Breaking News
  • BI Sudah Habiskan Rp 11 T untuk Kuatkan Rupiah
  • Gempa 7,8 SR Guncang Fiji
  • Kemensos: Bansos Saja Tak Cukup Tangani Kemiskinan
  • Resmi! Pendaftaran CPNS 2018 Dibuka 19 September
  • Wadahi Mahasiswa yang Suka Piknik, Kemenpar Resmikan GenPI UBM

INTERNASIONAL Erdogan Pilih Menantunya Jadi Menteri Keuangan, Nilai Mata Uang Turki Anjlok 10 Jul 2018 09:08

Article image
Berat Albayrak, menantu Presiden Erdogan. (Foto: CNN Turki).
Nilai lira, mata uang Turki, merosot sekitar 3,7 persen menjadi 4,79 per dollar AS hanya dalam waktu beberapa jam setelah menantu Erdogan menjadi menteri keuangan.

ANKARA, IndonesiaSatu.co Usai dilantik sebagai presiden Turki untuk periode 2018-2023, Senin (9/7/2018), Recep Tayyip Erdogan menunjuk menantunya, Berat Albayrak, sebagai menteri keuangan.

Dikutip dari Spiegel Online, Selasa (10/7/2018), sebelumnya Albayrak menduduki posisi menteri energi dan sumber daya alam sejak 2015. Di posisi barunya, ia akan menggantikan Mehmet Simsek, ekonom senior yang memiliki reputasi bagus dalam perkembangan ekonomi Turki.

Sementara itu, penunjukan Albayrak menimbulkan dampak negatif di pasar keuangan Turki. Nilai lira, mata uang Turki, merosot sekitar 3,7 persen menjadi 4,79 per dollar AS hanya dalam waktu beberapa jam setelah menantu Erdogan menjadi menteri keuangan.

Pada hari yang sama, Senin (9/7/2018), Presiden Erdogan memastikan Mevlut Cavusoglu tetap pada jabatannya sebagai menteri luar negeri.

Sedangkan untuk mengisi posisi menteri pertahanan, Erdogan menunjuk Jenderal Hulusi Akar yang berperan penting meredam upaya kudeta terhadap Erdogan pada pertengahan tahun lalu.

Dalam pidato pelantikannya, Erdogan berjanji akan mendorong Turki sebagai negara maju dengan kekuatan baru di berbagai bidang, termasuk militer.

"Kita akan meninggalkan sistem yang membuat negara kita di masa lalu harus mengalami kekacauan politik dan ekonomi," tegas Erdogan di Ankara seperti dikutip dari spiegel.de, Selasa (10/7/2018).

Erdogan membuka lembaran baru dalam sistem pemerintahan Turki ketika ia meraih suara mayoritas untuk melakukan amandemen konstitusi negara itu beberapa waktu lalu.

Salah satu butir amandemen konstitusi terbaru itu menyebutkan, presiden berhak menunjuk menteri dan wakil presiden, serta dapat berperan aktif dalam sistem hukum.

Perubahan konstitusi sesuai keinginan Erdogan tersebut menandai transisi dari sistem parlementer ke sistem presidensial yang telah berlaku sejak Republik Turki didirikan pada 95 tahun silam.

Amandemen yang menonjolkan peran baru Erdogan sebagai presiden eksekutif  itu dikecam oleh para lawan politik sebagai tindakan yang mengkhianati para pendiri Turki dan mengacaukan demokrasi Turki.

--- Rikard Mosa Dhae