Breaking News

OPINI Ein Kind, Ein Lehrer: Burkina Faso, Ki Hajar Dewantara, dan Daniel Dhakidae 03 May 2021 06:12

Article image
Ein Kind, ein Lehrer, ein Stift und ein Buch, können die Welt verändern (seorang anak, seorang guru, sebatang pinsil dan sebuah buku bisa mengubah dunia).

Oleh Stefanus Wolo Itu

HARI ini, 2 Mei 2021, ada perayaan komunio pertama di paroki saya. Sebanyak 11 anak boleh mengalami hari bahagia ini. Karena situasi Covid-19, perayaan ini terjadi dalam dua termin. Termin pertama untuk 5 anak pada jam 9. Termin kedua untuk 6 anak pada jam 11.

Perayaan liturgi sangat meriah. Semua anak komunio terlibat. Mereka membuat sapaan awal sesuai bahasa ibu mereka. Ada orang Jerman, Swiss, Italia, Portugal, Prancis, Polandia, dan Kroasia. Mereka melantunkan doa mohon ampun, drama singkat, doa umat, menyanyi, menari dan tepuk tangan. Pokoknya asyik dan tidak menjenuhkan.

Ada satu hal yang menarik hari ini adalah pengumpulan kolekte. Kami di Swiss, hampir semua kolekte tidak untuk kas paroki. Semuanya untuk semua urusan sosial kemanusiaan. Begitu juga kolekte hari ini. "Erstkommunionkollekte: Wir helfen Kindern in Burkina Faso. Artinya kollekte komunio pertama: kita menolong anak-anak di Burkina Faso".

Di sana terpampang foto seorang anak Burkina Faso yang menatap dengan mata memelas. Di samping foto itu tertulis: "Ein Kind, ein Lehrer, ein Stift und ein Buch können die Welt verändern”. Artinya seorang anak, seorang guru, sebatang pinsil, sebuah buku bisa mengubah dunia".

Woow, ini kolekte keren dan transformatif. Kolekte untuk dukung anak sekolah, guru, untuk membeli pensil dan buku. Kolekte untuk pendidikan. Pendidikan untuk membaharui Burkina Faso dan mengubah dunia.

Burkina Faso adalah salah satu negara paling miskin di Afrika Barat. Saya sendiri mendengar kisah pilu kemiskinan ini dari rekan imam projo asal Burkina Faso, Abbe Andre. Juni tahun 2020, dalam kerja sama dengan Kirche In Not Swiss, saya mengundang beliau misa di paroki saya. Kami memberikan kolekte untuk menolong anak-anak di sana.

Dalam percakapannya, Abbe André beritahu saya begini: "Stefan, Bildung ist ein wichtiger Ausweg aus dem Teufelskreis der Armut in einem Land". Artinya pendidikan adalah satu jalan keluar terpenting dari lingkaran setan kemiskinan di sebuah negara". Luar biasa anak-anak komunio pertama saya. Mereka memberikan kontribusi terhadap kemajuan peradaban bangsa lain.

Ki Hajar Dewantara

Hari ini juga pikiran saya menerawang jauh pada satu tokoh: Ki Hajar Dewantara. Beliau dihormati sebagai tokoh pendidikan nasional. Sejak SD saya sudah mengenal nama ini. Nama ditulis dalam sejarah, dipuji dalam lagu dan puisi. Dan tidak lupa selalu disapa dalam "Sa Ngaza" atau sapaan adat Bajawa, saat perlombaan jai (tarian) budaya Ngada menjelang Hardiknas.

Saya sendiri pernah membawakan "Sa Ngaza" itu di lapangan Ampera Mataloko tahun 1980. Karena "demam lapangan" saya hanya ucapkan "O Ema Ki Hajar Dewantara da maku" atau "bapak Ki Hajar Dewantara yang mulia" sebanyak tiga kali. Setelah itu tanpa menunggu lebih lama saya perintahkan: "Hoga hama miu tau si laba". Perintah untuk menabuh gong gendang dan mengiringi kami". Pulang penginapan kena ketuk dari guru pelatih tari.

Kemudian hari saya menggali lebih jauh Ki Hajar Dewantara. Dia anak bangsawan. Karena anak bangsawan beliau boleh mengenyam pendidikan dasar sekolah Belanda. Dia melanjutkan ke STOVIA atau sekolah dokter Bumi Putera. Sayangnya tidak selesai karena alasan kesehatan.

Beliau menjadi wartawan untuk beberapa surat kabar. Sebut saja Midden Java, De Expres, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer dan Poesara. Tulisannya membakar semangat. Seringkali sangat tajam dan menyulut kemarahan pemerintahan kolonial Belanda. Karena itu dia diasingkan ke pulau Bangka dan kemudian bersama Douwes Dekker dan Cipto Mangunkusumo ke negeri Belanda.

Pengasingan bukan bencana. Pengasingan adalah blessing in disguise, rahmat terselubung. Pengasingan adalah tempat dan jalan sunyi menyusun kekuatan kata dan strategi membangun nasionalisme. Kekuatan jalan sunyi itu adalah pendidikan. Pendidikan adalah sarana utama melawan kolonialisme.

Karena pendidikan beliau bisa berjejaring membangun organisasi dan gerakan politik. Sebut saja komunitas Pers, Budi Utomo, Indische Vereeniging, Kantor Berita Indonesia, Perguruan Taman Siswa. Ki Hajar Dewantara terpanggil melawan kekuasaan negara kolonial dan pertarungan kebudayaan antara "Inlander versus Nederlands" atau Boemi Putera melawan orang-orang Belanda.

Beliau akhirnya menjadi menteri pendidikan pertama RI. Semboyan beliau yang terkenal hingga kini adalah "di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan". Bravo bapak pendidikan Indonesia.

 

Daniel Dhakidae

Kemarin, Sabtu 1 Mei 2021, saya mengikuti webinar mengenang Daniel Dhakidae. Webinar ini dimoderatori tokoh pers nasional, Primus Dorimulu. Panelis adalah para sahabat Daniel dari pelbagai kalangan seperti Vedy R. Hadiz, Mohamad Qudari, Rikard Bagun, Beny K Harman, Frans Padak Demon. Hadir juga ketua Alsemat Emanuel Bili, warga Alsemat dan masyarakat luas.

Masukan para panelis, testimoni dan ungkapan kegelisahan peserta pasca kematian Daniel sangat kaya. Daniel orang hebat.

Beliau memberikan sumbangan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia.

Daniel adalah guru, pendidik intelektual. Generasi muda patut meneladani cara kerja intelektualnya. Daniel jadi "bintang dari timur, elang dari Flores" karena memiliki aset. Aset itu tidak kasat mata, tapi tak ternilai harganya. Aset itu adalah integritas, kejujuran, independensi dan ketegasan sikap, kesantunan, kerendahan hati. Dia bisa membuka topeng orang tanpa menciderai orang itu.

Ki Hajar Dewantara adalah "Inlander/Pribumi" yang melawan hegemoni "Ausländer/Nederlands".

Sedangkan Daniel adalah cendekiawan "Inlander" yang berani melawan koloni penguasa dan pengusaha "Inlander". Khususnya mereka yg bekerja sama untuk melanggengkan dominasi dan hegemoni yang menindas.

Saya pribadi melihat bahwa kehebatan Daniel mulai dari kampung. Dia meniti jalan sunyi kegelisahan intelektualnya di lorong-lorong sunyi kampung Wekaseko-Wolowae dan sekitarnya. Dia mengembara di padang-padang, melintasi Saghonaba, mendaki tanjung Kinde dan berlayar ke pulau Kinde.

Daniel berada di Wekaseko hingga berusia 11 tahun, tahun 1945-1956. Selanjutnya di Danga dan Mataloko. Saya penasaran: mengapa Daniel begitu cerdas dan memiliki kecakapan multitalenta? Saya kira kecerdasan ini tidak langsung muncul di "lembah Sasa" dan langsung melanglangbuana ke Universitas Cornell kebanggaannya. Bagi saya, Daniel menjadi hebat karena tetap berakar dengan kampung halaman. Saya ingat Hans Küng, teolog kontroversial yg meninggal hari yang sama dengan Daniel tanggal 6 April lalu. Dia jujur mengakui: "Saya hebat di Tübingen Jerman. Tapi kehebatan itu sesungguhnya berakar di kampung halaman saya di Zursee Swiss. Akar keluarga, akar kultural dan religiusitas".

Saya menduga saja bahwa kecerdasan beliau 70 % berasal dari gen keluarga besar dan orang Toto umumnya. Tahun 1999-2006 saat bertugas di Ratesuba-Maukaro, saya sering ke Wekaseko dan bertemu dengan banyak orang Wekaseko yg cerdas. Orang Wekaseko diaspora juga hebat-hebat.

Selain gen, kecerdasan Daniel didukung nutrisi selama 11 tahun masa kecil di Wekaseko. Kakak sulung saya yang pernah guru di Wekaseko thn 1970-1972 dan sering di rumah Daniel mengisahkan betapa orang Wekaseko saat itu sangat makmur. Mereka memiliki banyak hewan. Mereka dekat dengan laut. Mereka banyak mengkonsumsi makanan bergisi.

Saya kira Daniel kecil menikmati nutrisi yang berisikan protein kemampuan berpikir, daya tangkap, memori dan konsentrasi dalam proses belajar. Karena itu dalam konteks ini saya perlu mengapresiasi bapak, mama, para guru SD dan keluarga besar di Wekaseko yang telah menjadi "bidan-bidan intelektual awal" yang melahirkan dan merawat cendikiawan Daniel Dhakidae.

Kehebatan Daniel selanjutnya didukung oleh lingkungan dan stimulasi di lembah Sasa Mataloko. Mataloko menjadi oasis baru iklim intelektual Daniel didukung oleh sarana prasarana dan para pendidik multitalenta dari rahim Eropa.

Perjalanan Wekaseko-Kuru-Watuapi-Anakoli-Lebiwoi-Ratedao hingga Mataloko sangat sulit. Tapi itulah jalan sunyi masa-masa awal pergumulan intelektual Daniel. Jalan sunyi, jalan sulit, tapi jalan yang membebaskan. Pendidikan adalah jalan pembebasan.

Sentuhan ringan ini saya tulis bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2021. Tema tahun ini menarik: "Serentak Bergerak, Wujudkan Merdeka Belajar". Logonya menarik. Ada bintang pendidikan berwarna ceria dan pena.

Kolekte anak komunio pertama saya untuk Burkina Faso, membaca kembali kisah Ki Hajar Dewantara dan mengenang Daniel Dhakidae hanyalah sebuah sentuhan ringin. Untuk apa? Pertama, sentuhan untuk melahirkan generasi baru yngg unggul, cerdas dan berkarakter, adaptif dan tangguh menghadapi tantangan jaman yngg kian dinamis.

Kedua, pena adalah simbol proses pendidikan untuk menciptakan karya dengan perpaduan intelektual, sosial, emosional dan spiritual.

"Ein Kind, ein Lehrer, ein Stift und ein Buch, können die Welt verändern (Seorang anak, seorang guru, sebatang pensil dan sebuah buku bisa mengubah dunia)".

Dukunglah anak, dukunglah guru. Berilah anak-anak kita pensil dan buku agar mereka bisa merubah dunia. Ingat Ki Hajar Dewantara yang hebat. Kenangkan Daniel Dhakidae yang cakap. Ke-cendikiawan-an mereka berawal dari pertemuan sebatang pinsil dan secarik kertas.

 

Penulis adalah imam Diosesan Keuskupan Agung Ende, misionaris Fidei Donum di Basel, Swiss.

Komentar