Breaking News
  • Indonesia-Australia jajaki tarif 0 persen untuk tiga komoditas
  • Kemendag amankan minuman beralkohol tanpa izin impor
  • Laos tertarik alutsista dan pupuk Indonesia
  • OJK: Masyarakat banyak belum paham fungsi produk jasa keuangan

REGIONAL Di Wolowaru-Ende, Resonansi Literasi Mulai Digagas untuk Publik 11 Oct 2017 13:44

Article image
Gerakan literasi untuk umum di pastoran Paroki Hati Amat Kudus Wolowaru. (Foto: ist)
Jika anak-anak sudah dibiasakan dengan sinetron atau handphone, maka bukan tidak mungkin, pendidikan karakter, nilai diri, aspek moral hingga mentalitas sosial akan semakin merosot.

ENDE, IndonesiaSatu.co -- Gerakan literasi yang awalnya digagas untuk membangkitkan minat baca dan tulis terutama bagi para siswa Sekolah Dasar (SD) melalui rumah baca, taman baca juga pustaka mini, kini mulai digagas untuk umum (publik). Hal itu diungkapkan Vikar Laka kepada IndonesiaSatu.co, Senin (9/10/2017).

Sebagai salah satu inisiator gerakan Literasi Bersama di Kecamatan Wolowaru, Kabupaten Ende, Vikar mengatakan bahwa inisiatifnya membuka ruang baca bagi umum setiap malam Minggu di pendopo pastoran Paroki Hati Amat Kudus Wolowaru, akhirnya direspon baik oleh Pastor Dekan, Pater Lorens Woda.

"Karena ini gerakan literasi bersama, maka saya dan Pater Lorens berinisiatif membuka ruang baca untuk umum setiap malam Minggu bertempat di pendopo pastoran Paroki. Kami berpikir, siapa saja perlu diberi ruang untuk menimba hal-hal yang bersifat edukatif selain anak-anak sekolah. Para guru dan orang tua perlu disadarkan untuk belajar membimbing, mengarahkan dan mendidik anak-anak dengan hal-hal positif terutama membaca dan menulis," ungkap Vikar yang juga penggagas berdirinya rumah baca Ila One Nua (ION) Detupau.

Menurut Vikar, dengan adanya kesempatan untuk umum ini, dapat ditemukan sejauh mana tingkat antusiasme, minat dan kesadaran publik terhadap gerakan literasi yang tengah dikembangkan secara intensif di berbagai pelosok daerah.

"Harus ada resonansi gerakan literasi yang dibuat secara terus-menerus. Memang tidak mudah mengubah kebiasaan dari yang suka menonton sinetron atau berjam-jam menggunakan handphone agar berminat membaca dan menulis. Cenderung ada anggapan bahwa membaca dan menulis hanya urusan dunia pendidikan. Pola pikir (mindset) ini yang coba disadarkan dengan ruang literasi bersama ini, tanpa ada batasan usia dan jenjang pendidikan meski referensi bacaan masih sangat terbatas," lanjutnya.

Sementara Pater Lorens memberikan apresiasi atas inisitif untuk menciptakan kultur edukatif melalui gerakan literasi bersama untuk publik.

"Bagaimana anak bisa tahu baca dan tahu tulis jika tidak dibiasakan dari kecil? Jika anak-anak sudah dibiasakan dengan sinetron atau handphone, maka bukan tidak mungkin, pendidikan karakter, nilai diri,  aspek moral hingga mentalitas sosial akan semakin merosot. Harus diakui, di tengah arus modernisasi dengan kemajuan teknologi dan informasi, jika tidak diimbangi dengan budaya literasi, anak-anak akan menjadi generasi yang gagap," katanya.

Pastor moderator Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Wolowaru ini mengharapkan agar para orang tua, keluarga dan lingkungan masyarakat harus menjadi wadah yang ramah dan aman dalam mendukung pendidikan anak-anak.

"Jika tidak ada kesibukan berarti, setiap malam Minggu ajaklah anak-anak ke pastoran paroki untuk baca dan tulis. Pendopo pastoran terbuka untuk umum asal sungguh-sungguh manfaatkan waktu secara baik. Mari kita dukung gerakan literasi sebagai budaya dalam mencerdaskan anak-anak sebagai generasi bangsa juga generasi gereja secara universal dalam karya misionernya bagi anak-anak," tandasnya.

Meski baru digagas untuk umum, kegiatan ini mendapat kesan positif sebagaimana diutarakan oleh Nifa.

"Ada suasana yang beda. Semua sibuk dengan buku-buku bacaan dan sebagian anak-anak belajar menulis. Jika diarahkan dan dikontrol secara baik maka kemampuan membaca dan menulis akan semakin diasah dengan baik. Semoga kegiatan ini dipertahankan dan dilanjutkan. Ini benar-benar bernilai edukatif," kesan Nifa yang juga salah seorang tenaga pendidik ini.

 

--- Guche Montero

Komentar