Breaking News
  • 12 parpol lama lolos verifikasi faktual
  • 150 ton bahan narkoba asal China gagal masuk ke Indonesia
  • Eropa murka, siap jawab tantangan perang dagang Donald Trump
  • KM Pinang Jaya tenggelam di Laut Jawa akibat cuaca buruk
  • Presiden Jokowi masih pertimbangan Plt Gubernur dari Polri

PARIWISATA Dr. Frans Teguh: Pariwisata NTT Harus Dikapitalisasi dengan 'Packaging Design' Menarik 03 Oct 2017 23:25

Article image
Dr. Frans Teguh, MA, Asisten Deputi Pengembangan Infrastruktur dan Ekosistem Kementerian Pariwisata RI. (Foto: Ist)
“Cerita legenda yang dibuat harus jadi soul of destination. Jadi harus sampai para wisatawan baru sadar, oh konyol ya...”

JAKARTA, IndonesiaSatu.co -- Dr. Frans Teguh, MA, Asisten Deputi Pengembangan Infrastruktur dan Ekosistem Kementerian Pariwisata RI berharap pemerintah dan pelaku pariwisata di NTT harus cermat membaca peluang bisnis pariwisata sejalan dengan perluasan 10 destinasi pariwisata baru di NTT. Sejalan dengan itu, birokrasi di NTT juga harus diperbaharui.

Berbicara dalam dalam sebuah diskusi yang digelar Ikatan Alumni SMUK Syuradikara (IAS Nusantara) di Aula Universitas Pertahanan, Sentul, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (30/9) pekan lalu, Frans mencermati perilaku birokrasi di NTT yang lamban oleh karena skill yang tertinggal dibanding daerah lainnya. “Cara berpikir kita punya pimpinan di NTT belum ada banchmarking. Masih inbox, harusnya lebih smart, baca peluang,” katanya.

Frans menyebutkan, Provinsi NTT saat ini telah masuk dalam top hundred atau 100 besar kalender pariwisata internasional, seperti event internasional Tour de Flores, Festival Pasola, dan Festival Kebangsaan di Lembata dan Rote. “Pertanyaanya kita konsisten ga? Poin saya, banyak hal yang bisa dikerjakan dari event-event tersebut,” ujarnya.

Indonesia mempunyai target 20 juta juta wisatawan yang akan berkunjung ke Indonesia di tahun 2019. Untuk itu, semua wilayah harus siap sedia menjadi destinasi pariwisata internasinal. “Makanya kita di NTT harus gencar untuk meningkatkan services quality. Sisi lain, harus banyak produksi event internasional. Siapkan design culture dan  economic value dari semua event tersebut. Teman-teman IAS harus berkontribusi untuk pikirkan rencana aksinya,” imbau alumni Seminari Mataloko, Ngada, Flores ini.

Frans menjelaskan, setiap wisatawan biasanya menghabiskan angaran sebesar 1.200 dolar setiap kunjungan, atau 100-150 dolar per hari. Dengan demikian, pemerintah daerah dan para pelaku pariwisata di daerah harus bisa menyiapkan kamar yang mumpuni. Setiap 100 kamar membutuhkan 300 karyawan, dengan asumsi per kamar membutuhkan minimal 3 petugas.

Selain itu, pelaku usaha pariwisata juga bisa memikirkan bisnis model lain. Sejatinya, kata Frans, dengan anggaran Rp 50 juta, sudah bisa menciptakan destinasi wisata baru. “Ini peluang yang harus dipikirkan pemerintah dan para pelaku usaha perhotelan. Juga teman-teman IAS di daerah harus memikirkan ini, bahwa bisnis pariwisata adalah cara yang paling murah untuk meningkatkan lapangan kerja dan kesejahtaaan,” jelas Frans.

Kendati demikian, Frans mengingatkan bagi para pemimpin, pelaku usaha pariwisata, dan masyarakat di NTT, janganlah memberi janji dan promosi yang muluk tentang pariwisata di NTT, jiga tidak dapat mempertanggungjawabkan promosi tersebut.

“Ada promise ‘Welcome to NTT. Nah, pertanggungjawabannya adalah jamin wisatawan dapat pengalaman terbaik. Kalau belum, sebaiknya jangan dipromosi. Kita harus bisa siapkan lebih baik dengan masyarakat, jika sudah ready baru dipromosikan secara masif,” katanya.

Frans juga mengingatkan bahwa bisnis pariwisata pada dasarnya adalah community basse, dalam artian, mengembangkan pariwisata sama dengan mengembangkan masyarakat. “Bangun infrastruktur itu untuk menunjang kebutuhan masyarakat, bukan wisata. Kehadiran tourist itu nilai plus-nya,” tegas Frans.

Lebih lanjut Frans menegaskan, sebanyak 10 destinasi baru di NTT harus  bisa dikapitalisasi. Karena pariwista itu adalah usaha membuat orang senang dan bahagia. “Life is balancing, kita membuat keseimbangan. Tetapi untuk mengurusnya harus serius,” katanya.

Sayangnya, sejauh ini usaha pariwisata di NTT tidak dikapitalisasi secara serius. Misalnya, sejatinya wisatawan dengan tujuan Labuan Bajo tidak harus langsung terbang dari Bali menuju ke sana, karena perjalan tersebut terlampau murah dan mudah.

“Harus dikreasi, sehingga Labuan Bajo dan Komodo yang cantik jangan dibuka semua. Sekarang kita membiarkan wisata secara langsung menuju ke sana, kapan saja. Ini siklusnya kurang pas. Seharunysa jika Komodo bertelur, jangan dikunjungi wisatawan selama dua bulan, di masa itu, mereka bisa diarahkan ke Riung, Bena, Kelimutu, dll,” urai Frans.

Dia juga menegakan dari sisi packaging design pariwisata yang harus menarik. Dalam hal ini, pengembangan pariwisata NTT perlu komitmen pemimpin yang melihatkan pihak akademik. Misalnya, pihak kampus bisa mengemas ulang cerita legenda-legenda di NTT dengan nilai  etik yang menarik wisatawan.

“Cerita legenda yang dibuat harus jadi soul of destination. Jadi harus sampai para wisatawan baru sadar, oh konyol ya.. Pada akhirnya wisatawan ingin terus menggali, sehingga mereka semakin lama tinggal. Ini bagus buat bisnis pariwisata kareba kebutuhan wisata bertambah,” katanya.

Selain itu, arsitektur lokal juga harus diperhatikan dalam mengembangkan pariwisata di NTT. “Pariwisata itu mendrive orang untuk datang. Semakin lokal, semakin menarik. Ini paradox,” katanya.

Selain itu, bisa dibuatkan calendar of event di setiap tahun sehingga bisa diketahui oleh wisatawan kapan mereka harus datang lagi. Terkait hal ini, Raldy Doy, salah satu alumni IAS Nusantara menegaskan bahwa IAS Nusantara akan akan mengambil salah satu event internasional di NTT, seperti halnya Tour de Flores. “Tunggu tanggal mainnya. Kita ingin berkontribusi nyata untuk Flobamora,” kata Raldy menimpali.

Di kesempatan yang sama, Pieter Gero, Kepala Desk Ekonomi Harian Kompas menegaskan, para pemimpin di NTT saat ini sudah saatnya menangkap peluang pembangunan yang tengah gencar dilakukan pemerintah. Misalnya anggaran infrastruktur yang sebegitu besar, juga rencana investasi di sektor ekonomi lainnya, satu persen saja ditarik ke NTT, mempunyai dampak yang begitu besar.

“Peluang ekonomi di NTT lagi bagus. Presiden Joko Widodo sudah sering ke NTT, kemudian Menteri PUPR, Basuki sudah pernah berkarya selama empat tahun di Kupang, beliau paham betul apa yang perlu dilakukan di NTT. Jadi para pemimpin kita harus mendangkap peluang ini, ambil investasi jangka panjang” jelas alumni Syuradikara angkatan 84 ini.

Dia menjelaskan, para pemimpin di NTT juga harus mempunyai visi ke depan yang disusun secara baik. Dalam hal ini bisa didasarkan pada data-data ekonomi yang valid. “Pemimpmin harus pintar analisa data. Yang kuasai data, akan menguasai ekonomi. Praktek di dunia seperti itu. Ini bisa dimulai dengan memilki riset center yang melibatkan sektor akademik,” pungkas Pieter.

--- Sandy Romualdus

Komentar