Breaking News

PARIWISATA Dorong Konservasi Pangan dan Pariwisata, Pemdes Detusoko Barat Gandeng Komunitas Adat dan Kampus 26 May 2021 19:45

Article image
Ruang Dialog antara Pemdes, Pemangku Adat, Kampus dan para petani di Desa Detusoko Barat. (Foto: Nando)
"Dengan berbasis kearifan lokal, Unflor Ende bersama program 'kampus tanpa dinding' para pemangku adat serta Pemerintah Desa yang didukung oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, kami berkolaborasi untuk mewujudkan Desa sebagai konservasi pangan dan P

ENDE, IndonesiaSatu.co-- Dalam rangka mempersiapkan Desa Wisata berbasis masyarakat dengan memperkuat ciri khas kearifan lokal dan menonjolkan potensi yang berkarakter budaya, Pemerintah Desa berkolaborasi dengan Komunitas Adat dan Fakultas Pertanian Universitas Flores (Unflor) dan program "Kampus Tanpa Dinding"

Selain berkolaborasi, Pemdes Detusoko Barat juga memfasilitasi para petani, para pemangku adat tua adat (Mosalaki) dan tetua adat (Ana Kopo), lembaga BPD serta Kelompok Tani untuk berdialog dan berdiskusi terkait aneka jenis pangan, khususnya padi yang memiliki kurang lebih 9 varietas; mengenal pola perlakuan dan pengelolaan Pertanian tradisional, kalender musim; menggali persoalan dan hambatan yang dialami petani serta mendorong pola pertanian organik guna membudidayakan varietas padi lokal sebagai prospek mempersiapkan produk unggulan dari Desa. 

"Dalam mendukung gerakan 'di kebun' (on Farm) dan mendukung agrowisata serta produk lokal desa, maka dalam semangat "Satu Sao Ria Satu Produk, Satu Dusun Satu Paket Wisata" kami menyepakati untuk memanfaatkan dataran Watumesi, sekitar 10 Hektare sebagai kawasanan uji Coba (konservasi) untuk aneka jenis padi, menggerakan pertanian organik, dan mewujudkan misi melalui Program Kemitraan Masyarakat," ungkap Kepala Desa Detusoko Barat, Nando Watu, saat dikonfirmasi media ini, Selasa (25/5/2021).

Nando menerangkan bahwa pihal Universitas Flores akan mengintervensi melalui metode Light Trap (lampu berwarna)  dan Tanaman Refugia (bunga berwarna-warni) sebagai salah satu solusi penangkalan hama.

"Dengan berbasis kearifan lokal, Unflor Ende bersama program 'kampus tanpa dinding' para pemangku adat serta Pemerintah Desa yang didukung oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, kami berkolaborasi untuk mewujudkan Desa sebagai konservasi pangan dan Pariwisata," ujar Nando.

Nando berkomitmen, sebagai salah satu produk unggulan Desa, melalui Bumdes "Au Wula", Desa Detusoko Barat sudah memiliki produk beras hitam (pare bangalaka) dan beras merah (pare Bengawa Mera dan Maro).

"Saat ini tengah difasilitasi untuk kemasan dan packaging serta marketing bersama Bank NTT sebagai oleh-oleh khas Detusoko karena wilayah Desa Detusoko Barat dan penghuninya 90% yakni petani. Ini adalah sebuah program kolaborasi, butuh banyak pihak, pendampingan dan tentu sinergisitas dan kerja kerja ekstra, yakin dan percaya," komit Kades milenial ini.

"Karya sederhana sekalipun guna mempertahankan tradisi, menjaga keutuhan ekosistem dan menjembatani inovasi kekinian, diharapkan ke depan membawa berkah; baik dari sisi ekonomi, keseimabngan ekosistem maupun keberlanjutan. Semoga Alam dan leluhur selalu merestui karya dari Kampung  dan membangun Indonesia dari Desa," harapnya.

Partisipatif

Sementara Dekan Fakultas Pertanian (Faperta) Unflor, Sri Wahyuni, mendukung progam pertanian, pemanfaatan teknologi tepat guna melalui model 'light trap' sebagai penangkal hama.

"Ada 70 unit 'light trap' yang akan digunakan. Juga penanaman tanaman refugia (bunga warna-warni) di pematang sehingga kebun tampak unik," ujar Sri.

Light Trap maupun tanaman refugia, kata Sri, selain untuk penangkalan hama juga sebagai daya tarik tambahan dalam mendukung kawasan wisata agro persawahan Detusoko.

"Tujuannya agar di malam hari kawasan persawahan masih tampak cantik berwarna karena cahaya lampu; sementara di siang hari diwarnai aneka bunga yang ditanam di pematang," lanjutnya.

Senada, inisiator program 'Kampus Tanpa Dinding', Ibu Is Beribe) mengatakan bahwa pihaknya mencoba menerapkan metode partisipatif dengan melibatkan masyarakat, pemangku adat dan petani.

"Tetap mengikuti pola pertanian tradisional dengan semangat kolaborasi lintas elemen. Kearifan lokal harus tetap menjadi kekhasan," tandasnya.

--- Guche Montero

Komentar