Breaking News
  • BI: penurunan suku bunga mendorong intermediasi perbankan
  • BI: penurunan suku bunga sudah perhitungkan FFR
  • Perusahaan China bidik sejumlah proyek infrastruktur di Indonesia
  • Petambak Lombok berpenghasilan Rp20 juta per bulan
  • Tiga BUMN kembangkan pelabuhan dukung Tol Laut

LINGKUNGAN HIDUP Di TWNC, Jenderal Gatot Lepas “Anak Gadis” ke Alam Liar 14 Jun 2017 06:01

Article image
Seekor harimau bernama Mulli dilepas ke alam liar oleh Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo didampingi pendiri Artha Graha Peduli Tomy Winata. (Foto: Jawa Pos)
Pelepasan ke alam liar dilakukan setelah Tim Kesehatan Hewan menyatakan bahwa Mulli, bocah harimau itu sudah sembuh dan bisa mandiri.

Lampung, IndonesiaSatu.co -- Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo didampingi pendiri Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC) Tomy Winata dan para pejabat TNI dari Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara melepaskan harimau Sumatera belia bernama “Mulli” di Tambling, Kabupaten Pesisir Barat, Lampung, Sabtu (10/6/2017).

“Pelepasan harimau tersebut dilakukan setelah tim kesehatan hewan menyatakan bahwa bocah harimau itu sudah sembuh dan bisa mandiri di alam liar," ujar Panglima seusai melepas Mulli, yang artinya 'anak gadis'.

Disebutkan, dua tahun lalu, TWNC menemukan Mulli dalam kondisi terluka dan kekurangan gizi, lalu dirawat hingga sembuh dan sehat. Anak harimau yang malang tersebut ditemukan oleh Suwegnyo (40), salah satu pekerja di kawasan konservasi TWNC, pada 21 September 2015.

Bayu menceritakan, Suwegnyo melihat dua ekor harimau dekat pos jaga muara sekitar pemukiman penduduk di Dusun Pengekahan, Kabupaten Pesisir Barat.

"Sekitar pukul 13.30 WIB, anak harimau menuju semak-semak di depan pos jaga muara bersama induknya," ujarnya.

Kejadian tersebut, lanjutnya, dilaporkan kepada pos TNWC yang berada tak jauh dari lokasi. Setelah diamati, kondisi anak harimau tak bergerak karena kondisi yang memprihatinkan.

"Terdapat luka besar di perut dan tercium bau busuk, maka tim mengevakuasi anak harimau itu ke pusat rehabilitasi satwa TNWC," jelas Bayu.

Untuk diketahui, kawasan konservasi seluas 50 ribu hektare itu dikelola oleh manajemen TWNC di bawah Yayasan Artha Graha Peduli. AGP berkolaborasi dengan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Lampung. Semuanya bergerak di bawah bimbingan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Pemerintah Kabupaten Pesisir Barat dengan mandat menjaga kelestarian flora dan fauna.

Konservasi hutan

Dalam kesempatan ini, Jenderal Gatot menekankan kawasan hutan tidak hanya untuk dijadikan sebagai tempat latihan bagi pasukan TNI, tetapi juga untuk  lebih mengenal flora dan fauna di dalamnya dan bukan untuk dibunuh. 

Hutan di mata Gatot memiliki fungsi yang sangat strategis, salah satunya menunjang kecakapan para prajurit TNI dalam melakukan berbagai latihan.

"Bagi TNI, hutan konservasi memiliki nilai strategis, oleh sebab itu apabila menginginkan hutan itu abadi maka kewajiban kita semua untuk menjaga dan melestarikannya," kata Panglima.  

Panglima menekankan perlunya konservasi hutan untuk menghadapi kecenderungan merusak hutan ataupun erosi. Konservasi hutan dapat menjaga ekosistem hutan. 

"Kondisi hutan konservasi di Tanah Air saat ini, masih banyak yang rusak atau erosi dibandingkan konservasinya," pungkas Jenderal Gatot.

--- Redem Kono

Komentar