Breaking News

HANKAM Demo Tolak UU Cipta Kerja, Pangdam Jaya Amankan 100 Preman dari Subang, Banten, Tangerang 10 Oct 2020 14:34

Article image
Demo penolakan UU Cipta Kerja diwarnai aksi pembakaran halte bus Transjakarta Bundaran HI. (Foto: IDN Times).
Dari hasil pemeriksaan, kata Dudung, ratusan orang tersebut bukan dari kalangan pelajar, mahasiswa, ataupun buruh. Dudung menyebut mereka preman bayaran.

JAKARTA, IndonesiaSatu.coAksi  penolakan UU Cipta Kerja yang berakhir anarkis di DKI Jakarta ternyata tidak murni dilakukan para buruh tapi oleh para preman pengangguran. Para preman itu diketahui didatangkan dari luar DKI Jakarta, seperti Subang, Banteng, Tangerang, dan Pamanukan.

Hal ini diungkapkan Pangdam Jaya Maujen TNI Dudung Abdurachman di Jakarta, Sabtu (9/10/2020).  

"Seratusan lebih. Yang saya kemarin tahu ya, dari Subang, Banten, Tangerang, kemudian Pamanukan, itu saja. Tapi kan itu yang kami amankan sebelum demo mulai," kata Dudung kepada seperti diberitakan detik.com.

Dari hasil pemeriksaan, kata Dudung, ratusan orang tersebut bukan dari kalangan pelajar, mahasiswa, ataupun buruh. Dudung menyebut mereka preman bayaran.

"Itu orang-orang nggak sekolah semua rata-rata. Bukan, kalau buruh malah nggak ada justru. (Mereka) pengangguran, preman-preman. Dia itu di WhatsApp group-nya dijanjikan akan dikasih uang setelah demo selesai," ungkap Dudung.

Dudung pun sempat bertanya kepada para preman asal Pamanukan soal siapa yang menyuruh mereka ikut aksi demonstrasi tolak UU Cipta Kerja.

"Justru saya tanya, 'Yang gerakkan kamu siapa?', 'Ketinggalan, Pak, di Pamanukan, nggak ke sini'. Kan kurang ajar tuh, yang gerakin malah tidak bergerak," ucap Dudung.

Dudung menduga penggerak para preman itu sengaja memberi imbalan seusai demonstrasi agar, saat menjalankan aksinya, para preman kelaparan. Dalam kondisi lapar, Dudung berpendapat, seseorang akan terpancing berbuat anarki.

"Saya nggak tahu besaran uang (imbalan)-nya. Cuma di dompet itu ada yang kosong, ada yang cuma Rp 10 ribu. Kasihan itu mereka itu. Memang dibuat lapar mereka kan, biar anarkis. Keterangan lebih lanjut kan lagi diselidiki Kapolda. Di Polda," tutur Dudung.

Seperti diketahui, sebelumnya, pada Kamis (8/10/2020), Jakarta dan sekitarnya diwarnai aksi demo yang menolak UU Cipta Kerja. Di beberapa tempat, aksi demo berakhir rusuh dan anarkis. Peserta demo berasal dari berbagai elemen, di antaranya mahasiswa dan buruh melakukan pengrusakan fasilitas umum.

Namun diduga ada kelompok perusuh yang sengaja membuat panas situasi. Kelompok ini diduga sebagai pelaku perusakan berbagai fasilitas umum, mulai halte Bus TransJakarta, stasiun MRT, pos polisi, bioskop, dan objek lainnya.

--- Simon Leya

Komentar