Breaking News

PENDIDIKAN Di Malaysia UN Sudah Lama Tidak Digunakan 14 Dec 2019 12:39

Article image
Menteri Pendidikan Malaysia, Dr Mazlee Bin Malik. (Foto: Iluminasi)
Bagi anak-anak SD, diutamakan literasi saintifik dan keutamaan mereka berfikir secara saintifik karena kalau mereka tidak dibiasakan berfikir secara saintifik maka mereka akan kesulitan menyelesaikan masalah secara saintifik.

KUALA LUMPUR, IndonesiaSatu.co -- Program penghapusan ujian nasional (UN) oleh Menteri Pendidikan (Mendikbud) Nadiem Makarim yang dimulai tahun 2021 masih menuai pro dan kontra. Ada yang berpendapat, Indonesia belum saatnya menghapus UN layaknya negara-negara maju.

Ternyata argumen yang menentang dihapuskannya UN di atas terpatahkan bila merujuk pada sesama negara belum maju seperti Malaysia.

Menteri Pendidikan Malaysia, Dr Mazlee Bin Malik mengatakan UN sudah lama tak digunakan di Negeri Jiran itu. 

Pembinaan holistik para pelajar sebagai tolak ukur yang paling penting, kata Mazlee kepada Tempo.co yang mewawancarainya di Kementerian Pendidikan Malaysia, Putrajaya, Jumat (13/12/2019) .

Dia mengatakan, di Kelas 1, 2 dan 3 sekolah dasar (darjah) pihaknya tidak melakukan ujian wajib. 

"Kita tidak ada ujian wajib tetapi yang kita adakan adalah penilaian secara terintegrasi kepada setiap murid. Ini yang berlaku di negara-negara maju," katanya.

"Jadi pada peringkat tiga tahun di awal kita tumpukan pada membaca. Di sekolah-sekolah Malaysia kita adakan sudut-sudut pidato di mana setiap murid akan dinilai kemahirannya berpidato di depan umum," katanya.

Dia mengatakan apa yang mereka baca dinilai secara bertahap sehingga pada penghujungnya anak-anak tidak sekadar bisa membaca tetapi faham apa yang mereka baca dan mampu mengolah apa yang mereka baca.

"Selain itu mereka mempunyai kemahiran kritikal mampu menilai apa yang mereka baca dan sejauh mana keperluan bagi kehidupan mereka. Ini yang paling dasar," ujarnya.

Yang kedua, lanjut dia untuk menggalakkan budaya membaca pihaknya meminta kepada semua pihak di kementerian untuk melakukan penilaian kepada pegawa untuk kenaikan pangkat harus disertai dengan bahan bacaan mereka.

"Buku apa yang telah mereka baca dan konteks bahan bacaan juga penting, kita tidak menafikan konten fiksi karena bermanfaat untuk membangun ruang kreatif tetapi juga bacaan fakta atau saintifik," katanya.

Karena itu bagi anak-anak SD, ujar dia diutamakan literasi saintifik dan keutamaan mereka berfikir secara saintifik karena kalau mereka tidak dibiasakan berfikir secara saintifik maka mereka akan kesulitan menyelesaikan masalah secara saintifik.

"Jadi dari awal kita ingin membangun scientic mindset atau scientic mentalitiy," kata Menteri Pendidikan Malaysia ini.

--- Simon Leya

Komentar