Breaking News
  • Bos First Travel Andika Divonis 20 Tahun, Istrinya 18 Tahun
  • Dolar AS Melambung, Harga Premium dan Solar Tak Naik Tahun Ini
  • Hendropriyono: TNI/Polri Jangan Takut Tegakkan Hukum
  • JK: Eks Koruptor Dilarang Nyaleg Agar Wibawa DPR Baik
  • Jonan Targetkan Akuisisi Saham Freeport Rampung Juni

HANKAM Detik-detik Pembebasan Ratusan Sandera KKB di Timika 18 Nov 2017 16:51

Article image
Pembebasan Ratusan Sandera KKB di Timika. (Foto: ist)
Tim Pasukan Parako Kopassus dan Kostrad TNI hanya dalam 78 menit, berhasil menguasai dan membuat KKB kocar-kacir hutan.

TIMIKA, IndonesiaSatu.co – Proses pembebasan sandera oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Timika, Papua, Jumat (17/11) kemarin meninggalkan sejumlah cerita mencengangkan dan menuai decak kagum. Sebut saja tim Pasukan Parako Kopassus dan Kostrad TNI hanya dalam 78 menit, berhasil menguasai dan membuat KKB kocar-kacir hutan.

Dalam aksi bertajuk Operasi Raid dan Perebutan Cepat Area Kimberley Papua ini, pasukan Kopassus diback-up oleh anggota Yonif-715/Raider dan Tontaipur Kostrad. Kapendam XVII/Cendrawasih, Kolonel Inf Muhammad Aidi pun menceritakan detik-detik penyerbuan tersebut.

Dia menyebutkan, pasukan TNI sudah bergerak ke lokasi sasaran sejak lima hari sebelumnya. Mereka terdiri dari Kopassus 13 personel, 20 personel dari Batalyon 751/Rider, dengan tugas khusus merebut Kampung Kimbeli dari KKB.

Selain itu, Peleton Intai Tempur Kostrad bersama Batalyon Infanteri 754/Eme Neme Kangasi dengan personel masing-masing 10 orang. Tugasnya adalah merebut Kampung Banti.

"Mereka bergerak dengan sangat senyap, sangat rahasia pada malam hari. Lalu pada siang hari mereka mengendap, membeku. Sambil mempelajari situasi secara perlahan sekali mereka sampai di titik sasaran. Bahkan dilaporkan satu hari sebelum jam yang disepakati untuk menyerbu, pasukan kita sudah berada di lokasi masing-masing dan selama satu hari itu mereka tidak makan," jelas Kolonel Inf Muhammad Aidi di Timika, Sabtu (18/11).

Rencana menyerbu KKB yang berada di Banti dan Kimbeli pada Kamis (16/11) urung dilakukan mengingat saat itu kelompok separatis sudah membaur dengan masyarakat. "Saat itu anggota sudah meminta izin kepada Pangdam untuk segera mengatasi KKB karena jarak mereka hanya sekitar 30-50 meter dan ada anggota KKB yang menenteng senjata api," kata Aidi.

Namun Pangdam Cenderawasih memberikan petunjuk bahwa jika KKB masih membaur dengan masyarakat sipil maka tidak boleh diapa-apakan karena operasi penumpasan KKB Tembagapura itu lebih  mengutamakan keselamatan warga sipil.

Lalu, Jumat (17/11) pagi kemarin, sejumlah pentolan KKB yang baru bangun bergerak ke pos-pos di wilayah ketinggian yang sudah mereka dirikan. Di pos-pos itu sejumlah bendera kelompok separatis Papua merdeka berkibar di sana.

Saat itulah, pasukan TNI serentak menyerbu Kampung Kimbeli dan Banti. Kelompok separatis bersenjata itu kocar-kacir menyelamatkan diri ke dalam hutan dan ke  area ketinggian sambil menyerang aparat dengan tembakan bertubi-tubi. Saat penyerbuan itu dilakukan, jarak pandang di lokasi itu hanya sekitar tiga hingga lima meter karena masih berkabut tebal.

Setelah KKB lari kocar-kacir meninggalkan kedua kampung itu, aparat gabungan TNI dan Polri lain  bergegas menuju dua kampung itu untuk membebaskan ratusan warga yang disandera.

Kolonel Aidi Aidi, pada pukul 08.18 seluruh area Kimberley berhasil dikuasai anggota TNI. Namun saat proses pembebasan para sandera, ada kejadian menegangkan karena KKB yang berlarian ke hutan juga melepaskan tembakan.

Dia mengungkapkan, saat proses evakuasi warga masih berlangsung, kontak tembak antara aparat TNI-Brimob dengan KKB masih terus berlangsung dalam kurun waktu kurang dari dua jam. "Kami belum bisa memastikan apakah dari pihak mereka ada korban atau tidak," kata Aidi.

Kepala Kepolisian Daerah Papua Irjen Polisi Boy Rafli Amar dan Panglima Daerah Militer XVII/Cenderawasih Mayjen TNI George Elnadus Supit nyaris tertembak KKB saat ikut mengevakuasi ratusan warga di Banti, Kimbeli dan area longsoran, Distrik Tembagapura.

"Saat kegiatan evakuasi warga oleh tim gabungan TNI dan Polri, anggota kita masih diserang dengan tembakan oleh KKB dari jarak jauh dan ketinggian. Bahkan Bapak Kapolda dan Bapak Pangdam diberitakan hampir terkena," kata Kolonel Aidi.

Aidi mengakui upaya pembebasan 344 warga sipil terisolasi di tiga tempat itu penuh risiko lantaran KKB terus menghujani aparat dan warga dengan tembakan, meski dari jarak yang cukup jauh. "Itulah risiko yang diambil aparat TNI dan Polri untuk menyelamatkan masyarakat demi kepentingan kemanusiaan. Terkadang keselamatan dirinya sendiri diabaikan demi untuk menyelamatkan  masyarakat," kata Aidi.

--- Sandy Romualdus

Komentar