Breaking News
  • BI Sudah Habiskan Rp 11 T untuk Kuatkan Rupiah
  • Gempa 7,8 SR Guncang Fiji
  • Kemensos: Bansos Saja Tak Cukup Tangani Kemiskinan
  • Resmi! Pendaftaran CPNS 2018 Dibuka 19 September
  • Wadahi Mahasiswa yang Suka Piknik, Kemenpar Resmikan GenPI UBM

REGIONAL Diduga Pelaku TPPO, Polres Sumba Barat Tangkap Staf Bandara Tambolaka 14 Jun 2018 12:12

Article image
Kanit Tindak Pidana Tertentu (Tipidter), Bripka Martinus Ndjuru Manna (Foto: NTT-News.com)
Kapolres Sumba Barat, AKBP Michael Irwan Thamsil, mengapresiasi kinerja dan capaian yang telah diraih oleh anggotanya guna memberantas kasus TPPO atau human trafficking di wilayah hukum Polres Sumba Barat.

WAIKABUBAK, IndonesiaSatu.coPihak kepolisian resor (polres) Sumba Barat melalui Kanit Unit Tindak Pidana Tertentu (Tipidter) menangkap ground staff berinisial ANK yang bekerja di salah satu maskapai penerbangan di Bandara kelas II Tambolaka. ANK diduga terlibat dalam Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) atau perdagangan manusia (human trafficking).

Sesuai rilis yang diterima media ini, Rabu (13/6/18), dalam dua bulan terakhir, jajaran Polres Sumba Barat telah berhasil mengungkap kasus TPPO dengan tiga korban berasal dari Kabupaten Sumba Tengah, Sumba Barat Daya dan Sumba Timur.

Tim Reskrim Polres Sumba Barat yang dipimpin Kanit Tipidter, Bripka Martin Ndjuru Manna mengungkapkan bahwa penyelidikan bermula pada (03/05/18) dan selanjutnya tim melakukan penyelidikan dan koordinasi dengan Satgas TPPO Bareskrim Mabes Polri.

“Melalui penyelidikan bersama Satgas TPPO Bareskrim Mabes Polri, terungkap tiga korban human trafficking asal Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT) yakni SDG (25 tahun) asal Kabupaten Sumba Tengah, RKM (18 tahun) asal Kabupaten Sumba Barat Daya dan NAL (18 tahun) asal Kabupaten Sumba Timur. Ketiga korban perempuan ini dipulangkan ke wilayah hukum Polres Sumba Barat pada tanggal 12 Mei dengan dikawal langsung oleh Anggota Reskrim Polres Sumba Barat dan Kanit Tipidter,” ungkap Kanit Martin.

Ia menjelaskan, dalam pengembangkan kasus yang ada dengan disertai bukti sah, Anggota Reskrim dan Kanit Tipidter telah melakukan penangkapan terhadap satu orang tersangka inisial ANK yang merupakan Ground Staff salah satu maskapai penerbangan Bandara Tambolaka. Menurutnya, pihak Polres Sumba Barat kembali berkoordinasi dengan Satgas TPPO Bareskrim Mabes Polri untuk mengetahui dalang di balik kasus tersebut.

Ia menuturkan bahwa pada 28 Mei bertempat di Rukan Sentra Niaga Blok RSN 008 Grand Galaxy City, Bekasi, Satgas TPPO Bareskrim Mabes Polri dan Anggota Reskrim Polres Sumba Barat yang dipimpin Kanit Tipidter berhasil mengamankan seorang wanita berinisial A yang juga diduga pelaku TPPO dengan disertai dua alat bukti sah untuk ditetapkan sebagai tersangka.

“Terhadap kasus tersebut, pelaku A berhasil dibawa ke Mako Polres Sumba Barat untuk menjalani proses hukum lebih lanjut. Selama proses pemeriksaan dan penyelidikan, selama 20 hari ke depan tpelaku A akan menjalani fase penahanan. Ada pun konstruksi pasal yang disangkakan terhadap para pelaku yakni Pasal 2 dan Pasal 10 dari UU No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan TPPO,” ujarnya.

Sementara Kapolres Sumba Barat, AKBP Michael Irwan Thamsil, mengapresiasi kinerja dan capaian yang telah diraih oleh anggotanya guna memberantas kasus TPPO atau human trafficking di wilayah hukum Polres Sumba Barat.

“Dengan terungkap kasus di mana telah dipulangkan tiga korban ke rumahnya serta pelaku TPPO, maka seluruh jajaran dapat memberantas jaringan-jaringan TPPO yang disinyalir beroperasi baik di dalam maupun wilayah hukum Polres Sumba Barat. Terus lakukan pemberantasan, dan siapa saja yang terlibat harus dilibas. Jangan biarkan sesama kita diperjual-belikan,” kata Michael.

Hal senada ditegaskan Ketua Satgas Anti-Human Trafficking Golkar NTT, Gabriel Goa yang mendukung upaya pencegahan, pemberantasan dan rehabilitasi terhadap persoalan perdagangan manusia di NTT.

“Apresiasi dan mendukung penuh kinerja Kanit Tipidter dan jajaran Polres Sumba Barat serta Satgas TPPO Bareskrim Mabes Polri yang sudah mengambil langkah responsif terhadap persoalan kemanusiaan terutama di wilayah Sumba yang berpotensi menjadi target operasi jaringan human trafficking. Diharapkan, komitmen “Stop Jual Orang NTT” sungguh-sungguh melibatkan semua pihak baik upaya pencegahan, pemberantasan, pemberdayaan serta upaya rehabilitasi. Maka, penegakan hukum terhadap pelaku TPPO harus menjadi corong pemberantasan,” tandas Gabriel.

--- Guche Montero

Komentar