Breaking News
  • BI Sudah Habiskan Rp 11 T untuk Kuatkan Rupiah
  • Gempa 7,8 SR Guncang Fiji
  • Kemensos: Bansos Saja Tak Cukup Tangani Kemiskinan
  • Resmi! Pendaftaran CPNS 2018 Dibuka 19 September
  • Wadahi Mahasiswa yang Suka Piknik, Kemenpar Resmikan GenPI UBM

EKONOMI Globalisasi, Antara Ancaman dan Kesempatan 10 Jul 2018 12:07

Article image
Wamenkeu Mardiasmo memberikan keynote speech dalam acara Hadi Soesastro Policy Forum 2018 on Joining Global Production Networks di CSIS Auditorium Pakarti Centre Building, Jakarta (09/07). (Foto: ist)
"Kepentingan politik berulang kali mengganggu dan menggunakan ketidakpuasan ini untuk menyangkal manfaat dari globalisasi dan dengan panik mengarah ke kebijakan-kebijakan berbahaya yang berwawasan ke dalam yang dapat menciptakan kerusakan yang lebih be

JAKARTA, IndonesiaSatu.co -- Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Mardiasmo  mengatakan proses globalisasi telah menciptakan suatu sistem yang sangat kompleks, dinamis, dan saling terkait. Ketidakpuasan terhadap globalisasi  datang dalam kekuatan besar terutama disebabkan oleh perbedaan pendapatan dan kurangnya tingkat lapangan pekerjaan.

"Sayangnya, kepentingan politik  berulang kali mengganggu dan menggunakan ketidakpuasan ini untuk menyangkal manfaat dari globalisasi dan dengan panik mengarah ke  kebijakan-kebijakan berbahaya yang berwawasan ke dalam yang dapat menciptakan kerusakan yang lebih besar. Situasi ini dapat menyebabkan perang dagang yang hanya akan menghambat pengembangan pemulihan global," ujarnya.

Hal tersebut disampaikan Wamenkeu dalam keynote speechnya pada acara Hadi Soesastro Policy Forum 2018 on Joining Global Production Networks: Has Indonesia Missed The Boat and Book Launch on Indonesia in The New World: Globalization, Nationalism and Sovereignty.

Acara tersebut diselenggarakan oleh Centre for Strategic and International Studies (CSIS) bekerjasama dengan Australian National University (ANU) bertempat di CSIS Auditorium Pakarti Centre Building, Jakarta pada Senin (09/07).

Ia menambahkan, Indonesia adalah negara terbuka dan mendukung globalisasi yang akan memberikan keuntungan bersama. Namun, dalam proses globalisasi, ada kesenjangan kapasitas antara berbagai kelompok. Oleh karena itu, tidak mungkin menerapkan globalisasi murni karena mempertimbangkan mandat konstitusional bagi pemerintah untuk menjaga kesetaraan, integritas dan kedaulatan.

"Tujuan kemitraan adalah mencari solusi win-win. Ini bukan permainan zero-sum. Indonesia percaya bahwa interaksi global mengarah pada saling menguntungkan, perdamaian dan keadilan. Kami menentang tindakan tidak adil yang hanya akan menciptakan kerusakan ekonomi global seperti yang telah ditampilkan oleh beberapa ekonomi besar baru-baru ini," tegasnya.

Ia menambahkan, dunia yang terintegrasi dan keterbukaan telah  menciptakan peluang bagi negara melalui perdagangan, spesialisasi, teknologi, dan penyebaran pengetahuan. Faktor-faktor ini berkontribusi dalam meningkatkan produktivitas, pertumbuhan, kemakmuran negara dan rakyatnya.

"Data menyatakan bahwa, misalnya, satu dekade sebelum krisis keuangan global ketika integrasi perdagangan meningkat, pertumbuhan volume perdagangan bisa mencapai 6,9 persen dan pertumbuhan PDB global mencapai rata-rata 4,3 persen. Namun, setelah krisis keuangan global di mana intensitas perdagangan cenderung datar bahkan melambat, pertumbuhan perdagangan global telah menurun lebih dari setengah dan pertumbuhan PDB turun di bawah 3 persen," pungkasnya.

--- Sandy Romualdus

Komentar