Breaking News
  • BI Sudah Habiskan Rp 11 T untuk Kuatkan Rupiah
  • Gempa 7,8 SR Guncang Fiji
  • Kemensos: Bansos Saja Tak Cukup Tangani Kemiskinan
  • Resmi! Pendaftaran CPNS 2018 Dibuka 19 September
  • Wadahi Mahasiswa yang Suka Piknik, Kemenpar Resmikan GenPI UBM

OLAHRAGA Didesak Mundur dari Ketum PSSI, Edy Rahmayadi: Ada Statuta yang Mengaturnya 06 Dec 2018 22:59

Article image
Ketua Umum PSSI, Edy Rahmayadi. (Foto: detik.com)
"Saya tak gila jabatan, Pangkostrad pun saya tinggalkan apalagi hanya Ketua Umum PSSI," tanggap Edy.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co-- Meskipun tekanan terus berdatangan, Edy Rahmayadi menegaskan tak akan mundur dari jabatan sebagai Ketua Umum PSSI hingga masa jabatannya berakhir.

Edy Rahmayadi mendapat banyak tekanan untuk mundur dari jabatannya sebagai Ketua Umum PSSI setelah Timnas Indonesia tampil buruk di Piala AFF 2018. Tim Garuda gagal melaju ke babak semifinal setelah hanya menempati peringkat keempat di Grup B.

Selain itu, para pendukung timnas Indonesia yang kecewa, juga merasa Edy Rahmayadi tidak mampu memimpin PSSI dengan baik karena harus merangkap jabatan sebagai Gubernur Sumatera Utara.

Meskipun tekanan terus berdatangan kepadanya, Edy menegaskan tidak akan melepas jabatannya sebagai Ketua Umum PSSI. Alasan utama pria 57 tahun ini enggan mundur dari jabatannta tersebut yakni karena ia masih merasa cinta terhadap PSSI.

"Saya tidak memikirkan soal tekanan itu, yang penting Anda tidak menyuruh saya mundur. Kalaupun kalian menyuruh mundur, saya tak mau mundur. Tolong kalian buat "Edy bertahan sampai 2020", sampai pada kongres berikutnya," kata Edy Rahmayadi di Kantor Gubernur Sumatera Utara seperti dikutip dari sport.detik.com, Kamis (6/12/18).

Selain alasan tidak mau mundur dari Ketum PSSI karena rasa cinta dengan PSSI, Edy juga menjelaskan tentang managemen dan aturan yang berlaku di PSSI.

“Kita punya manajemen. Ada waktu kegiatan kongres tahunan, ada kegiatan evaluasi, setiap periode ada jadwalnya. Jadi, di mana pun Ketua PSSI berada, itu tak masalah. Tapi ini harus berjalan semuanya. Di PSSI, lengkap ada pengkaji disiplin, kepala staf, sekjen. Semua ini tak bisa memutuskan satu persoalan karena ada statuta yang mengaturnya," ungkap pria kelahiran Sabang ini.

Edy sebenarnya sempat terpikir untuk mundur, namun hal itu terbersit olehnya bukan karena ia merasa sudah tak mampu memimpin PSSI melainkan karena tak mau menjadi sasaran bully dari berbagai pihak. Di sisi lain, Edy juga menyayangkan tak ada pihak yang menyanjungnya ketika timnas Indonesia meraih kemenangan.

"Memang ada di benak saya akan mundur, tapi bukan karena saya tak bisa menangani ini, bukan itu persoalannya. Tapi karena kepentingan pribadi saya. Saya ingin santai, tak ingin di-bully," jelasnya.

"Karena di PSSI ini, begitu menang tak ada yang menyanjung saya, malah orang yang memakai kesenangan ini. Tapi begitu kalah, Edy Out. Saya mau tenang, santai, bukan karena saya tak bisa membina. Saya bawaan lahir memang begini," lanjutnya.

Menanggapi dirinya yang dinilai merangkap jabatan sebagai Gubernur Sumut, Edy menegaskan bahwa dirinya bukanlah seorang yang gila jabatan karena sebelumnya dirinya sempat melepas posisinya sebagai Pangkostrad.

"Saya tak gila jabatan, Pangkostrad pun saya tinggalkan apalagi hanya Ketua Umum PSSI," tanggapnya.

--- Guche Montero

Komentar