Breaking News

REGIONAL Dirgahayu Paroki Wolowaru ke-80 Tahun, OMK Beri "Kado" Teater SAHARA 23 Jun 2019 18:29

Article image
Para pelakon Teater SAHARA oleh OMK Paroki Wolowaru. (Foto: Vikar Laka)
Inilah orang muda kita yang selalu tampil dengan spirit misioner, energik dan penuh optimis," ungkap Pater Medes.

ENDE, IndonesiaSatu.co-- Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Hati Amat Kudus Yesus Wolowaru, Keuskupan Agung Ende, memberi "kado" istimewa kepada segenap umat Paroki Wolowaru yang merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) Paroki ke-80 tahun (1939-2019) pada Minggu, (23/6/19).

Menjelang momen penuh rahmat ini, OMK Wolowaru mempersembahkan "kado" lewat pementasan Teater berjudul SAHARA pada Jumat, (21/6/19) malam Wita, bertempat di pelataran Intan Paroki Wolowaru.

Dalam sambutan pembuka, Pastor Paroki Wolowaru, P. Nikomedes Mere, SVD memberikan apresiasi kepada OMK Paroki yang menginisiasi malam pementasan tersebut sehingga memberi nuansa dan warna yang berbeda.

"Inilah orang muda kita yang selalu tampil dengan spirit misioner, energik dan penuh optimis. Dengan segala keterbatasan, mereka terus belajar menemukan jati diri, mengasah kemampuan dan potensi diri, memperkuat kebersamaan dan persaudaraan, serta terutama menjadikan kekuatan kebersamaan mereka sebagai harapan gereja, masyarakat dan bangsa," ungkap Pater Medes.

Pater Medes mengaku bangga karena orang muda tidak pernah kehilangan kreativitas dan mau terlibat aktif dalam kehidupan menggereja.

"Inilah cara orang muda kita mendekatkan diri dengan kehidupan menggereja. Mari dukung orang muda kita dengan energi positif. Malam ini mereka ingin menunjukkan diri bahwa mereka bisa berbuat sesuatu dengan nuansa yang berbeda," katanya bangga.

Sementara Ketua OMK Paroki Wolowaru, Raymond Dady, pada kesempatan yang sama menyampaikan terima kasih atas dukungan semua pihak dalam menyukseskan acara peementasan Teater tersebut.

"Terima kasih atas dukungan berbagai pihak dengan caranya masing-masing, sehingga kami terus menunjukkan spirit kebersamaan kami dan menunjukkan potensi yang kami miliki. Inilah "kado" yang dapat kami persembahkan untuk Paroki tercinta yang merayakan usia 80 tahun lewat pertunjukkan seni ini," kata Raymond.

Pesan di Balik Teater "SAHARA"

Pertunjukkan Teater "SAHARA" yang dibagi dalam tiga segmen, tidak terlepas dari catatan sejarah berdirinya Paroki Wolowaru oleh Misionaris SVD yang mencoba membangun pendekatan dengan para tetua adat (mosalaki),  kapitan, serta pemerintah setempat dalam dimensi kerjasama "Tiga Tungku" (Adat, Gereja dan Pemerintah)

"Tiga Tungku harus saling kerja sama. Jangan ada lagi silang sengketa. Jika ada selisih paham, mari koreksi dengan hati agak sejarah terus tegak berdiri bersama nilai-nilai luhur budaya," kata Yoris yang berperan sebagai mosalaki bersama Ixes dan Iyand.

Selanjutnya, pada segmen kedua, naskah Teater yang digagas oleh Guche Montero sebagai sutradara ini, mengangkat soal situasi kekinian terutama panggilan gereja terhadap persoalan kemanusiaan yakni perdagangan manusia (human trafficking).

Hal ini mengingat, Paroki Wolowaru direkomendasikan sebagai salah satu Paroki Ramah Migran oleh Komisi Migran Keuskupan Agung Ende.

Juga menyentil konteks adat-budaya Ende-Lio dengan sistem patriarkal yang cenderung mendiskreditkan hak-hak kaum perempuan termasuk tuntutan mahar adat (belis) yang masih sangat tinggi.

"Maafkan ayah dan Ibu, anakku. Ayah dan Ibu yang tega memasung kekebasanmu, tidak peduli dan diperlakukan seperti anak tiri di rumah sendiri, mengatur pilihan cinta, tidak menunjukkan kehidupan rumah tangga sebagai dasar kedamaian dan kasih," demikian isi litani doa oleh ayah dan Ibu yang dilakonkan Ardo dan Lenn. Sementara gadis yang dipasung kebebasannya diperankan oleh Nona Nanche.

Ratusan penonton terhipnotis oleh para pelakon Teater yang sunggguh-sungguh menjiwai karakter peran masing-masing.

Pada segmen terakhir, intisari Teater merujuk pada harapan terhadap kehadiran dan peran gereja ke depan.

"Atas nama panggilan nurani, jangan ada lagi anak tiri di negeri sendiri. Gereja, hadirlah! Kami rindu gembala berhati domba, gembala yang selalu ada bersama umat. Adat, jangan lagi pasung harga diri generasi dengan transaksi materi," ajak Piter yang berperan sebagai Misionaris pada segmen tersebut.

Penonton dibuat terkesima saat semua pelakon menunjuk ke arah latar yang ditutupi kain hitam.

"Salib, Harapan, Amal, "SAHARA," seru Piter yang menegaskan judul Teater dan tampak judul SAHARA terpampang di belakang layar disambut riuh tepuk tangan para penonton.

Disaksikan media ini, selain pertunjukkan Teater oleh OMK, acara juga diselingi oleh vokal group dari GMIT Maranatha Wolowaru, Carivas Voice dan Disco kreasi dari Spendu Wolowaru, disco oleh para gadis cilik lingkungan Napuwaka, serta Puisi oleh Prily dan Rhysan.

 

 

--- Guche Montero

Komentar