Breaking News
  • Ada 70.000 ibu hamil dan menyusui di antara pengungsi Rohingya
  • ASEAN Para Games - Doni Yulianto sumbang emas nomor kursi roda 1.500m
  • Kemenperin buka rekrutmen PNS untuk 380 formasi
  • Malaka, NTT diguncang gempa
  • Menhub: uji coba Transjabodetabek hasilnya kurang maksimal

TRADISI Dilukis Nyoman, Hati Seskab Campur Aduk 15 Aug 2017 09:31

Article image
Seskab Pramono Anung mengangkut lukisan dirinya yang dibuat mendadak oleh Nyoman Gunarsa, di Bentara Budaya Palmerah, Jakarta Selatan. (Foto: Humas Setpres)
Menurut Seskab, negara harus turun tangan terhadap koleksi-koleksi luar biasa yang dimiliki seniman seperti Nyoman Gunarsa. Karena itu, ungkap Seskab, Presiden Joko Widodo, langsung memerintahkan kepada Mendikbud dan Dirjen Kebudayaan untuk itu.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co -- Meski sudah mengikuti sejak tahun 1995-1996 dan mengoleksi sejumlah karyanya, hati Sekretaris Kabinet (Seskab) Pramono Anung campur aduk saat menerima undangan dan diminta hadir dan membuka pameran lukisan dari pelukis yang disebutnya mestro Nyoman Gunarsa.

“Memang selama ini saya terus terang tidak pernah hadir di acara-acara pameran lukisan Pak Nyoman, tapi saya menikmati lukisan-lukisan Bapak, dan saya belajar banyak,” ungkap Mas Pram, panggilan akrab Pramono Anung, saat memberikan sambutan pada pembukaan Pameran Lukisan Karya Nyoman Gunarsa, di Bentara Budaya Palmerah, Jakarta Selatan, Senin (14/8/2017) malam.

Sebagai orang yang bukan murid Nyoman Gunarsa karena dirinya tidak bisa melukis, namun Seskab Pramono Anung tidak berkecil hati. Bagi dirinya, adalah mata yang bisa melihat lukisan dengan baik, dan di beruntung setelah berkali-kali memohon dalam hati, akhirnya diberikan kesempatan bertemu dengan Nyoman.

“Alhamdulillah kemarin ketika mendampingi Bapak Presiden pada tanggal 4 Agustus, terus terang saya terbelalak dengan koleksi Pak Nyoman Gunarsa yang luar biasa,” kata Pramono mengisahkan perjalanannya saat mendampingi Presiden Jokowi mengunjungi Museum Seni Lukis Klasik Bali Nyoman Gunarsa, yang berlokasi di Klungkung, Bali, Jumat (4/8) lalu.

Menurut Seskab, negara harus turun tangan terhadap koleksi-koleksi luar biasa yang dimiliki seniman seperti Nyoman Gunarsa. Karena itu, ungkap Seskab, Presiden Joko Widodo, langsung memerintahkan kepada Mendikbud dan Dirrjen Kebudayaan untuk itu.

“Karena tidak mungkin aset yang begitu luar biasa itu ditangani oleh keluarga. Negara harus turun tangan terhadap hal itu,” ujar Seskab menegaskan.

Tidak bisa ditiru

Ada sejumlah kelebihan dari karya Nyoman Gunarsa yang membuat Mas Pram merasa mengejar-ngejar. Pertama, pigura lukisan Nyoman Gunarsa yang sederhana namun tidak bisa ditiru orang. Yang kedua, adalah goresan warna putih.

“Itu yang membedakan dengan goresan-goresan lain. Mungkin kalau pelukis tidak melihat itu, kalau saya, mata saya melihat itu. Warna putih Bapak itu selalu berbeda dengan, kalau orang mau meniru tidak bisa,” kata Mas Pram.

Diakui Mas Pram, ketika masa booming tahun 2000-an atau 90 akhir, banyak karya-karya lukis Nyoman Gunarsa ditiru orang. Tetapi Mas Pram meyakini, orang tidak bisa meniru pigura, warna putih, dan goresan-goresan yang menurutnya itu susah sekali.

Untuk itu, Seskab Pramono Anung menyampaikan selamat kepada Nyoman Gunarsa yang sudah berkarya sejak umur 13 tahun itu. Ia berharap, bukan hanya kepada generasi kita ini karya dan keahlian maestro Nyoman Gunarsa diwariskan, tetapi juga kepada generasi yang berikutnya.

Pada bagian terakhir sambutannya, Seskab Pramono Anung menyinggung pernyataan Nyoiman Gunarsa bahwa seni itu membuat orang lebih colourful, lebih hidup.

“Mungkin ada baiknya juga Pak Nyoman sekali-kali pameran di DPR, Pak. Supaya teman-teman saya itu juga, lebih, gambarnya itu tidak selalu gambar yang gundul itu lho, botak gundul itu, tetapi gambarnya adalah gambar lukisan yang menyejukkan, yang menginspirasi, yang membuat kita semua menjadi penikmat seni, dan juga hidupnya itu lebih bermakna,” kata Mas Pram yang disambut tepuk tangan undangan yang memenuhi ruangan di Bentara Budaya itu.

Tampak hadir dalam kesempatan itu antara lain mantan Mendikbud Wardiman Djojonegoro, pengusaha Dewi Motik, dan Pemimpin Redaksi Kompas Budiman Tanuredjo. 

--- Redem Kono

Komentar