Breaking News
  • Bekasi siapkan 1000 polisi kawal buruh pada May Day
  • Bupati Mojokerto ditetapkan tersangka suap dan gratifikasi
  • Evakuasi pesawat Lion belum selesai, bandara Gorontalo masih ditutup
  • INKA Mulai Kirim "LRT" ke Sumatera Selatan
  • Jokowi Akan Jajaki Ruas Jalan Trans Papua-Papua Barat

KULINER Hadir di UFF Internasional 2018, RMC Detusoko Angkat Potensi Lokal 21 Apr 2018 10:22

Article image
Founder RMC Detusoko, Nando (kiri) saat Berbicara pada Event UFF 2018 di Bali (Foto: Nando)
"Pada prinsipnya, petani juga bisa go global jika mampu mengangkat aneka potensi di desa ke pentas global melalui inovasi dan kreasi,” ungkap Nando.

BALI, IndonesiaSatu.co-- Event Internasional, Ubud Food Festival (UFF) tahun 2018 yang diselenggarakan di Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali sejak 13-15 April 2018 lalu menghadirkan sejumlah pegiat dan pelaku industri lokal dan internasional.

Pada kegiatan yang mengangkat tema “Generasi Inovasi” tersebut, salah satu komunitas kreatif dan inovasi kawula muda kabupaten Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Remaja mandiri Community (RMC) Detusoko diundang hadir.

Sesuai rilis yang diterima media ini, Jumat (20/4/18), Nando Watu dan Eka Kopo yang mewakili RMC Detusoko dan Sekolah Seniman Pangan (SSP) Flores mengungkapkan bahwa keduanya mendapat kesempatan untuk berbagi pengalaman dan aktivitas RMC yang mengangkat tentang potensi lokal di desa dan gerakan kawula muda melalui RMC.

“Pada event tersebut, kami diberi kesempatan menceritakan kehidupan para petani di desa, potensi lokal yang dimiliki serta gerakan kawula muda dalam menangkap setiap peluang investasi masa depan melalui kearifan lokal yang ada. Pada prinsipnya, petani juga bisa go global jika mampu mengangkat aneka potensi di desa ke pentas global melalui inovasi dan kreasi,” ungkap Nando yang juga founder RMC Detusoko.

Aktivis PMKRI Cabang Maumere ini mengaku bangga dan bersyukur bisa diundang untuk mengikuti event berskala internasional tersebut melalui SSP UFF dan RMC Detusoko, sehingga event tersebut dijadikan kesempatan untuk bertukar pengalaman dengan ratusan peserta dari berbagai daerah bahkan manca-negara.

“Kami mensyeringkan apa yang selama ini sudah diwujudkan dalam bentuk aksi nyata oleh RMC Detusoko. Apa yang telah dijalankan oleh RMC Detusoko merupakan sebuah gerakan kawula muda untuk kembali ke kampung, mengenal dan belajar mengolah produk-produk lokal, menangkap peluang pariwisata melalui eco-wisata berbasis kearifan lokal dan pertanian (agriculture) serta konsep kewirausahaan berkelanjutan dengan menjadikan kawula muda sebagai inovator dan pelaku utama,” terang alumni STFK Ledalero ini saat berbicara di hadapan ratusan peserta UFF pada sesi inovating from the Ground-Up di Taman kuliner Ubud.

Sementara Eka Kopo, penggerak RMC yang mengaku memilih tinggal di kampung dan mengembangkan potensi di desa melalui SSP Flores ini, juga mensyaringkan tentang produk lokal di desa yang memiliki kualitas produk premium berbasis komoditas yang dapat masuk ke dalam market global.

“Sejauh ini RMC Detusoko sudah menghasilkan beberapa jenis product marketable, hasil dari komoditi lokal yang sudah diolah dan sudah siap dijual seperti Kopi Robusta Detusoko, peanut Butter, Korodagalai Sauce, Moni marmalade dan Flores chili,” ungkap Eka Kopo.

Destinasi wisata

Pada kesempatan itu, Nando juga menjelaskan tentang Detusoko yang memiliki potensi destinasi wisata selain Danau Kelimutu.

“Detusoko adalah sebuah desa yang saat ini tengah disiapkan menjadi salah satu destinasi wisata karena letaknya yang strategis dengan objek wisata Danau Kelimutu. Ada banyak potensi wisata yang bisa dieksplore dan dapat menyuguhkan berbagai keunikan dan kekhasan lokal serta akses yang mudah dijangkau dari pusat kota Ende, sekitar 30-40 menit,” bebernya.

Pegiat wisata ini melanjutkan, RMC Detusoko ingin menyuguhkan pengalaman berbeda bagi para wisatawan saat mengunjungi Detusoko terutama hal-hal yang bersifat natural dan lokal.

“RMC ingin mengangkat sesuatu bersifat lokal dan unik dari wilayah Ende-Lio, misalnya aneka olahan pangan lokal, atraksi hidup harian masyarakat, interaksi langsung antara wisatawan dengan warga serta kearifan lokal yang ada. Konsep wisata harus bisa menyentuh kehidupan sosial masyarakat, menciptakan pemahaman (cultural understanding) serta menghasilkan gairah wisata bagi semua kalangan. Sejauh ini, hanya objek wisata yang dijual, sementara dampak sosial bagi masyarakat di sekitar daerah wisata sangat minim bahkan menjadi penonton,” kesannya.

Sementara Eka menambahkan bahwa guna mendorong potensi desa, SSP yang merupakan program dari Javara Academy, memberikan ruang untuk menciptakan berbagai hasil olahan produk berbasis pertanian dari Detusoko sehingga menjadi oleh khas bagi para wisatawan sekaligus memberi kesempatan bagi wisatawan untuk mengenal aneka olahan produk pertanian.

“Selain memperkenalkan kearifan lokal, berbagai potensi komoditi juga diolah dengan citarasa lokal. Prinsipnya, harus ada kesan dan pengalaman unik dari para wisatawan selain menikmati objek wisata yang ada. Pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism) harus bisa menyentuh masyarakat lokal,” tambah Eka.

Hadir sebagai pembicara dalam sesi ground up inovation founder Javara, Ibu Helianti Hilman dan penanggungjawab utama SSP, Dhimas Utomo dan Corazon Nikizulu. Adapun peserta kegiatan selain dari SSP Flores hadir pula SSP Papua, Papua Jungle Chef, Martinus Yesaya dan Glorio Anselmo Ledang.

Sementara ribuan pengunjung yang ikut dalam UFF 2018 meliputi 100 koki dari Indonesia dan luar negeri, para pembicara dalam workshop, para petani, peneliti, barista serta para pelaku industri kuliner.

Selain presentasi materi, rangkaian acara juga menyajikan demo masak, seminar, tur kuliner, workshop, pasar makanan serta diselingi pertunjukan musik, pemutaran film dan yoga bersama.

--- Guche Montero

Komentar