Breaking News

POLITIK Gerindra: Pertemuan Megawati-Prabowo Turunkan Polarisasi di Masyarakat 24 Jul 2019 10:21

Article image
Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto. (Foto: Ist)
Andre berharap Presiden Joko Widodo juga bisa hadir dalam pertemuan itu, sehingga dapat menurunkan polarisasi di masyarakat.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co -- Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri tidak akan membahas posisi Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR).

"Ini merupakan silaturahmi kebangsaan saja, yang dilakukan dua tokoh bangsa," kata anggota Badan Komunikasi Partai Gerindra, Andre Rosiade di Jakarta, Rabu, (24/7/2019).

Pertemuan antara Megawati Soekarnoputri dengan Prabowo Subianto itu direncanakan digelar di Jalan Teuku Umar. Andre mengatakan keinginan Gerindra untuk menduduki posisi ketua MPR tidak dibahas mengingat perolehan suara Gerindra dalam Pileg 2019 berada di urutan kedua.

Andre berharap Presiden Joko Widodo juga bisa hadir dalam pertemuan itu, sehingga dapat menurunkan polarisasi di masyarakat.

"Harapannya kalau pertemuan itu terwujud, Indonesia semakin guyub, polarisasi semakin menurun, dan juga kebersamaan kita sebagai anak bangsa dan NKRI," kata Andre.

Andre mengatakan Rapat Dewan Pembina Gerindra pekan lalu memberikan kewenangan seluas-luasnya kepada Prabowo untuk memutuskan sikap politik partai sesuai Anggaran Dasar/ Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) partai. Karena itu tinggal tergantung Prabowo untuk memutuskan dan mengumumkan sikap politik Partai Gerindra ke depan.

“Semua kader partai akan mendukung keputusan tersebut.”

Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno, mengatakan pertemuan para Ketua Umum Partai pendukung Joko Widodo dengan Surya Paloh, pekan lalu,  plus rencana persamuhan antara Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto bukan tanpa kebetulan.

"Ini tanda-tanda ada dinamika internal di koalisi Jokowi soal perkembangan politik mutakhir, misalnya soal kemungkinan Gerindra merapat, posisi ketua MPR, dan seterusnya," ujar Adi. 

Pertemuan dua ketua umum partai besar yang berhadap-hadapan dalam Pemilihan Presiden atau Pilpres ini, kata Adi, dinilai sebagai bagian dari bicara politik kenegaraan soal kemungkinan apa yang bisa disinergikan antara Gerindra dengan pemerintah.

"Kawin silang visi atau politik akomodatif," pungkasnya. 

--- Redem Kono

Komentar