Breaking News
  • Bekasi siapkan 1000 polisi kawal buruh pada May Day
  • Bupati Mojokerto ditetapkan tersangka suap dan gratifikasi
  • Evakuasi pesawat Lion belum selesai, bandara Gorontalo masih ditutup
  • INKA Mulai Kirim "LRT" ke Sumatera Selatan
  • Jokowi Akan Jajaki Ruas Jalan Trans Papua-Papua Barat

REGIONAL Dialog dengan PMKRI Maumere, Blasius Bapa: Jangan Lupa Sejarah! 12 May 2018 09:07

Article image
Para Aktivis PMKRI Cabang Maumere usai Berdialog dengan Sesepuh Kabupaten Sikka, Blasius Bapa (Foto: Fill)
“Jangan pernah lupa sejarah. Karena dari sejarah juga kita belajar untuk peka terhadap situasi sosial di tengah masyarakat. Anak muda harus punya idealisme perjuangan dalam mengisi kemerdekaan bangsa ini,” ungkap Opa Blas.

MAUMERE, IndonesiaSatu.co-- Sesepuh kabupaten Sikka sekaligus saksi sejarah sejak jaman Orde Baru (Orba), Blasius Bapa, Kamis (10/5/18) berkesempatan berdialog dengan para aktivis Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Maumere bertempat di kediamannya di Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Sesuai rilis yang diterima media ini, Jumat (11/5), pada kesempatan dialog tersebut, ayah kandung dari Melkias Markus Mekeng yang biasa disapa Opa Blas ini menceritakan pengalaman sejarah saat dirinya menjadi salah satu saksi peristiwa Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G30S-PKI).

“Pada tahun 60-an, saya dipercayakan menjadi salah satu staf dari pahlawan revolusi, Jenderal Suharto dan juga menjadi staf dari tokoh nasional asal Maumere, Bapak Frans Seda. Sebelum terjadi G30S-PKI, sudah banyak pemberontakan yang dilakukan oleh PKI, di antaranya pemberontakan di Madiun. Ada juga perilaku yang mencurigakan dari beberapa oknum Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) yang melakukan aktivitas di lubang buaya. Pada tanggal 30 September 1965, enam orang Jenderal dan 1 perwira Angkatan Darat (AD) pertama Indonesia, diculik dan di bunuh lalu dibuang di lubang buaya yang merupakan tempat latihan dari AURI, " kisahnya.

Ia melanjutkan bahwa pada tanggal 1 Oktober, pada saat jenazah beberapa jenderal yang hilang tersebut ditemukan di lubang buaya, baru terbukti bahwa ada oknum AURI yang terlibat dalam gerakan PKI. Ia mengaku bahwa pada tanggal 4 Oktober, dirinya turut hadir bersama Jenderal Suharto saat pengangkatan jenazah para jenderal dan perwira dari sumur lubang buaya tersebut sampai proses pemakaman berlangsung.

“Pada saat itu saya hadir dan menjadi saksi sejarah dalam peristiwa pengangkatan jenazah para jenderal dari lubang buaya. Itu peristiwa sejarah yang boleh dikatakan sejarah kelam bangsa ini,” ungkap sejarahwan berusia 80 tahun ini.

Mantan politisi Partai Golkar ini membantah terkait isu yang beredar bahwa Jenderal Soeharto terlibat dalam penculikan dan pembunuhan tersebu.

“Isu yang beredar tidak benar. Jika benar, mengapa saat itu Jenderal Soeharto tidak diculik oleh PKI? Karena, PKI melihat Soeharto tidak memiliki kemampuan di bidang politik dan hanya sebatas panglima angkatan perang,” katanya.

Di sela-sela sesi dialog, Opa Blas juga berpesan kepada para aktivis PMKRI Cabang Maumere  agar perlu belajar sejarah dan jangan pernah lupa dengan sejarah.

“Jangan pernah lupa sejarah. Dari sejarah itulah kita dapat belajar tentang perjuangan, cita-cita pendiri bangsa, dinamika bangsa hingga para tokoh sejarah yang memperjuangkan bangsa ini sejak jaman penjajahan hingga saat ini. Karena dari sejarah juga kita belajar untuk peka terhadap situasi sosial di tengah masyarakat. Anak muda harus punya idealisme perjuangan dalam mengisi kemerdekaan bangsa ini,” ujarnya.

Ketua Presidium PMKRI Cabang maumere, Bento Rani, pada kesempatan itu memberikan apresiasi atas kesempatan dialog tentang sejarah.

“Ada pengetahuan baru yang teman-teman PMKRI peroleh dari salah satu tokoh dan saksi sejarah asal Sikka, Maumere pada dialog informal tersebut. Pesan Opa Blas agar tidak lupa sejarah, menjadi motivasi khusus bagi PMKRI. Kamis bersyukur bisa bertemu sesepuh yang mau berbagi waktu dan pikiran dengan PMKRI. Ini pengetahuan penting karena bersumber dari kesaksian dan pengalaman langsung,” kesan Bento.

“Dialog informal seperti ini merupakan ruang edukatif bagi PMKRI guna menambah wawasan dan pengetahuan selain ruang formil di organisasi. Saya merasa bangga dan bersyukur bisa terlibat dalam dialog terutama pengetahuan tentang sejarah pergerakan dan perjuangan para tokoh bangsa. Ini pengalaman berharga sekaligus motivasi diri untuk tidak lupa sejarah,” tambah Fill Pati.

Hadir pada kesempatan dialog tersebut mantan Ketua Presidium PMKRI Cabang Jakarta Pusat, Jack Jagong yang juga memfasilisasi acara dialog tersebut.

--- Guche Montero

Komentar