Breaking News

KEUANGAN Ekonom CIMB Niaga: 2020 Menantang, Pelaku Pasar Harus Tetap Optimis 26 Nov 2019 12:31

Article image
Chief Economist Bank CIMB Niaga, Adrian Pangabean. (Foto: ist)
Diprediksi, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan berada di kisaran 5%.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co -- Perekonomian Indonesia pada tahun 2020 masih akan menghadapi sejumlah tantangan. Berlanjutnya perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok serta stagnannya pertumbuhan perekonomian dunia juga berpengaruh pada dinamika investasi dan konsumsi dalam negeri.

Diprediksi, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan berada di kisaran 5%.

Pernyataan tersebut disampaikan Chief Economist PT Bank CIMB Niaga Tbk (CIMB Niaga) Adrian Panggabean pada Diskusi Media Bersama Chief Economist CIMB Niaga di Graha CIMB Niaga, Jakarta, Selasa (26/11/2019).

Dalam diskusi tersebut, Adrian memaparkan analisanya terkait refleksi perekonomian Indonesia tahun 2019 dan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020.

Menurut Adrian, kendati perekonomian Indonesia tahun depan dibayangi sejumlah tantangan, para pelaku usaha diharapkan tetap optimis.

“Perekonomian tentu tak lepas dari tantangan, tapi tentu saja para pelaku pasar harus menatap ke depan dengan optimis. Manfaatkan setiap peluang terutama dalam kondisi market yang masih volatile,” katanya.

Adrian pun menyarankan sejumlah solusi. Pertama, dalam jangka pendek, mengingat keterbatasan kebijakan moneter, pemerintah perlu mempertimbangkan pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mendekati 3%, dengan merumuskan secara detil kebijakan suplementer yang mampu mereduksi efek negatif dari pelebaran defisit.

Kedua, dalam jangka pendek-menengah, pemerintah perlu agresif menaikkan kontribusi dividen Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terhadap APBN melalui penurunan biaya yang signifikan dan peningkatan produktivitas yang optimal. Juga, perlu memanfaatkan potensi pembiayaan lewat mekanisme sekuritisasi aset pemerintah.

“Ketiga, pemerintah dan regulator perlu segera melakukan terobosan dalam meningkatkan mobilisasi tabungan dalam negeri lewat reformasi besar-besaran di industri dana pensiun dan social security. Selain itu, Pemerintah Daerah juga harus menaikkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) secara netral, untuk mengurangi ketergantungan daerah terhadap dana alokasi dari pusat,” papar Adrian.

Refleksi 2019

Adapun di sisa tahun 2019, kinerja perekonomian Indonesia diperkirakan masih akan mengalami perlambatan. Hal itu dipicu oleh pertumbuhan investasi dan konsumsi rumah tangga yang melambat di kuartal ketiga.

Menurut Adrian, tahun ini pelaku usaha menunda keputusan bisnis karena bayangan ketidakpastian, baik yang muncul dari sisi global maupun domestik. Sejalan dengan menurunnya permintaan dan adanya kendala likuiditas, pertumbuhan kredit juga berangsur melambat.

Di sisi lain, pelemahan harga komoditas dan tingginya suku bunga pada paruh pertama tahun 2019, juga telah menyebabkan rumah tangga mengerem belanjanya. Pada kuartal ketiga tahun ini, dengan mengoreksi faktor musiman, laju pertumbuhan konsumsi rumah tangga antar kuartal bahkan telah mencapai angka terendah dalam sembilan tahun terakhir.

“Dengan memperhitungkan semua faktor dan prospek berlanjutnya perlambatan di kuartal keempat, perekonomian Indonesia nampaknya hanya akan bertumbuh maksimum 5% di tahun 2019,” kata Adrian.

Sementara itu, kurs rupiah terus mengalami perbaikan. Setelah mendekati level Rp15.000 per dolar AS di awal tahun, kini berangsur menguat ke arah Rp14.000 per dolar AS. Hal ini didukung oleh derasnya arus masuk investasi asing di pasar modal.

“Geliat pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) yang didorong oleh Bank Indonesia juga berkontribusi pada penguatan dan stabilitas kurs di kisaran Rp14.000 per dolar AS pada enam bulan terakhir,” tutup Adrian.

--- Sandy Romualdus

Tags:
CIMB Niaga

Komentar