Breaking News

SENI BUDAYA Galang Partisipasi Masyarakat, Pemcam Wolowaru dan Panitia Gelar Lomba Kesenian Antar Desa 15 Aug 2019 13:24

Article image
Camat Wolowaru (tengah) saat berpose bersama Kelompok Paduan Suara dari Desa Mbuli Waralau. (Foto: Che)
"Nilai kebersamaan dan kerjasama harus menjadi pedoman dan referensi dasar di setiap kegiatan yang diselenggarakan," kata Camat Wolowaru.

ENDE, IndonesiaSatu.co-- Pemerintah kecamatan Wolowaru dan Seksi Kesenian Panitia Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) RI ke-74, Rabu (14/8/19) menggelar kegiatan Lomba Paduan Suara antar Desa/Kelurahan se-Kecamatan Wolowaru, Kabupaten Ende bertempat di Aula kantor Camat Wolowaru.

Dalam sambutannya, Camat Wolowaru mengatakan bahwa kegiatan lomba Paduan Suara tersebut merupakan salah satu dari rangkaian kegiatan dalam rangka memeriahkan HUT Kemerdekaan dengan tujuan mendorong partisipasi dan keterlibatan aktif masyarakat dari setiap desa dan kelurahan.

"Ini bukan semata soal menjadi juara dan mendapat hadiah, melainkan terutama bagaimana kita semua ikut berpartisipasi aktif, menjalin kebersamaan, bekerjasama secara sinergis dalam membangun daerah kita mulai dari desa/kelurahan dan kecamatan. Nilai kebersamaan dan kerjasama harus menjadi pedoman dan referensi dasar di setiap kegiatan yang diselenggarakan," kata Camat.

Mantan Camat Lio Timur ini menerangkan bahwa selain kegiatan Lomba Paduan Suara Antar Desa, sebelumnya juga digelar Karnaval kebangsaan, apel bersama memperingati HUT Pramuka ke-58, Sosialisasi BPJS serta wacana menggelar event Bursa Investasi pada tanggal 21-22 Agustus mendatang, dengan menghadirkan dan mendorong karya-karya inovatif masyarakat lokal dari masing-masing desa.

"Momen hari ini sekaligus merajut kembali suasana persaudaraan, kebersamaan dan komitmen bersama di antara kita serta bentuk dukungan kepada panitia penyelenggara yang telah menggagas mata lomba ini," kata Camat.

Penguatan Peran PKK dan Khazanah Budaya Daerah

Dikonfirmasi media ini, panitia Lomba mewajibkan para peserta Lomba Paduan Suara  untuk mengenakan pakaian adat khas Ende-Lio sebagai salah satu syarat penilaian dewan juri yakni Ibu Theresia Rosanti Say, Bapak Yohanes Lagadoni dan Aurel Vulcano.

Panitia Lomba menyiapkan dua lagu yakni lagu wajib Mars PKK dan lagu pilihan daerah Ende-Lio: 'Ie Bele Wea' dan 'Ende Keka Neku'.

Dilaporkan Panitia, ada 8 desa dan satu kelurahan yang mengambil bagian dalam Lomba tersebut dari 17 Desa dan satu kelurahan di kecamatan Wolowaru.

Pada kesempatan itu, Camat mengaku pihaknya bersama Panitia Lomba telah berkoordinasi secara intens dengan setiap kepala desa. Ia berjanji akan meminta klarifikasi dan pertanggungjawaban dari para kepala desa yang tidak ikut ambil bagian dalam lomba tersebut.

Sementara Ketua Tim PKK Kecamatan Wolowaru, Ny. Theresia Edo Manna mengatakan bahwa spirit PKK yakni melibatkan berbagai elemen guna Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga.

"Terima kasih kepada Panitia Lomba yang memilih Mars PKK sebagai lagu wajib. Pemberdayaan dan Kesejaahteraan Keluarga adalah tanggung jawab bersama semua pihak," ungkap Ny. Theresia.

Desa Wolokoli Juara Umum

Ibu Theresia Rosanti Say yang mewakili dewan juri, sebelum mengumumkan pemenang lomba mengatakan bahwa dewan juri menilai secara objektif sesuai kriteria penilaian lomba.

Desa Lisedetu berhasil merebut Juara 3 dengan perolehan nilai 846 dari dua lagu yang dilombakan.

Kelurahan Bokasape keluar sebagai Juara 2 dengan perolehan nilai 870.

Sementara Desa Wolokoli, keluar sebagai Juara Umum dengan perolehan 875.

Bagi pemenang lomba, hadiah dan penghargaan akan diserahkan pada tanggal 17 Agustus 2019. Sementara Desa Wolokoli sebagai Juara Umum dipercayakan tampil kembali pada perayaan puncak HUT RI.

"Selama proses latihan, kami selalu saling pengertian, mendukung, kompak, saling percaya dan kerjasama satu sama lain. Kami bangga dan puas dengan hasil ini berkat kerjasama kami semua dan dukungan pemerintah desa. Semoga ini terus menjadi motivasi bagi kami untuk tetap kompak dan bersatu," kesan Vinsen dan Ibu Lety mewakili Paduan Suara Desa Wolokoli usai lomba.

Menepis Stigma Negatif tentang Wolowaru

Disinggung soal pertandingan sepakbola antar desa/kelurahan yang sedianya dibuka hari ini, Kamis (15/8/19), Camat Wolowaru menegaskan bahwa pertandingan sepakbola ini sekaligus menepis stigma buruk di kecamatan Wolowaru setiap kali penyelenggaraan pertandingan berakhir ricuh.

"Diharapkan agar pertandingan tahun ini dapat menepis semua stigma buruk setiap kali turnamen yang berujung ricuh. Mari kita menepis semua isu dan sentimen (ego) dan menjadikan olahraga sebagai wahana kebersamaan, persaudaraan dan kekeluargaan. Sportifitas harus dijunjung," harap Camat.

Camat juga berkomitmen bahwa tahun ini menjadi jaminan untuk even-even besar di tahun-tahun selanjutnya dengan melibatkan segenap komponen termasuk para pelajar dari setiap sekolah.

Guna mendukung hal itu, Camat menegaskan bahwa pihaknya telah bertemu dengan segenap kepala desa/lurah dan telah membuat Surat Pernyataan Bersama (SPB) termasuk sanksi bagi Tim (desa/kelurahan) yang membuat keributan selama kegiatan ini diselenggarakan.

"Diharapkan agar semua pihak berkomitmen dan mendukung segala bentuk kegiatan yang diinisiasi oleh Panitia. Karena sudah ada SPB, maka tentu ada sanksi. Pada intinya, sportifitas harus selalu dijunjung," tandas Camat.

Camat juga memberikan apresiasi kepada awak media yang turut mendukung setiap kegiatan.

"Terima kasih kepada para jurnalis yang terus berperan sebagai saluran informasi, aspirasi dan sumbangsih riil. Diharapkan agar kerjasama ini terus terjalin sebagai mitra strategis-kritis dalam mendukung program-program pemerintah dari tingkat desa/kelurahan, kecamatan hingga kabupaten," pungkas Camat.


--- Guche Montero

Komentar