Breaking News
  • BI Sudah Habiskan Rp 11 T untuk Kuatkan Rupiah
  • Gempa 7,8 SR Guncang Fiji
  • Kemensos: Bansos Saja Tak Cukup Tangani Kemiskinan
  • Resmi! Pendaftaran CPNS 2018 Dibuka 19 September
  • Wadahi Mahasiswa yang Suka Piknik, Kemenpar Resmikan GenPI UBM

KEUANGAN Deposito Sebagai Wakaf Tunai Sementara 06 Aug 2018 17:47

Article image
Suasana Focus Group Discussion (FGD) Pengmas Akuntansi dan Manajemen Investasi Lembaga Wakaf Tunai di Kota Depok dan sekitarnya. (Foto; ist)
“Potensi wakaf juga terdapat pada dana deposito di bank yang bisa menjadi wakaf sementara dengan hasilnya diberikan pada nazhir, ketika kontrak berakhir maka bagi hasil kembali ke pemilik deposito...”

DEPOK, IndonesiaSatu.co -- Wakaf tunai sejatinya memiliki banyak metode, salah satunya adalah deposito sebagai wakaf tunai sementara. Hal itu terungkap dalam Focus Group Discussion (FGD) Program Pengabdian Masyarakat (Pengmas) bertajuk “Akuntansi dan Manajemen Investasi Lembaga Wakaf tunai di Kota Depok dan Sekitarnya” yang dilakukan pada Juni – Juli 2018 di Universitas Indonesia (UI).

“Potensi wakaf juga terdapat pada dana deposito di bank yang bisa menjadi wakaf sementara dengan hasilnya diberikan pada nazhir, ketika kontrak berakhir maka bagi hasil kembali ke pemilik deposito,” kata Dr. Umanto, salah satu tim program dalam siaran pers yang dirilis Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) UI, Senin (6/8/2018).

Menurut Dr Umanto, manajemen investasi lembaga wakaf tunai sesuai dengan jumlah dana wakaf yang ada sehingga jumlah investasi yang dialokasikan juga terbatas. Untuk wakaf uang, pilihan investasi dialokasikan ke pemberian modal kerja bagi Usaha Kecil. Alokasi dari wakaf uang bisa juga digunakan juga untuk aset yang bersifat sosial, tidak produktif. Ini yang disebut dengan wakaf melalui uang sebenarnya.

 “Deposito sebagai wakaf tunai sementara itu, adalah bagian dari manajemen investasi lembaga wakaf”, tegas Dr. Umanto.

Penggunaan deposito sebagai wakaf sementara sudah banyak dilakukan di berbagai negara misalnya di Malaysia. Di sana bank-bank syariah berlomba dalam memasarkan produk ini karena menambah nilai sosial dan bagi bank syariah tidak ada dampak negative, malah sebaliknya. Perlu adanya dukungangan dari bank-bank syariah di Indonesia untuk mengembangkan program wakaf tunai dengan basis deposito ini. Di samping itu, keamanan dari model ini sangat baik karena yang bisa mencairkan tetap pemilik deposito.

Akuntansi Wakaf

Dalam program ini juga dilakukan pembahasan mengenai Eksposure Draft (ED) 112 Akuntansi Wakaf. Beberapa hal yang mendapat perhatian adalah masalah pelaporan nazhir dan penggabungan laporan keuangan dengan lembaga yang menaungi di atasnya. Hal ini juga terkait dengan laporan konsolidasi yang menjadi perhatian apa perlu digabung atau tidak karena hal ini terkait dengan hukum secara umum yang berlaku mengenai kepemilikan atau unit bagian nazhir.

Isu lain yang menarik adalah wakaf sementara yang dikategorikan sebagai utang sedangkan di akuntansi nirlaba masuk sebagai dana ekuitas sebagai terikat sementara. Untuk pengukuran, diperlukan pengukuran lain untuk aset selain uang karena mempunyai karakteristik yang berbeda dan spesifik.

Jika Standar Akuntansi Wakaf ini selesai dan diterbitkan, Indonesia menjadi negara pertama yang mempunyai standar Akuntansi Wakaf. Momentum ini harus digunakan untuk meningkatkan akuntabilitas dan pelaporan lembaga wakaf sehingga masyarakat pun menjadi tertarik dan ikut serta dalam program wakaf ini.

Berkaca dari Singapura

Lembaga wakaf tunai merupakan lembaga yang mempunyai potensi besar dalam pengembangan ekonomi dan pengentasan masalah sosial di masyarakat. Di berbagai negara, lembaga wakaf dapat memberikan kontribusi yang besar dalam kegiatan sosial di masyarakat, misalnya di Singapura. Lembaga wakaf di Singapura yang disebut dengan Warees Investments Pte. Ltd mempunyai aset yang cukup besar hingga Rp6,5 triliun pada tahun 2014.

Aset wakaf terdiri dari mall, hotel, apartemen, rumah toko dan properti lainnya. Dari hasil investasi tersebut dapat digunakan untuk membiayai sekolah, masjid dan kegiatan sosial lainnya. Tidak semua dana yang dihasilkan untuk kegiatan, sisanya diputar untuk diinvestasikan kembali. Di sana pelaporan dana wakaf dilaporkan oleh Majelis Ugama Islam Singapore (MUIS) dan manajemen investasi ditangani secara andal oleh profesional.

Berangkat dari kisah sukses di Singapura dan negara lainnya seperti Qatar, maka perlu dibuat program Pengabdian masyarakat (Pengmas) dengan topik akuntansi dan manajemen investasi lembaga wakaf tunai di kota Depok dan sekitarnya.

Menurut catatan Badan Wakaf Indonesia, saat ini terdapat 192 lembaga wakaf uang atau tunai. Jumlah lembaga yang banyak ini seharusnya didukung juga dengan jumlah aset wakaf dan hasil investasi yang besar. Namun demikian, hal yang terjadi adalah belum ada dampak yang signifikan dari keberadaan lembaga wakaf uang atau tunai yang banyak ini. Nah, di sinilah tujuan dilakukan program ini yang fokus pada lembaga wakaf tunai di kota Depok dan sekitarnya agar lebih fokus.

--- Sandy Romualdus

Komentar