Breaking News
  • BI Sudah Habiskan Rp 11 T untuk Kuatkan Rupiah
  • Gempa 7,8 SR Guncang Fiji
  • Kemensos: Bansos Saja Tak Cukup Tangani Kemiskinan
  • Resmi! Pendaftaran CPNS 2018 Dibuka 19 September
  • Wadahi Mahasiswa yang Suka Piknik, Kemenpar Resmikan GenPI UBM

EKONOMI Gubernur Bank Sentral Asia Timur – Pasifik Perkuat Koordinasi Kebijakan 07 Aug 2018 14:42

Article image
Pertemuan Gubernur Bank Sentral EMEAP di Manila, Filipina, pada 4-5 Agustus 2018. (Foto: ist)
EMEAP (Executives’ Meeting of East Asia and Pacific Central Banks) atau pertemuan eksekutif Bank Sentral Asia Timur dan Pasifik adalah forum kerja sama sebelas bank sentral dan otoritas moneter di wilayah Asia Timur dan Pasifik.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co -- Gubernur Bank Sentral yang tergabung dalam EMEAP menyepakati penguatan koordinasi kebijakan dalam menghadapi tekanan eksternal dari globalisasi. Demikian hasil pertemuan Gubernur Bank Sentral EMEAP di Manila, Filipina, pada 4-5 Agustus 2018.

EMEAP (Executives’ Meeting of East Asia and Pacific Central Banks) atau pertemuan eksekutif Bank Sentral Asia Timur dan Pasifik adalah forum kerja sama sebelas bank sentral dan otoritas moneter di wilayah Asia Timur dan Pasifik.

Keanggotaan meliputi the Reserve Bank of Australia, the People’s Bank of China, the Hong Kong Monetary Authority, Bank Indonesia, the Bank of Japan, the Bank of Korea, Bank Negara Malaysia, the Reserve Bank of New Zealand, Bangko Sentral ng Pilipinas, the Monetary Authority of Singapore, and the Bank of Thailand.

Dalam pertemuan tersebut, Gubernur Bank Sentral menegaskan kembali pentingnya EMEAP sebagai wadah komunikasi dan diskusi terkait perumusan kebijakan Bank Sentral guna memperkuat ketahanan ekonomi dan keuangan di kawasan.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo dalam pertemuan tersebut menggarisbawahi langkah yang dapat ditempuh Bank Sentral dalam menghadapi ketidakpastian global.

“Pertama, bauran kebijakan moneter dan makroprudensial dalam menghadapi tekanan akibat ketidakpastian global. Kedua, koordinasi dan komunikasi kebijakan, termasuk penguatan kerjasama di antara Bank Sentral di kawasan. Terakhir, regulasi dan supervisi financial technology, termasuk dimensi lintas batas antar yuridiksi, agar tidak menyebabkan merebaknya shadow banking yang merupakan sumber risiko baru,” ungkap Agusman, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI di Jakarta, Selasa (7/8/2018).

Para Gubernur Bank Sentral juga mendiskusikan perkembangan terkini Komite Stabilitas Moneter dan Keuangan (Monetary and Financial Stability Committee – MFSC) yang meliputi kegiatan pengawasan (surveillance), kegiatan riset, dan kerangka manajemen krisis regional.

Selain itu, pertemuan juga mendiskusikan kemajuan pelaksanaan berbagai inisiatif dan aktivitas EMEAP yang terkait stabilitas moneter dan sistem keuangan, pengawasan perbankan, pasar keuangan, sistem pembayaran dan setelmen, termasuk area financial technology, serta teknologi informasi.

--- Sandy Romualdus

Komentar