Breaking News
  • BI: penurunan suku bunga mendorong intermediasi perbankan
  • BI: penurunan suku bunga sudah perhitungkan FFR
  • Perusahaan China bidik sejumlah proyek infrastruktur di Indonesia
  • Petambak Lombok berpenghasilan Rp20 juta per bulan
  • Tiga BUMN kembangkan pelabuhan dukung Tol Laut

TOKOH Habibie: Perjuangkan SDM Indonesia Tanpa Kompromi! 23 Jul 2016 22:01

Article image
BJ Habibie. (Foto: Ist)
Keunggulan bisa diraih kalau tenaga kerja di dalam negeri diberi kesempatan kerja yang luas.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co -- PRESIDEN ketiga RI, BJ Habibie mengatakan, Indonesia ke depan harus mengandalkan pada kualitas sumber daya manusia (SDM), bukan pada kekayaan sumber daya alam (SDA). Sejarah membuktikan bahwa negara yang mengandalkan pembangunan pada sumber daya alam, seperti pertambangan, dan energi akan menjadi negara bangkrut. Namun, pembangunan SDM akan membuat sebuah bangsa memiliki daya saing dan produktivitas yang tinggi.

Karena itu, Habibie meminta pemerintah untuk memprioritaskan tenaga kerja, atau sumber daya manusia di dalam negeri dan membatasi tenaga kerja asing. Prioritas dan perlindungan terhadap tenaga kerja di dalam negeri juga dilakukan oleh negara-negara lain.

“Salah kalau kita mendatangkan tenaga kerja asing. Penggunaan tenaga kerja tergantung pada kita sendiri. Ini rumah kita. Pesan saya agar harus perjuangkan para SDM di bumi Indonesia, at all cost, tidak ada kompromi!,”ujar Habibie pada acara Halal  Bihalal Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI), Pusat Studi Jepang, Kampus UI Depok, Sabtu (23/7).

Habibie mengatakan, sejarah membuktikan bahwa negera di Timur Tengah jatuh karena menggantungkan hidupnya pada minyak. Demikian juga Indonesia pada masa Orde Baru yang bergantung pada minyak bumi. Beda dengan Jerman yang mengandalkan SDM.

Menurut Habibie, kekayaan SDA baru memiliki arti jika didukung oleh SDM yang berkualitas. Kualitas SDM, kata Habibie, akan meningkatkan daya saing, yang pada akhirnya bisa meningkatkan produktivitas.

Habibie mengatakan, produktivitas dibangun melalui tiga pilar yaitu, budaya, agama, dan ilmu pengetahuan. “Indonesia harus kedepankan SDM. Masyarakat pluralistik seperti Indonesia harus bisa melakukan sinergi dengan baik dan mewarisi nilai penting untuk meningkatkan produktivitas. Jika itu dilakukan maka kita akan menjadi bangsa unggul,”ujar Habibie.

Namun, keunggulan itu bisa diraih kalau tenaga kerja di dalam negeri diberi kesempatan kerja yang luas. “Oleh karena itu, pekerja jangan diimpor,” ujarnya.

Kemandirian, Kemerdekaan, dan Kebebasan

Untuk meningkatkan daya saing, pendidikan saja tidak cukup. Habibie mengatakan, daya saing memprasyaratkan adanya kemandirian, kemerdekaan, dan kebebasan.

Kemandirian yang dimaksudkan Habibie yaitu melepaskan ketergantungan pada barang impor. Indonesia harus bisa mengusahakan dan memenuhi kebutuhannya dari dalam negeri. Produksi pesawat CN-250 yang dirintisnya, kata Habibie, dimaksudkan untuk menciptakan kemandirian dalam bidang kedirgantaraan. Habibie mengatakan, ia prihatin dengan maraknya impor, termasuk impor pesawat.

“Kalau dalam lima tahun tidak ada perbaikan dalam dirgantara, maka sampai kiamat kita tidak akan bisa mandiri dan harus impor. Padahal, impor sangat mahal,” ujar Habibie.  

Sedangkan kemerdekaan dan kebebasan terkait sikap untuk menentukan kebijakan yang paling tepat bagi bangsanya, bukannya didikte oleh orang atau bangsa lain. “Kalau mau tingkatkan daya saing, bukan hanya pendidikan, tetapi juga harus memiliki kemerdekaan dan kebebasan,” tambahnya.

Habibie juga mengritik sikap pemerintah yang memilih mekanisme pengampunan pajak (tax amnesty) untuk menutupi defisit APBN. Menurutnya, hal paling penting yang harus dilakukan pemerintah untuk meningkatkan penerimaan pajak yaitu dengan menciptakan lapangan kerja.

“Apa gunanya mengambil pajak dari seseorang yang bekerja? Lantas bagaimana dengan yang 'nganggur? Tax amnesty itu hanya untuk kepentingan jangka pendek,”ujarnya.

 

--- Very Herdiman

Komentar