatawan juga masyarakat luas,” jelas Sri.

Sementara Nando Watu selaku founder RMC Detusoko mengungkapkan bahwa program ini sebagai sebuah upaya menerjemahkan konsep pembangunan Global, Sustainable Development Goals.

“Salah satu point penting dari konsep pembangunan global yakni partnership for the goals juga sebuah gebrakan di tingkat lokal dalam payung Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Dengan kegiatan ini, RMC Detusoko berkolaborasi dengan Pemuda Asean melalui YSEALI. Selain itu, Decotourism merupakan salah satu model implementasi dari Peraturan Menteri Pariwisata nomor 14 tentang pedomaan destinasi Pariwisata berkelanjutan guna meningkatkan ekonomi masyarakat lokal,” ungkap Nando.

Nando mengharapkan agar Flores menjadi prioritas pembangunan pariwisata berkelanjutan.

“Taman Nasional Kelimutu dan Detusoko sangat strategis untuk mendorong pembangunan ke depan. Karena itu,  RMC Detusoko sebagai komunitas kawula muda mengharapkan dukungan dan kerjasama dengan berbagai stakehoder guna menyiapkan SDM masyarakat di tingkat lokal sehingga dapat meningkatkan ekonomi masyrakat melalui aktivitas kepariwisataan. Karena karakter daerah Detusoko sebagai daerah pertanian, maka sangat cocok mengembangkan masyarakat lokal dalam payung agrowisata sesuai dengan amanah RIPARDA Kabupaten Ende yang menjadikan Detusoko sebagai bagian dari cluster pembangunan pariwisata berbasis pertanian,” pungkas alumni STFK Ledalero ini.

 

--- Guche Montero

Komentar