Breaking News

REGIONAL Eko Putro Sandjojo: Ende Rahim Inspirasi Bung Karno 06 Jun 2017 10:05

Article image
Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT), Eko Putro Sandjojo memimpin upaca peringatan Hari Lahir Pancasila di Lapangan Pancasila Ende. (Foto: Guche Montero)
Prosesi tersebut bermaksud mengenang kembali peristiwa Bung Karno dan Ibu Inggit ketika turun dari kapal yang membawa mereka ke Ende pada tahun 1934 silam.

ENDE, IndonesiaSatu.co -- Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT), Eko Putro Sandjojo mengatakan, Ende merupakan tempat bersejarah karena Bung Karno menemukan ilham merenungkan butir-butir Pancasila. Menurutnya, pengasingan Bung Karno di Ende tahun 1934-1938 membawa berkah bagi sejarah bangsa dalam meletakkan dasar negara yakni Pancasila.

Eko mengatakan ini ketika memimpin upaca peringatan Hari Lahir Pancasila yang berlangsung di Lapangan Pancasila Ende, Kamis (1/6/2017).

“Pengasingan Bung Karno ke Ende hingga ilham melahirkan butir-butir Pancasila merupakan catatan sejarah bangsa. Kuatnya kerukunan, semangat toleransi, persatuan dan kekeluargaan yang terbangun semasa pengasingan Bung Karno turut mempengaruhi buah pemikirannya dalam meletakkan dasar ideologi bangsa. Tentu, butir-butir Pancasila berangkat dari pengalamannya bersama masyarakat di Ende saat ini,” kata Menteri.

Upacara yang digelar sejak pukul 08. 30 Wita diawali parade perahu hias dari pelabuhan Ende.  Para peserta prosesi laut yang membawa lambang negara, Garuda Pancasila dan Bendera Merah Putih mengarak para kontestan yang menampilkan wajah mirip Bung Karno dan Ibu Inggit.

Prosesi tersebut bermaksud mengenang kembali peristiwa Bung Karno dan Ibu Inggit ketika turun dari kapal yang membawa mereka ke Ende pada tahun 1934 silam. Sebanyak tiga pasangan yang memenangi kontes wajah mirip Bung Karno dan Ibu Inggit. Para kontestan dan segenap warga yang mengikuti prosesi laut kemudian diterima oleh Bapak Menteri yang menggunakan kapal KRI Multatuli

Dia mengharapkan agar upara peringatan Hari Lahir Pancasila tidak hanya seremoni kemeriahan dan keramaian. Menurutnya, Ende sebagai tempat lahirnya butir-butir Pancasila harus mampu mencerminkan nilai-nilai Pancasila.

“Pancasila sebagai dasar dan ideologi bangsa sudah final. Bung Karno menyadari bahwa bangsa yang kuat harus dibangun di atas fondasi ideolgi yang kuat, Pancasila. Ende sebagai rahim inspirasi Bung Karno tentang kehidupan berbangsa dan bernegara harus mampu menjiwai nilai-nilai luhur Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Hidup dengan semangat toleransi yang kuat, persatuan, solidaritas, tanpa prasangka dan permusuhan serta hidup sebagai saudara-saudari sebangsa dan se-tanah air dalam rumah Pancasila, Indonesia. Karena itu, Presiden Joko Widodo pada tanggal 1 Juni 2016 resmi menandatangani Keputusan Presiden (Keppres) nomor 24 tahun 20016 tentang Hari Lahir Pancasila sekaligus menetapkannya sebagai hari libur nasional,” ungkapnya.

Hadir juga pada upacara tersebut Deputi Kementerian Pariwisata, Esti Reko Astuti, Ketua Komisi V DPR RI Farry Francis, Anggota DPR RI Andreas Hugo Parera, Gubernur NTT Frans Lebu Raya, Ketua DPRD NTT Anwar Pua Geno, Forkompinda Provinsi NTT, para Bupati dan wali kota se-NTT serta pejabat daerah setempat.

Pada akhir sambutan, Menteri Eko menegaskan pentingnya menjaga persatuan dalam keberagaman. Hal itu dikaitkan dengan keberadaan dan otonomi desa yang berjumlah 74. 910.

“Mari kita menyadari keberagaman dalam konteks desa yang jumlahnya puluhan ribu desa. Pemerintah berkomitmen menjunjung tinggi kemajemukan desa di Indonesia melalui otonomi desa melalui UU nomor 6 tahun 2014 tentang Desa. Mari kita membangun daerah mulai dari desa, menjaga persatuan, menolak berbagai bentuk intoleransi, radikalisme dan ancaman pemecah-belah persatuan dan kebhinekaan bangsa. Kalau ada gerakan radikalisme, saya meminta kepada seluruh Kepala Desa untuk segera melaporkan kepada pihak yang berwajib. Mari kita semua berperan aktif menjaga Pancasila sebagai rumah kita bersama,” pungkasnya.

 

--- Guche Montero

 

Komentar