Breaking News

NASIONAL Didampingi Uskup Suharyo, Jokowi Buka Kongres WKRI 31 Oct 2018 05:42

Article image
Presiden Jokowi ketika membuka kongres WKRI. (Foto: Ist)
Indonesia adalah negara besar sekali yang diberi anugerah Tuhan keberagaman. Ia menyebutkan, ada 714 suku, jauh berbeda dengan Singapura yang hanya memiliki 4 suku, dan Afghanistan yang hanya memiliki 7 suku.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co -- Presiden Jokowi membuka Kongres XX Tahun 2018 Wanita Katolik Indonesia (WKRI), di Magnolia Grand Ballroom Hotel Grand Mercure, Superblok Mega Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (30/10/2018) pagi.

Mendampingi Presiden Jokowi dalam acara ini antara lain Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Mgr Ignatius Suharyo, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise para pastur, para romo, dan seluruh jajaran pengurus KWI.

Presiden menjelaskan, Indonesia adalah negara besar sekali yang diberi anugerah Tuhan keberagaman. Ia menyebutkan, ada 714 suku, jauh berbeda dengan Singapura yang hanya memiliki 4 suku, dan Afghanistan yang hanya memiliki 7 suku.

“Inilah yang patut kita syukuri dan harus kita pelihara, harus kita rawat persatuan kita, persaudaraan kita, kerukunan kita. Karena aset terbesar bangsa ini adalah persatuan, adalah kerukunan, adalah persaudaraan,” tegas Presiden Jokowi.

Tapi yang sering terjadi, menurut Presiden, karena pilihan bupati, wali kota, pilihan gubernur, pilihan presiden kadang-kadang hal ini menjadi kelihatan terpecah-pecah.

“Saya ingin agar ini disampaikan, jangan sampai karena pesta demokrasi setiap 5 tahun, bukan hanya 2019 saja, setiap 5 tahun Pilkada ada, Pilpres ada, terus kita terpecah-pecah,” tutur Presiden Jokowi.

Presiden menuturkan, silakan misalnya ada pilihan bupati, pilihan wali kota, pilihan gubernur, atau pilihan presiden, pilih saja yang paling baik.

“Tentu saja perlu kita lihat rekam jejak, track record, prestasinya apa dilihat, atau dalam debat  adu kontestasi, adu program, adu ide, adu gagasan, itu yang dilihat,” ujarnya.

--- Redem Kono

Komentar