Breaking News
  • BI Sudah Habiskan Rp 11 T untuk Kuatkan Rupiah
  • Gempa 7,8 SR Guncang Fiji
  • Kemensos: Bansos Saja Tak Cukup Tangani Kemiskinan
  • Resmi! Pendaftaran CPNS 2018 Dibuka 19 September
  • Wadahi Mahasiswa yang Suka Piknik, Kemenpar Resmikan GenPI UBM

BERITA Gelar Deklarasi #Kita_Indonesia, PMKRI: Persatuan Sebagai Anugerah 18 Oct 2018 09:49

Article image
Pengurus Pusat dan DPC PMKRI Cabang Malang saat Seminar Kebangsaan (Foto: Dok. PMKRI)
Perbedaan harus dirayakan, kemanusiaan harus dijunjung tinggi, dan persatuanlah yang menjembatani semua itu. Di atas segalanya, persatuan Indonesia harus kita syukuri sebagai anugerah yang harus dilestarikan," tandas Rinto.

MALANG, IndonesiaSatu.co-- Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) kembali menggelar deklarasi #Kita_Indonesia dengan mengusung tema "Merawat Persatuan Indonesia" bertempat di lokasi Car Free Day, Ijen, Kota Malang.

Kegiatan yang menghimpun massa 500-an orang itu bertujuan untuk merespon isu bermuatan Suku, Agama, Ras, dan Antar golongan (SARA) menjelang pemilihan presiden (pilpres) 2019 mendatang. 

"Tidak dapat dipungkiri bahwa isu SARA menjadi komoditas politik dan dampak kerusakan sosialnya sangat terasa di akar rumput. Tujuan kita dengan kegiatan deklarasi ini yakni agar semangat persatuan tetap terjaga meski di sana-sini banyak yang ingin mengoyak bingkai keindonesiaan kita dengan SARA," ungkap Rinto Namang selaku Presidium Gerakan Kemasyarakatan Pengurus Pusat PMKRI seperti dilansir laman resmi PP PMKRI, Verbivora.com, Rabu (17/10/18). 

Rinto menegaskan bahwa PMKRI akan selalu konsern pada isu persatuan Indonesia dan komit untuk memerangi isu SARA. 

"Sebagai organisasi mahasiswa yang memiliki daya kritis, sudah menjadi tugas kita untuk menjaga persatuan bangsa dan memupuk toleransi antar-sesama anak bangsa. momentum harusnya dirayakan dengan sukacita bukan pertentangan dan kebencian," imbuhnya. 

Lulusan Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara Jakarta itu menambahkan bahwa memilih pemimpin memang penting untuk periodisasi 5 tahunan, tetapi yang jauh lebih penting adalah menjaga Indonesia agar tetap lestari dengan tetap merawat persatuan dan bingkai NKRI.

”Perbedaan pandangan jangan sampai mencederai nilai-nilai kemanusiaan dan kebangsaan. Perbedaan harus dirayakan, kemanusiaan harus dijunjung tinggi, dan persatuanlah yang menjembatani semua itu. Mari kita bersama-sama merawat tenun kebangsaan, sebab Indonesia jauh lebih utama dari segala perbedaan. Di atas segalanya, persatuan Indonesia harus kita syukuri sebagai anugerah yang harus dilestarikan," tandasnya.

Hal senada diungkapkan Ketua Presidium PMKRI Cabang Malang, Rosalia Koniyati Bayo. Menurutnya, perbedaan dan kemajemukan merupakan kenyataan yang justru membentuk kepribadian dan persatuan bangsa

"Fenomena politik cenderung membelah masyarakat menjadi kami dan mereka, mayoritas dan minoritas, pribumi dan pendatang. Padahal, sejatinya perbedaan dan kemajemukan itu adalah kenyataan yang justru membentuk kepribadian kita sebagai bangsa Indonesia," kata Koniyati.

Ia menilai bahwa fenomena politik yang sangat rentan memuat isu SARA, jika tidak disikapi secara serius pada gilirannya akan menimbulkan konflik horizontal yang berujung pada perpecahan dan kehancuran bangsa.

"Jika perbedaan dipandang sebagai masalah, maka kita sedang berjalan menuju pada kehancuran bangsa. Maka seluruh elemen bangsa perlu terlibat secara nyata untuk bersama-sama merawat dan meneguhkan persatuan bangsa dengan menerima perbedaan dan keragaman sebagai sebuah keniscayaan yang ada di Indonesia," kata lulusan Akademi Kebidanan Wira Husada Nusantara Malang ini.

Dalam kegiatan deklarasi tersebut, Pengurus Pusat dan DPC PMKRI Cabang Malang juga menggelar aneka kegiatan di antaranya Seminar Kebangsaan bertempat di Aula Universitas Islam Negeri (UIN) Malang, jalan sehat dari Taman Makam Pahlawan Kota Malang menuju Simpang Balapan, pentas budaya daerah, live music, pembacaan puisi, catwalk busana adat, serta pementasan tarian daerah.

Hadir sebagai narasumber pada seminar kebangsaan dia antaranta  H. Dewanti Rumpoko, Rektor Universitas Brawijaya, Nuhfil Hanani, Guru Besar Universitas Merdeka Malang, Prof. Dr. Aloysius R. Entah, Ketua FKUB Kota Malang, H. Ahmad Taufik Kusuma, Ketua Kategorial Kemasyarakatan Keuskupan Malang, Romo D. M. T. Andy Wibiwo, serta Ketua Gusdurian Malang, Rio Ardin Armandha Putra selaku moderator.

--- Guche Montero

Komentar