Breaking News
  • BI: penurunan suku bunga mendorong intermediasi perbankan
  • BI: penurunan suku bunga sudah perhitungkan FFR
  • Perusahaan China bidik sejumlah proyek infrastruktur di Indonesia
  • Petambak Lombok berpenghasilan Rp20 juta per bulan
  • Tiga BUMN kembangkan pelabuhan dukung Tol Laut

PARIWISATA Desa Waturaka, Dari Sadar Wisata Hingga Penghargaan Nasional 19 May 2017 07:10

Article image
Pemandangan di Desa Waturaka yang terpilih sebagai Desa Wisata Terbaik Kategori Alam di Indonesia 2017. (Foto: Ist)
Kesadaran dan pemahaman masyarakat harus terbentuk agar kekayaan alam dapat membawa berkah bukan sebaliknya mendatangkan bencana.

KABUPATEN Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan salah satu destinasi wisata bagi para wisatawan baik domestik maupun manca negara. Danau triwarna Kelimutu sebagai salah satu objek wisata yang sudah mendunia dan termasuk salah satu keajaiban dunia, tentu menjadi daya tarik tersendiri. Tercatat, hingga Mei 2016 sebanyak 21. 088 orang mengunjungi Taman Nasional Kelimutu. Dari jumlah tersebut, sebanyak 3.495 wisatan asing. Jumlah tersebut mengalami peningkatan pada akhir 2016 yakni 50.324 wisatawan domestik dan 12. 633 wisatawan asing.

“Jumlah wisatawan terus meningkat signifikan setiap tahun. Ende dan beberapa kabupaten lain di Flores tentu memiliki akses destinasi wisata yang potensial jika dikembangkan secara optimal. Wisata tidak semata memperhatikan objek wista melainkan bagaimana memberdayakan kehidupan masyarakat di sekitar objek wisata. Masyakat perlu diberi pengetahuan (SDM) yang baik tentang keuntungan di balik potensi wisata agar mampu membangun relasi yang baik dengan para wisatawan. Potensi lokal (makanan, musik, budaya, kain tenun, dan lain-lain) juga harus diberdayakan sebagai daya tarik wisatawan untuk dapat mengalami dan merasakan bagaimana hidup dengan masyarakat secara natural, original,” ungkap Nando Watu, salah seorang fasilitator lokal dari community Based Tourism (CBT) Swisscontact di Desa Waturaka, Selasa (16/5/2017).

Sejatinya, konsep pengembangan pariwisata harus berbasis masyarakat dengan mengedepankan partisipasi dan peran serta dari para wisatawan dengan masyarakat setempat/lokal. Tujuannya agar selain terjalin relasi, juga segala potensi lokal dapat mendatangkan keuntungan/menopang ekonomi masyarakat.

“Jika konsep pengembangan pariwisata hanya berorientasi pada objek wisata semata, maka hal itu sangat disayangkan. Tidak heran jika para wisatawan hanya menikmati atau mengagumi objek wisata yang ada lalu dengan bantuan media melakukan propaganda/promosi wisata. Sementara sisi pemberdayaan dan keuntungan (ekonomis) bagi masyarakat atau daerah setempat sangat minim. Wisata seharusnya  membawa dampak sosial dan keuntungan (profit),” tandasnya.

Ingin maju

Sejak dimekarkan dari desa induk Koanara tahun 2011, Desa Waturaka yang berada persis di bawah kaki gunung Kelimutu, Kecamatan Kelimutu, telah menggagas pengembangan wisata alam sebagai prioritas. Konsep agro-wisata tersebut dimulai dari kelompok sadar wisata (pokdarwis) Waturaka, peraturan desa (perdes) tentang pengelolaan wisata, pengembangan pertanian organik, pemberdayaan sanggar musik dan budaya tradisional, terbentuknya komunitas penggiat wisata alam hingga dibangunnya 15 homestay milik masyarakat. Beberapa objek wisata alam yang sering dikunjungi wisatawan yakni air terjun Murukeba dan air panas Kolorongo.

“Kami memulai terobosan dari desa terutama potensi wisata alam yang harus dijaga, dirawat dan dilestarikan. Kesadaran dan pemahaman masyarakat harus terbentuk agar kekayaan alam dapat membawa berkah bukan sebaliknya mendatangkan bencana. Misalnya, danau Kelimutu yang sudah dikenal di mana-mana harus membawa berkah bagi masyarakat di sekitarnya bukan hanya objeknya yang dikenal tetapi juga masyarakatnya,” ungkap Kepala Desa Waturaka, Aloysius Djira Loy, Rabu (17/5/17).

Tiga tahun membangun komitmen guna menjadikan desa Waturaka sebagai salah satu potensi wisata alam, setimpal dengan penghargaan tingkat kabupaten Ende. Berturut-turt pada tahun 2014 dan 2015, desa Waturaka dinobatkan sebagai desa wisata terbaik se-kabupaten Ende.

“Penghargaan yang diberikan merupakan motivasi dan dukungan dari pemerintah kabupaten yang terus mendorong pembangunan dan pengembangan dari desa termasuk wisata alam. Semuanya berkat kerjasama masyarakat dan pemerintah desa juga kontribusi dari berbagai pihak terutama Swisscontact yang terus memberikan pendampingan, pengetahuan dan konsep tentang pengembangan wisata. Kami semua bangga karena semuanya berkat visi-misi bersama,” lanjut Aloysius.

Harumkan NTT

Dalam rangka mendukung visi pemerintah untuk memajukan daerah melalui sektor pariwisata,  Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT), berhasil menggelar kegiatan Expo Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) 2017 yang diselenggarakan di lapangan Wirabraja Bukittinggi, Sumatera Barat, Sabtu (13/5/2017). Terdapat sepuluh desa wisata terbaik dari masing-masing kategori berhasil menerima penghargaan tingkat Nasional yang langsung diserahkan oleh Menteri Eko Putro Sandjojo ini.

Desa Waturaka menjadi satu-satunya yang mewakili ratusan desa wisata di NTT yang berhasil menyabet penghargaan sebagai desa wisata alam terbaik tingkat nasional. Sementara sembilan desa lain yaitu desa adat Nagari di Kabupaten Pesisir Selatan untuk kategori perkembangan tercepat, Desa Madobak di kepualauan Mentawai sebagai desa adat, Desa Tamansari di Banyuwangi sebagai desa wisata jejaring bisnis, Desa Pujon Kidul di Malang sebagai desa wisata agro, desa Seigentung di gunung Kidul sebagai desa wisata Iptek, desa Ubud di Gianyar sebagai desa wisata budaya, Desa Ponggok di Klaten sebagai desa pemberdayaan masyarakat, Desa Teluk Meranti di Pelalawan sebagai desa wisata kreatif, dan desa Bontagula di Bontang sebagai desa wisata Maritim

“Potensi desa harus ikut memajukan aktivitas ekonomi agar desa mampu berkembang dan berprestasi terutama dalam mengoptimalkan keunggulan objek wisata dan destinasi yang dimiliki untuk meningkatkan kesejahteraan. Sebab, aktivitas ekonomi desa dapat menopang ekonomi perkotaan. Hal tersebut berlaku ketika desa berhasil bergerak menjadi pusat produksi dan motor penggerak ekonomi,” kata Menteri Eko Sandjojo.

Ia menjelaskan bahwa kegiatan tersebut juga termasuk dalam empat program prioritas pemerintah tahun 2017 dengan sasaran utama pembangunan desa yaitu pengembangan produk unggulan desa (prukades), BUMDes, membuat embung, dan sarana olahraga.

“Program dana desa telah memberikan kesempatan bagi pembangunan desa. Perlu pengembangan Badan Usaha Milik Desa sebagai holding company (perusahaan induk) di desa. Total dana desa tahun 2016 mencapai Rp 46,9 Triliun yang tersebar di 74. 754 desa. Rata-rata desa mendapat 600-700 juta dana desa belum termasuk anggaran desa dari pemerintah provinsi dan kabupaten. Desa harus mengoptimalkan segala potensi sehingga mampu berkembang dan berprestasi serta menopang ekonomi menuju kemandirian dan kesejahteraan,” tandas Menteri.

Prestasi Desa Waturaka ini diapresiasi berbagai pihak. Potensi destinasi wisata di Ende, pada khususnya dan di NTT pada umumnya, sesungguhnya menjadi salah satu (bukan satu-satunya) identitas dan jati diri daerah jika dioptimalkan.

“Apresiasi dan bangga karena menorehkan prestasi di tingkat nasional. Hendaknya prestasi itu menjadi daya dorong bagi desa-desa lain untuk mengembangkan dan mengoptimalkan berbagai potensi yang ada. Desa harus menjadi pilot pembangunan dan motor penggerak aktivitas ekonomi masyarakat,” kata Ignatius Gharu, Camat Kelimutu.

 

--- Guche Montero

 

 

 

Komentar