Breaking News
  • Bekasi siapkan 1000 polisi kawal buruh pada May Day
  • Bupati Mojokerto ditetapkan tersangka suap dan gratifikasi
  • Evakuasi pesawat Lion belum selesai, bandara Gorontalo masih ditutup
  • INKA Mulai Kirim "LRT" ke Sumatera Selatan
  • Jokowi Akan Jajaki Ruas Jalan Trans Papua-Papua Barat

SOSOK Gus Mus Raih Penghargaan Yap Thiam Hien Award 2017 25 Jan 2018 03:03

Article image
K.H Ahmad Mustofa Bisri atau akrab disapa Gus Mus Saat Menerima Penghargaan Yap Thiam Hien Award 2018 (Foto: Kompas.com)
“Meski lebih dikenal sebagai tokoh Nadhatul Ulama (NU), Kiai, Pimpinan pondok pesantren, dan budayawan, namun bagi saya, Gus Mus dengan semua karyanya, dengan semua sepak terjangnya, keterlibatannya, adalah seorang pejuang Hak Asasi Manusia,” ungkap Ketu

JAKARTA, IndonesiaSatu.co-- Yayasan Yap Thiam Hien memberikan penghargaan pejuang Hak Asasi Manusia (HAM), Yap Thiam Hien Award 2017 kepada K.H Ahmad Mustofa Bisri atau akrab disapa Gus Mus pada malam penganugerahan yang berlangsung di Aula Perpustakaan Nasional, Jakarta Pusat, Rabu (24/1/18).

Yap Thiam Hien award merupakan penghargaan yang diberikan kepada orang-orang yang berjasa besar dalam upaya penegakan HAM di Indonesia. Nama penghargaan ini diambil dari nama pengacara dan pejuang HAM, Yap Thiam Hien. Proses penentuan peraih Yap Thiam Hien Award 2017 diawali dengan mengumpulkan kandidat yang dihimpun dari jaringan/komunitas dan masyarakat luas sejak Mei 2017. 

Gus Mus yang juga Tokoh Nahdlatul Ulama (NU) dan Kiai pengasuh pondok pesantren Raudlatut Tholibin, Rembang itu dinilai sebagai sosok ulama yang memiliki keteguhan dalam membangun moralitas kemanusiaan di tengah bangsa yang beragam.

Dalam sambutannya, Ketua Yayasan Yap Thiam Hien, Todung Mulya Lubis, menyebut Gus Mus sebagi sosok Kiai sekaligus pejuang dalam menjaga keharmonisam sosial.

"Gus Mus selalu menghormati setiap manusia yang memiliki keyakinan dan agama. Beliau telah banyak berkontribusi untuk merawat keberagaman di Indonesia. Perjuangan Beliau memang tidak diperlihatkan melalui demonstrasi atau aksi-aksi lainnya. Namun, Beliau menorehkan pemikiran dan gagasannya soal keberagaman lewat tulisan serta tutur kata yang ia sampaikan ke seluruh santrinya,” ungkap Todung dilansir Kompas.com.

Todung juga menyebut Gus Mus sebagai sosok yang teduh dalam memperjuangkan keberagaman lewat tulisan puisi yang disalurkan ke para santrinya dan masyarakat.

“Meski lebih dikenal sebagai tokoh Nadhatul Ulama (NU), Kiai, Pimpinan pondok pesantren, dan budayawan, namun bagi saya, Gus Mus dengan semua karyanya, dengan semua sepak terjangnya, keterlibatannya, adalah seorang pejuang Hak Asasi Manusia,” lanjutnya.

Ia menilai, saat ini masyarakat sangat membutuhkan sosok seperti Gus Mus di tengah menguatnya paham radikalisme dan sektarianisme. Menurutnya, kedua paham tersebut sangat mengganggu situasi masyarakat yang beragam dan majemuk.

"Kita sangat butuh sosok yang kuat, konsisten dan jujur seperti Gus Mus. Beliau tidak ikhlas jika kemajemukan dicabik oleh ideologi yang anti-kemajemukan dan dirusak oleh kelompok-kelompok tertentu. Beliau adalah sang pejuang keberagaman,” sebut Todung

Tercatat, Gus Mus merupakan ulama pertama yang menerima penghargaan Yap Thiam Hien.

Menurut Todung, terpilihnya Gus Mus juga mempertimbangkan konteks politik Indonesia kekinian. Kondisi di mana agama kerap dijadikan alat politik untuk meraih kekuasaan. 

"Ini memang pertama kali ulama menerima Yap Thiam Hien Award. Ia tidak suka melihat agama dipolitisasi, dijadikan alat politik," tandasnya.

Ada 5 orang dewan juri Yap Thiam Hien Award pada tahun ini. Mereka adalah Makarim Wibisono (diplomat senior), Siti Musdah Mulia (Ketua Umum ICRP), Yoseph Stanley Adi Prasetyo (Ketua Dewan Pers), Zumrotin K Susilo (aktivis perempuan dan anak) serta Todung Mulya Lubis.

Dalam acara penganugerahan tersebut hadir Menteri Yasonna Laoly, Menteri Susi Pudjiastuti, Wakil Ketua KPK, Laode M. Syarief; Komisioner Komnas HAM, Beka Hapsara dan Wakil Ketua Komisi Yudisial Sukma Violetta.

--- Guche Montero

Komentar