Breaking News

REGIONAL Dugaan Korupsi Proyek NTT Fair, Kejati Periksa Ajudan Frans Lebu Raya 30 Apr 2019 15:24

Article image
Proyek pembangunan gedung NTT Fair di Kelurahan Lasiana, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang diabadikan Selasa (5/2/2019). (Foto: timorexpress.fajar.co.id)
Pada tanggal 31 Desember 2018 telah dilakukan pembayaran 100 persen kepada rekanan walau faktanya pengerjaan proyek belum rampung.

KUPANG, IndonesiaSatu.co -- Ajudan mantan Gubernur NTT Frans Lebu Raya, Ariyanto Rondak turut diperiksa dalam kasus dugaan korupsi proyek NTT Fair. Hingga Senin (29/4/2019), tim Penyidik Kejati NTT terus mengembangkan penyidikan dan telah memeriksa sedikitnya 20 saksi.

Sejumlah pegawai Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Pemukiman Provinsi NTT kembali menjalani pemeriksaan, termasuk saksi yang berperan sebagai konsultan pengawas.

Selain pemeriksaan saksi di Kantor Kejati NTT, penyidik juga melakukan pemeriksaan lapangan di lokasi proyek NTT Fair, melibatkan sejumlah saksi.

Terkait pemeriksaan Ariyanto, Kasi Penkum Kejati NTT Abdul Hakim yang dikonfirmasi via ponsel mengaku belum mengetahuinya karena masih berada di Makassar.

“Saya masih di Makassar, nanti malam baru tiba,” jelas Hakim seperti dilansir penatimor.com, Senin (29/4/2019).

Namun informasi yang beredar di lingkungan Kejati NTT menyebutkan, pemeriksaan saksi tersebut terkait dengan adanya dugaan aliran dana proyek NTT Fair ke sejumlah pejabat di lingkup Pemprov NTT.

Saksi Ariyanto disebut-sebut menjadi perantara untuk menjemput, lalu mengantar sejumlah dana yang disebut-sebut menjadi jatah beberapa pejabat.

Sebelumnya, tim penyidik Kejati NTT juga melakukan penyitaan uang senilai Rp 686.140.900 sebagai barang bukti dalam perkara dugaan korupsi proyek pembangunan gedung pusat pameran NTT Fair.

Kasi Penkum Kejati NTT, Abdul Hakim yang dikonfirmasi di kantornya, Jumat (26/4/2019) membenarkan adanya penyidikan kasus tersebut.

Menurut Abdul, uang tunai ratusan juta tersebut disita dari pihak konsultan pengawas proyek dimaksud.

“Ya, penyitaan dilakukan pada Kamis (25/4/2019) dan Jumat (26/4/2019). Proses pemeriksaan saksi terus dilakukan,” kata Abdul.

Tim Penyidik Kejati NTT juga  terus melakukan penyidikan perkara dugaan korupsi pada proyek yang berlokasi di wilayah Bimoku, Kelurahan Lasiana, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang tersebut.

Proyek yang dianggarkan melalui Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Pemukiman Provinsi NTT Tahun Anggaran (TA) 2018 senilai Rp 29.919.103.500 tersebut dikerjakan oleh PT. Cipta Eka Puri.

Sebelumnya, Kejati NTT Dr. Febrie Adriansyah yang diwawancarai di kantornya, Selasa (23/4/2019) membenarkan.

Mantan Wajati DKI Jakarta itu mengatakan peningkatan ke tahap penyidikan dilakukan setelah mengevaluasi hasil penyelidikan.

Dalam tahap penyidikan ini, Kajati mengakui pihaknya terus melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi terkait proyek dimaksud.

Saksi yang diperiksan meliputi rekanan pelaksana, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), peneliti kontrak dan beberapa pegawai pada Dinas Perumahan Rakyat dan kawasan Permukiman Provinsi NTT.

“Sebelumnya diperiksa delapan saksi, terus tambah enam saksi, dan ada enam saksi lagi. Semuanya sudah 20 saksi. Ada saksi yang berdomisili di Kupang dan ada juga di luar NTT,” ungkap Kajati.

Dijelaskan, pada tanggal 31 Desember 2018 telah dilakukan pembayaran 100 persen kepada rekanan walau faktanya progres pengerjaan belum rampung.

Terkait hal ini, terindikasi kuat adanya mark up pelaporan proyek progress pekerjaan sehingga dilakukan pembayaran 100 persen.

Kajati yang didampingi Asisten Tipidsus Sugiyanta melanjutkan, pembayaran secara penuh kepada rekanan pelaksana dilakukan PPK pada 14 Desember 2018.

“Kita komit dan optimis untuk menuntaskan proses hukum kasus ini,” tegas Kajati.

--- Simon Leya

Komentar