Breaking News
  • Banjir landa 21 kelurahan di Tebing Tinggi
  • Imigrasi Ngurah Rai beri "exit pass" seminggu bagi wisman
  • Jokowi: Kawasan GBK Harus Jadi Ruang Publik Bagi Masyarakat
  • PVMBG: gas SO2 Gunung Agung menurun
  • Sebanyak 50 ton ikan Danau Maninjau mati

INTERNASIONAL Disentil Presiden Macron, Erdogan: Jurnalis Ikut Sebarkan Terorisme 06 Jan 2018 19:39

Article image
Presiden Turki Erdogan (kiri) dan Presiden Prancis Macron.(Foto: spiegel.de)
Isu HAM melanda dunia media Turki ketika lebih dari 150 media dibredel dan sedikitnya 160 jurnalis ditangkap dan dipenjara oleh rezim Erdogan dengan tuduhan menentang pemerintah.

PARIS, IndonesiaSatu.co -- Presiden Prancis Emmanuel Macron menerima kunjungan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Istana Elysee, Paris, Jumat (5/1/2018). Seperti dikutip dari Spiegel Online, Sabtu (6/1/2018), pada kesempatan itu Macron secara khusus menegaskan, supremasi hukum dan kebebasan pers harus dijunjung tinggi di negara-negara demokratis, terutama dalam menghadapi terorisme.

Pernyataan Macron sekaligus merupakan keprihatinan terhadap penahanan para pelajar, guru, serta jurnalis oleh rezim Erdogan di Turki. Pria berusia 40 itu mengakui adanya perbedaan pandangan dengan Erdogan mengenai hak asasi manusia.

“Demokrasi kita harus kuat melawan terorisme. Namun, demokrasi kita juga mesti sungguh-sungguh menghormati supremasi hukum,” ujar Macron seperti dikutip dari Spiegel Online, Sabtu (6/1/2018).

Menanggapi sentilan Macron, Erdogan menyatakan, sejumlah jurnalis di Eropa justru membantu penyebaran terorisme melalui tulisan dan tayangan di berbagai media. Ia membandingkan para jurnalis dengan tukang kebun ketika  merawat tanaman.

“Teror tidak berkembang sendiri. Teror dan teroris ibarat tukang kebun. Tukang kebun di media dianggap sebagai pemikir yang menyiram benih terorisme melalui kolom-kolom di media. Anda akan melihat, suatu hari nanti Anda  orang-orang itu akan muncul sebagai teroris di depan Anda,” kata Erdogan.

Erdogan mengatakan, ia memiliki pengalaman buruk dengan jurnalis asal Prancis saat jurnalis tersebut menuduh agen rahasia Turki terlibat dalam pengiriman senjata ke Suriah.

Ia justru menuding kubu Fethullah Gulen, yang ditolak di Turki, sebagai dalang suplai senjata ke Suriah. Erdogan juga menuduh jurnalis Prancis itu tampil seperti seorang simpatisan kelompok teror.

Sejak upaya kudeta  militer yang gagal menumbangkan rezim Erdogan, masalah hak asasi manusia menjadi hal sensitif di Turki. Otoritas Turki telah menangkap dan memenjarakan puluhan ribu orang.

Ribuan lainnya dipecat dari pekerjaan mereka, termasuk pegawai negeri sipil dan kalangan akademisi, karena dituding melawan pemerintah yang sah.

Isu HAM juga melanda dunia media Turki ketika lebih dari 150 media dibredel dan sedikitnya 160 jurnalis ditangkap dan dipenjara oleh rezim Erdogan dengan tuduhan menentang pemerintah.

 --- Rikard Mosa Dhae