Breaking News
  • BI Sudah Habiskan Rp 11 T untuk Kuatkan Rupiah
  • Gempa 7,8 SR Guncang Fiji
  • Kemensos: Bansos Saja Tak Cukup Tangani Kemiskinan
  • Resmi! Pendaftaran CPNS 2018 Dibuka 19 September
  • Wadahi Mahasiswa yang Suka Piknik, Kemenpar Resmikan GenPI UBM

REGIONAL Gubernur NTT: Kita Harus Bangga Memiliki Indonesia 23 Oct 2018 07:10

Article image
Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (Foto: Ist)
“Mengatasi egoisme dan menerima perbedaan. Saya tertarik dengan ungkapan Latin; ‘Ci Vis Pacem Para Bellum’ yang artinya ‘kalau mau damai, siaplah untuk berperang.’ Dalam konteks membangun perdamaian berarti mampu memerangi diri," ujar Gubernur NTT.

KUPANG, IndonesiaSatu.co-- Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Viktor Bungtilu Laiskodat, mengatakan bahwa setiap warga negara harusnya bangga memiliki Indonesia, karena menurutnya tidak ada di dunia ini seperti Indonesia yang memiliki suatu kesatuan wilayah, hukum dan politik.

"Aneh rasanya kalau hari ini ada yang berpikir untuk memulai suatu kesatuan eksklusif dengan pendekatan agama, suku, ras dan bangsa. Republik ini tidak punya mayoritas dalam segala hal. Kalaupun ada agama mayoritas, ujung-ujungnya juga ada perbedaan suku, ras dan warna kulit," ungkap Gubernur saat memberikan sambutan pada kegiatan Sekolah Perdamaian dengan agenda Mengunjungi Situs Agama Lokal dan Mondial di Aula Universitas Kristen Artha Wacana Kupang (UKAW), Kupang, Kamis (18/10/18).

Gubernur pun menyampaikan bahwa perdamaian hanya bisa terwujud jika setiap orang mampu memerangi diri sendiri.

“Mengatasi egoisme dan menerima perbedaan. Saya tertarik dengan ungkapan Latin; ‘Ci Vis Pacem Para Bellum’ yang artinya ‘kalau mau damai, siaplah untuk berperang.’ Dalam konteks membangun perdamaian berarti mampu memerangi diri," ujarnya

Menurut Viktor, perang terhadap diri berarti berhenti mencintai diri sendiri secara luar biasa serta memulai mencintai orang lain dan Tuhan yang diimani. Hanya dengan ini, perdamaian akan terwujud.

"Kalau tidak kita lakukan, kita masuk dalam sebuah ego. Saya punya yang benar,kamu salah; kamu benar, mereka salah. Kita pun masuk dalam suatu pertikaian hebat. Bagi saya, menerima perbedaan berarti hadir dalam komunitas yang bukan dirimu, tetapi sangat rileks dan tidak ada masalah," jelas Viktor.

Ia menilai bahwa konteks keberagaman telah dinyatakan secara jelas dalam pernyataan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.

“Para pemuda ini punya komitmen yang luar biasa dan menembus segala macam perbedaan. Dalam keberagaman dan perbedaan, mereka saling menerima dan memberi untuk menjadi satu kesatuan, Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ini adalah suatu keajaiban besar dari Tuhan Yang Maha Esa, Allah Subhanahu Wa Ta'ala, Sang Hyang Widhi. Jadi, sebagai warga negara yang sadar betul, kita diberi suatu negara yang luar biasa,”nilainya.

Mantan Ketua Fraksi Partai Nasdem DPR RI itu juga mengungkapkan bahwa dirinya tidak akan terlena saat dipuji oleh orang.

“Pujian yang didapat tentu akan membuat kita akan tertidur lama dan terjatuh selamanya. Karena itu, jika orang memuji saya, maka saya akan hati-hati. Saya justru senang dikritik, karena setiap kritik yang yang membangun ibarat obat yang mujarab. Saya bingung kalau sesama kita saling mengkritik lalu kita ribut. Kritikan yang diberikan dari sahabat atau teman, selama kritik itu membangun, tentu akan menjadi obat," pungkasnya.

--- Guche Montero

Komentar