Breaking News
  • Kapolda resmikan Bhayangkara Papua Football Academy
  • Kemen-PUPR tingkatkan kapasitas pekerja konstruksi dengan sertifikasi
  • Presiden Jokowi bersarung "blusukan" ke Mal Mataram
  • Pusat Konservasi Elang Kamojang lestarikan populasi elang jawaPusat
  • Wamen ESDM kaji FSRU penuhi pasokan gas

HANKAM Dirjen Bimas Katolik: Prajurit TNI/Polri Perlu Miliki Rasa Kekitaan 28 Sep 2017 08:29

Article image
Dirjen Bimas Katolik Eusabius Binsasi membawakan materi didampingi Pater Hubert Muda, SVD (Foto: Redem)
Spirit 100 persen Katolik, 100 persen Indonesia para prajurit Katolik TNI/Polri hendaknya ditunjukkan dalam upaya konkret membangun kerukunan beragama.

MATALOKO, IndonesiaSatu.co --  Penguatan rasa kekitaan sebagai bangsa dan Negara perlu dilandasi oleh spirit dasar keagamaan. Karena itu, spirit 100 persen Katolik, 100 persen Indonesia para prajurit Katolik TNI/Polri hendaknya ditunjukkan dalam upaya konkret membangun kerukunan beragama.

Demikian anjuran Dirjen Bimas Katolik Kementerian Agama Republik Indonesia Drs Eusabius Binsasi ketika memberikan materi dalam retret prajurit TNI/Polri sedaratan Flores dan Lembata di rumah retret Kemah Tabor Mataloko, Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Selasa (26/9/2017) malam.

“Kerukunan beragama yang dimaksud adalah kerukunan antar umat beragama, kerukunan inter umat beragama, dan kerukunan antar umat beragama dengan pemerintah,” paparnya.

Menurut Dirjen Bimas, kerukunan antar umat beragama dalam lingkungan prajurit ditunjukkan dalam sikap saling menghormati dan pewujudnyataan toleransi antar umat beragama.

“Kita harus saling menghormati dan bersikap toleran terhadap pemeluk agama yang berbeda keyakinan, karena Indonesia adalah Negara yang bhineka,” ungkapnya.

Lebih lanjut, alumnus STFK Ledalero tersebut menekankan agar prajurit TNI/Polri harus menjaga otonomi Magisterium Gereja. Umat Katolik harus menghormati Para Uskup dan rohaniwan/rohaniwati Katolik agar kerukunan sesama pemeluk agama Katolik tetap terjaga.

“Saya menemukan bahwa demokrasi dan globalisasi menyebabkan terjadinya erosi penghormatan tersebut. Ada banyak orang yang mengartikan demokrasi sebagai kebebasan seluas-luasnya untuk mengkritik, bahkan cenderung tidak menghormati Magisterium Gereja,” ungkanya.

Sikap dan semangat keagamaan tersebut, demikian Eusabius, dapat mendukung kebijakan-kebijakan pemerintah RI baik dalam pengawasan ataupun pelaksanaan.

“Dalam konteks ini, kerukunan yang dibiasakan seorang prajurit TNI/Polri bermanfaat  besar bagi bakti demi bangsa dan Negara Indonesia,” pungkasnya.  

--- Redem Kono

Komentar