Breaking News
  • Bengkulu inisiasi koridor gajah di bentang Kerinci Seblat
  • Gubernur Sumbar pecahkan rekor MURI pantun terbanyak
  • Ibrahimovic teken kontrak baru di MU pekan ini
  • Kanselir Jerman kritik Turki telah selewengkan fungsi Interpol
  • PSG menang 6-2 atas Toulouse, Neymar cetak dua gol

BOLA Final ETMC 2017 Berakhir Ricuh, Ini Regulasi PSSI 09 Aug 2017 23:41

Article image
Kondisi ricuh saat pertandingan final ETMC 2017 di stadion Marilonga, Ende. (Foto: Guche)
Meski pertandingan berakhir ricuh, oleh regulasi PSSI tim Perse Ende tetap dinobatkan sebagai juara ETMC 2017.

ENDE, IndonesiaSatu.co -- Laga final Liga III NTT, El Tari Memorial Cup (ETMC) 2017 antara tim PSN Ngada versus tim tuan rumah Perse Ende yang berlangsung di stadion Marilonga, Ende, Rabu (9/8/17) malam, berujung rusuh.

Disaksikan IndonesiaSatu.co, sebelum laga dimulai, puluhan ribu pendukung dan supporter yang masih antri di luar stadion mulai terlibat aksi saling dorong dengan pihak keamanan yang dijaga satuan Kepolisian dan TNI serta Polisi Pamong Praja. Akibatnya, beberapa penonton juga aparat keamanan harus mendapat pertolongan medis. 

Pihak keamanan terlihat bekerja ekstra keras menjaga jalannya pertandingan karena para penonton dan supporter sudah memadati stadion hingga berjarak satu meter dari garis pinggir lapangan.

Setelah atraksi seremoni penutupan oleh para penari dan wejangan dari Bupati Ende, Marsel Petu dan Bupati Ngada, Marianus Sae, laga pun dimulai.

Sejak kick off babak pertama, kedua tim mulai menampilkan permainan atraktif dengan tempo serangan berimbang antara kedua tim yang sama-sama memiliki kualitas pemain mumpuni di setiap lini. Hingga menit ke-30, peluang serangan dari kedua tim belum membuahkan gol.
Wasit Anton Rismiaji yang memimpin pertandingan akhirnya menunjuk titik putih lima kemudian.

Keputusan ini berawal dari pelanggaran penjaga gawang Ngada, David Demu kepada penyerang Ende Alvian (7) di kotak pinalti. Atep (17) dengan dingin berhasil mengelabui David setelah sepakannya mengarah ke pojok kiri yang tidak dapat dibaca penjaga gawang Ngada. Ende mempimpin 1-0.

Keunggulan Ende membuat tensi permainan mulai memanas dengan aksi saling tekel dan saling dorong antara pemain. Beberapa kali terjadi keributan hingga wasit menghentikan sementara pertandingan.

Penjagaan ketat kepada penyerang Ngada, Okta Pone dan Yorris Nono saat peluang lewat tendangan pojok, memaksa wasit mengeluarkan kartu kuning.

Hingga babak pertama berakhir, skor tidak berubah. Situasi masih kondusif meski beberapa kali sempat ada aksi lemparan botol minuman dan batu ke arah lapangan pertandingan.

Pada babak kedua, tensi permainan kedua tim semakin memanas. Buntutnya, pada menit ke-59 situasi menjadi tak terkendali dan berujung ricuh. Berawal dari pelanggaran Alvian kepada pemain belakang Ngada.

Melihat pelanggaran itu, beberapa pemain Ngada melakukan protes keras lalu mendorong Alvian hingga terjatuh di pinggir lapangan. Situasi nyaris tak terkontrol lagi meski Bupati Ende sempat mengamankan situasi.

Kubu PSN Ngada lalu memilih meninggalkan lapangan dan tidak lagi melanjutkan pertandingan. Hingga akhirnya inspektur pertandingan membacakan regulasi PSSI terkait hal tersebut.

"Jika salah satu tim meninggalkan lapangan sebelum pertandingan berakhir, sementara tim lain dalam posisi unggul, maka kekalahan tim ditambah dengan skor 3-0" kata inspektur pertandingan.

Tim Perse Ende ditetapkan sebagai juara oleh Asprov NTT dan Panitia Penyelenggara ETMC berdasarkan regulasi PSSI.

 

--- Guche Montero

Komentar