Breaking News
  • Bos First Travel Andika Divonis 20 Tahun, Istrinya 18 Tahun
  • Dolar AS Melambung, Harga Premium dan Solar Tak Naik Tahun Ini
  • Hendropriyono: TNI/Polri Jangan Takut Tegakkan Hukum
  • JK: Eks Koruptor Dilarang Nyaleg Agar Wibawa DPR Baik
  • Jonan Targetkan Akuisisi Saham Freeport Rampung Juni

KOLOM Duplex Hominis Beatitudo 11 Mar 2018 16:32

Article image
Demi kebahagiaan ini, kita perlu selalu berjuang dalam iman, hidup dalam semangat dan tetap yakin dalam harapan. (Foto: Steemit)
Semua institusi harus dibangun di atas prinsip cinta dan keadilan agar menjadi mediasi yang menghantar kita ke tingkat kebahagiaan yang lebih tinggi: vita aeterna.

Oleh Felix Baghi

 

KEBAHAGIAAN manusia itu bermakna ganda: imanen-transenden, natural-supranatural, temporal-a-temporal dan duniawi-adiduniawi.

Untuk mencapai kebahagiaan tahap pertama, yang duniawi, manusia harus bekerja keras melalui cara-cara hidup yang baik dan benar. Selama hidup di dunia ini, "in hac Vita", manusia harus rajin, tekun dalam perjuangan, pantang menyerah dan gigih dalam tantangan apapun. Dia harus kreatif bekerja dan produktif berkarya. Semuanya demi mencapai "kebahagiaan dalam hidup sekarang". Santo Tomas menyebut "in statu praesentis viae" manusia harus dengan cara-cara yang elegan demi kebahagiaan di dunia ini. Orang bekerja, membanting tulang siang dan malam untuk memiliki apa saja di muka bumi. Dia bekerja demi kebahagiaan.

Namun, kebahagiaan tahap ini hanya dapat dimiliki manusia, siapapun dia, selama ia masih berada di dunia ini. Sekali lagi, Santo Tomas, doktor universalis itu menyebutnya "Qualis haberi protest". Inilah kebahagiaan yang temporal, duniawi kebahagiaan ini bersifat imanen, sesaat dan hanya bisa dicapai sesuai kemampuan yang manusiawi.

Selain itu, menurut keyakinan semua orang beriman, masih ada tahap kebahagiaan yang lebih tinggi, lebih sempurna dan bersifat transenden. Inilah yang dinamakan kebahagiaan Surgawi atau kebahagiaan kekal.

Kebahagiaan ini hanya bisa diterima menurut "rahmat Ilahi" (divine Grace) dan ditempuh melalui suatu partisipasi dengan yang Ilahi. Sekali lagi Tomas menyebutnya "beatitudo per participationem". Menurutnya, partisipasi ini merupakan suatu berkat istimewah karena ia merupakan "aliqua beatitudinis participatio". Mengapa demikian?

Kebahagiaan ini hanya dimiliki oleh orang-orang yang sanggup melewati tahap kehidupan di dunia ini dengan "pantas dan layak". Orang-orang seperti inilah yang selalu mengarahkan semua jalan hidupnya menuju yang abadi. Sekali lagi, Tomas menyebutnya “felicitas viae”.

Jadi, kebahagiaan yang benar sesungguhnya adalah kebahagiaan surgawi karena ia mengandung unsur "felicitas aeterna."

Inilah kebahagiaan yang dirindukan oleh semua orang beriman.

Tentu, demi kebahagiaan ini, kita perlu selalu berjuang dalam iman, hidup dalam semangat dan tetap yakin dalam harapan. Semuanya, iman, harap dan kasih hanya bisa dicapai kalau kita menjalani hidup di dunia ini sebaik-baiknya.

Tentu, jalan hidup seperti ini tidak dilakukan secara individual, tetapi, terlebih secara kolektif. Karena itu, demi kebahagiaan di dunia, kita membutuhkan institusi keluarga, institusi negara dan institusi agama yang baik.

Semua institusi ini harus dibangun di atas prinsip cinta dan keadilan agar menjadi mediasi yang menghantar kita ke tingkat kebahagiaan yang lebih tinggi: vita aeterna.

 

Penulis adalah dosen STFK Ledalero, lulus program doktoral di Universitas St Thomas, Manila.

Komentar