Breaking News
  • Ada 70.000 ibu hamil dan menyusui di antara pengungsi Rohingya
  • ASEAN Para Games - Doni Yulianto sumbang emas nomor kursi roda 1.500m
  • Kemenperin buka rekrutmen PNS untuk 380 formasi
  • Malaka, NTT diguncang gempa
  • Menhub: uji coba Transjabodetabek hasilnya kurang maksimal

RESENSI Diskusi Buku ‘Eksegese Orang Jalanan’: Hindari Teologi Yang Elitis 21 Feb 2016 14:52

Article image
Teolog Kristen Pdt DR Mery Kolimon, STh. (Foto: Ist/MK)
Roh kapitalisme telah membuat manusia selalu merasa tidak pernah puas. Karena itu manusia mesti hidup dalam spiritualitas ugahari, hidup yang sederhana dan menerima apa adanya.

KUPANG, IndonesiaSatu.co -- Teolog Kristen Pdt DR Mery Kolimon, STh mengatakan tugas mewartakan sabda Allah adalah tugas semua umat beriman dan tidak hanya urusan elite gereja seperti para teolog, ekseget, pendeta, ataupun imam semata. Bahkan menurutnya saat ini ada kecenderungan untuk mengerangkeng dan membatasi seolah-seolah urusan kitab suci dan teologi hanya urusan para ahli dan elit gereja.

“Biarkan awam berteologi. Semua umat atau jemaat harus menjadi misionaris Kristus. Ada Cahaya besar yang mengatasi semua cahaya. Kita semua hanya menjadi pantulan cahaya yang bersumber dari Cahaya besar. Oleh karenanya tidak ada klaim refleksi dan teologi yang paling benar, tetapi teologi yang sanggup mengatasi persoalan riil di tengah umat dan masyarakat” tandas Pdt Mery Kolimon.

Lebih lanjut, pendeta jebolan universitas di Belanda yang juga Ketua Badan Pekerja Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) ini menegaskan setiap orang Kristen zaman ini belajar mendengar suara Tuhan dalam kebisingan. “Tantangan kita zaman ini adalah belajar mendengar suara Tuhan dalam kebisingan. Hal ini hanya terjadi kalau kita terbuka terhadap kehendak Allah dan membiarkan Roh Kudus berkarya dalam diri kita,” tegasnya.

Hal itu dikatakan dalam diskusi buku ‘Eksegese Orang Jalanan’yang berlangsung di Aula Universitas Katolik Widya Mandira, Penfui, Kupang, NTT, Sabtu (20/2). Diskusi buku yang ditulis oleh Drs Porat Antonius, MA dan Max Biae Dae, SFil ini mendapat sambutan hangat dari berbagai kalangan agama baik Kristen, Katolik, Muslim, Buddha, maupun Kong Hu Chu.

Buku yang ditulis berdasarkan lingkaran tahun liturgi Gereja Katolik ini terdiri tujuh jilid dan diselesaikan dalam waktu tujuh bulan.Kurang lebih 300 peserta memadati aula kegiatan. Selain menghadirkan Pdt Mery Kolimon, panitia juga menghadirkan Romo Sipri Senda, Pr, Ketua Komisi Kitab Suci Keuskupan Agung Kupang dan Pater John Hairun, SVD, pengajar Seminari St. Pius XII, Kisol, Manggarai, Flores.

Spiritualitas ugahari

Menurut Pdt Kolimon, buku ‘Eksegese Orang Jalanan’ lahir dari sebuah kedisiplinan rohani dan kebiasaan untuk selalu bertemu Tuhan pada saat teduh. Kedua penulis Drs Porat Antonius, MA dan Max Biae Dae, SFil mendorong setiap orang untuk mendengarkan suara Tuhan dan membebaskan diri dari ketakutan terhadap setan, hantu, arwah, dan dosa. Selain itu, implikasi praktisnya manusia zaman ini harus hidup dalam spiritualitas ugahari.

“Roh kapitalisme telah membuat manusia selalu merasa tidak pernah puas. Karena itu manusia mesti hidup dalam spiritualitas ugahari, hidup yang sederhana dan menerima apa adanya. Karya Allah dalam diri Yesus telah membebaskan kita dari rasa takut masa lalu. Walaupun dihukum Allah namun kita selalu diberi kesempatan kedua untuk bersaksi dan memperbaiki hidup kita,”pungkasnya seraya mengambil contoh kisah Kain yang membunuh Habil saudaranya namun Tuhan tetap memberi kesempatan kedua kepada Kain untuk membangun hal besar.

Sementara Sipri Senda, Pr menilai buku ‘Eksegese Orang Jalanan’ adalah buku yang kaya dimensi dan sangat aplikatif. Hal ini sekaligus menjadi tanda bahwa tugas mewartakan kitab suci adalah tugas yang terbuka bagi semua orang Kristen. “Kedua penulis telah sungguh-sungguh masuk dalam teks-teks kitab suci dan membawa keluar kepada konteks hidup untuk diwujudkan dalam hidup. Disinilah makna eksegese sesungguhnya,” ungkapnya.

Walaupun demikian Sipri mewanti-wanti agar awam katolik yang menulis tentang pokok-pokok teologi atau kitab suci harus tetap mengikuti kaidah dalam Gereja Katolik. “Ada kriteria yang mesti dipatuhi antara lain antara isi dan kesatuan kitab suci tidak bisa parsial, harus ada benang merah antara bacaan pertama, kedua, dan Injil, dan dibaca dalam terang tradisi gereja, serta adanya analogi iman yakni konsistensi antara kebenaran yang satu dengan kebenaran lainnya," tandas Sipri.

Penulis buku ‘Eksegese Orang Jalanan’ Porat Antonius menjelaskan, ia menulis buku ini terdorong oleh rasa gelisah karena begitu banyak orang Kristen yang tidak mendengarkan bacaan dengan serius ketika berada dalam gereja.

“Saya gelisah ketika menanyakan bacaan hari Minggu kepada orang-orang yang baru dari gereja dan mereka tidak tahu. Selain itu para imam yang mewartakan sabda kerap mengabaikan bacaan pertama maupun kedua tetapi lebih sering langsung menjelaskan tentang Injil. Untuk itulah buku ini diberi judul ‘Eksegese Orang Jalanan’ karena ditulis oleh orang yang bukan imam ataupun biarawan, yang tidak secara khusus belajar eksegese ataupun teologi, “ujar Anton dengan mimik serius.

--- Vitalis Wolo

Komentar